by

Cerita Anak Muda Kalbar Ikut Tepelima, Makin Tertarik Pada Isu Keberagaman

Kabar Damai I Kamis, 10 Juni 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Komitmen menciptakan ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang inklusif menjadi konsistensi beberapa organisasi dan komunitas keberagaman di Kalbar guna menyelenggarakan kegiatan Temu Pemuda Lintas Iman. Kegiatan ini sudah ada sejak tahun 2018 dan terus berlangsung setiap tahunnya hingga kini. Tepelima telah memasuki angkatan ke-tiga yang mana semuanya disusun dan dilaksanakan oleh anak-anak muda.

Setidaknya, ada beberapa organisasi dan komunitas yang dengan penuh daya dan kesadaran menyelenggarakan Tepelima, yaitu Satu Dalam Perbedaan (SADAP) Indonesia, Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), PMKRI Sungai Raya dan juga Gusdurian Pontianak.

Sadap Indonesia sebagai pemrakarsa kegiatan melaksanakan live instagram bersama dengan salah satu peserta Tepelima pasca kegiatan. Melalui program sharing dari rumah, Sadap berbincang bersama dengan Sultan, peserta Tepelima ke-3. Sabtu, (5/6/2021).

Diawal sharing, Sultan menyatakan sebelumnya tidak mengetahui apa itu Tepelima. Namun, karena ketertarikannya pada nama kegiatan sehingga membuatnya memberanikan diri untuk kemudian mendaftarkan diri.

Baca Juga: Kolaborasi Merawat Toleransi, Anak Muda di Kalbar Selenggarakan Tepelima-3

“Sebelumnya tidak tau ada kegiatan seperti itu di Kalbar, kemudian dapat informasi dari salah satu panitia yang kebetulan satu grup dan karena saya memang menyukai kegiatan seperti itu lalu mencoba mendaftar,” ungkapnya.

Sultan juga mengungkapkan bahwa ia mendaftar karena ketertarikannya pada nama kegiatan Temu Pemuda Lintas Iman, sebelumnya ia menyatakan tidak memiliki gambaran sama sekali sehingga tidak berekspektasi sama sekali pula.

Lebih jauh Sultan menyatakan bahwa ia amat tertarik akan isu keberagaman setelah pada hari pertama mengikuti Tepelima mendapatkan pemaparan materi dari Aan Anshori. Sebelumnya, ia mengungkapkan menjadi salah satu orang yang kerap mengikuti perjalanan Aan melalui website dan atau pemberitaan tentang Aan.

Seiring dengan masih berlangsungnya pandemi Covid-19, pelaksanaan Tepelima dilakukan secara langsung dan juga daring. Hari pertama dan kedua, dua webinar tentang mengelola prasangka dan saling menerima antar individu dan golongan dilaksanakan via zoom meeting dan pada hari selanjutnya dilakukan secara langsung dengan mempertemukan para peserta dengan menerapkan prokes sesuai ketentuan pemerintah.

Walaupun kegiatan offline hanya dilaksanakan satu hari, namun menurut Sultan menjadi sarana pertemuan yang menyenangkan. Pada hari itu, semua peserta dapat saling berkenalan satu sama lain tanpa memandang latar belakang yang disokong oleh keseruan kegiatan yang dipandu oleh para panitia. Terdapat sesi games, sharing peer, dan berbagai kegiatan lain yang dilaksanakan didalamnya.

Mengikuti Tepelima menurut Sultan menjadi ajang nostalgia masa kecil, hal ini dalam artian bahwa dahulu saat kecil circle pergaulannya beragam namun karena harus menempuh pendidikan di sekolah berbasis agama saat SMA membuatnya kemudian hidup dalam fase yang homogen. Oleh karenanya, ia sangat bersyukur mengikuti Tepelima.

Mengikuti Tepelima menurut Sultan juga menjadi salah satu proses merefleksi tentang perbedaan.

“Saya banyak berfikir dan banyak mengoreksi pemikiran saya tentang menyikapi keberagaman dan perbedaan lebih dalam. Akhirnya saya faham lebih jauh tentang menghargai mereka yang berbeda,” tuturnya.

Melalui perjumpaan dalam Tepelima, Sultan menyatakan turut berpengaruh pada perilaku dan sikap dalam menyikapi perbedaan.

“Perubahan sikap tentu ada, ketika pemikiran kita sudah paham tentang keberagaman akhirnya perubahan sikap akan mengikuti,” bebernya.

Semua orang dapat mendefinisikan makna perdamaian, hal tersebut juga yang dilakukan oleh Sultan. Ditanya makna damai dalam keberagaman, Sultan mengungkapkan kuncinya berada pada titik temu.

“Kalau kita menyayangi maka kita disayang, feedback pada intinya. Jika kita melakukan kebaikan maka kebaikan akan kembali kepada kita. Jika kita melakukan keburukan, maka keburukan itu akan kembali pula kepada kita. Damai dalam keberagaman itu kita berbeda tapi tetap ada titik temu, disitu letak kuncinya,” jelasnya.

Terakhir, seiring dengan masih banyaknya masyarakat terutama generasi muda yang kurang peduli pada isu keberagaman. Menurut Sultan memperbanyak pertemuan dan saling berkolaborasi harus sering ia lakukan.

“Saya ingin mengajak teman-teman untuk saling kolaborasi, seperti misalnya kopi yang pahit dan gula yang manis diseduh dengan air dan diaduk maka perpaduannya nikmat rasanya, hal seperti itu pula yang sebaiknya dilakukan dalam masyarakat dalam mengelola keberagaman” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed