by

Cegah Radikalisme di Kampus Sedini Mungkin

Kabar Damai | 31 Agustus 2021

Banjarmasin | kabardamai.id | Dalam 2 dekade terakhir mahasiswa adalah salah satu kelompok yang menjadi sasaran utama penyebaran radikalisme yang mengarah ke terorisme. Karena itu, penyebaran radikalisme di kampus harus dicegah sedini mungkin.

Hal itu disampaikan  Wakil Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Muhammad Fauzi pada seminar Pencegahan Penyebaran Paham Radikal yang Mengarah pada Terorisme di lingkungan Kampus di Kampus FISIP ULN Banjarmasin, Sabtu, 28 Agustus 2021).

Melansir Pusat Media Damai BNPT, seminar itu digelar Polda Kalimantan Selatan melalui Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Mencegah lebih baik tentunya. Ini juga nanti mereka yang hadir dapat menyebar dan menularkan pada yang lain. Kita juga setiap tahun selalu memberikan materi terkait paham radikal pada saat pengenalan lingkungan Kampus bagi mahasiswa baru,” kata Muhammad Fauzi, dikutip dari damailahindonesiaku.com (30/8).

Kasubdit Kamneg Dit Intelkam Polda Kalsel Kompol Paryoto,  menilai pentingnya pencegahan paham radikal apalagi yang mengarah pada terorisme, terlebih di lingkungan Kampus, yang menurutnya rawan dimasuki paham itu. Selain itu pada usia mahasiswa yang mencari jati diri, menjadi salah satu sasaran yang dapat dimanfaatkan pihak tertentu dalam penyebaran paham radikal.

Baca Juga: Ketua Umum MUI: Islam Moderat Benteng Dari Serangan Radikalisme

“Di lingkungan Kampus memang menjadi salah satu sasaran mereka yang ingin menyebarkan paham radikal, untuk itu kita lakukan ini. Selain itu, juga kita laksanakan di lingkungan masyarakat termasuk tempat ibadah,” ungkap Kompol Paryoto.

Dia berharap, masyarakat khususnya mahasiswa para generasi muda penerus Bangsa dapat menjauhi radikalisme yang bisa berujung terhadap tindakan kekerasan hingga ekstrem termasuk terorisme.

“Dengan ambil bagian lewat cara memberikan laporan ke aparat terdekat, jika mendengar adanya hal mencurigakan,” ujarrnya.

 

Strategi Cegah Paham Radikalisme Menyusup di Kampus

Sebelumnya, dalam rangka menangkal radikalisme dan terorisme di perguruan tinggi, Pusat Pembinaan Ideologi LPPM Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Webinar Nasional dengan tema ‘Menjernihkan Hati Melawan Radikalisme’.

Secara yuridis, melansir Kompas.com (2/5), perguruan tinggi dituntut terlibat aktif dalam menangkal radikalisme maupun ekstrimisme di kampus.

Untuk mencegah paham itu menyusup di lingkungan kampus, Unesa turut aktif menjadi patner pemerintah dan masyarakat dalam menangkal paham radikalisme.

Dalam webinar tersebut, turut hadir mantan napi teroris (napiter) dan mantan Jihadis, Wildan Fauzi. Wildan mengungkapkan, paham radikalisme bisa masuk lewat mana saja. Baik itu pergaulan maupun melalui media sosial. Bahkan adanya media sosial justru lebih berbahaya.

“Para pelaku bisa bergerak secara lone wolf atau operasi sendiri. Operasinya bisa terputus dari jaringan, tidak memiliki kelompok, tetapi bisa melakukan sendiri dengan panduan yang ada di internet,” kata Wildan seperti dikutip dari laman Unesa, Minggu, 2 Mei 2021 lalu.

 

Kontrol Orangtua dan Sosial

Menurut Wildan, masuknya paham ekstrimisme bisa karena kurangnya kontrol sosial dan orangtua. Padahal itu penting sekali dan menjadi tembok pertahanan yang penting dalam menangkal pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Kepada peserta webinar Unesa, Wildan banyak bercerita tentang awal mula ia pergi ke Siriah. Dari pengalamannya, penyebar radikalisme bukan asli Timur Tengah. Tetapi justru banyak dari Indonesia yang memodifikasi ajaran agama untuk kepentingan sendiri.

“Paling penting adalah perkuat kontrol sosial dan keluarga. Dengan siapa anak kita bergaul dan kepada siapa mereka mengaji,” tandas Wildan.

Dalam banyak kasus, ekstrimisme juga bisa masuk melalui teman pergaulan. Mereka lebih mengikuti ajakan temannya daripada orangtuanya. Pada akhirnya, banyak kasus mengkafirkan orang tua sendiri dan orang lain.

“Yang lain salah, mereka benar,” imbuh Wildan. Untuk meminimalisir hal itu, anak-anak perlu dididik untuk belajar lebih mencintai orangtua daripada teman-temannya.

“Saya ingin mendedikasikan diri untuk aktif dalam gerakan kesadaran anak-anak muda agar lebih cinta dan bakti kepada orangtua. Sekuat apapun laki-laki, ketika mengingat ibunya, dia akan jatuh tersungkur,” terangnya.

Peran orangtua juga sangat vital, dengan pendekatan itu. Generasi muda bisa lebih menghargai dan berbakti kepada orangtuanya dari siapapun atau temannya.

“Jihad yang paling besar adalah berbakti kepada orangtua, membahagiakan orangtua, bukan justru membangkang apalagi mengkafirkan mereka,” ujarnya.

Faktor lain yang membuat anak muda cepat terpapar paham radikal yakni karena adanya rasa tak diterima di lingkungannya. Mereka yang sering menyendiri dan tampil beda pun lama-lama bisa terpapar paham yang berbahaya. Karena itu, budaya kekeluargaan harus ditumbuhkan, anak-anak muda harus didekati dan diajak untuk berkomunikasi dengan hangat.

“Mereka bisa meluapkan apapun pandangannya. Jika sudah begitu, kan kecil mereka bisa terpapar paham radikal,” imbuh Wildan.

 

Pembumian Ajaran Agama yang Moderat

Sementara itu, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Syafiq A. Mughni menambahkan, radikalisme dan ekstrimisme merupakan penyimpangan ajaran agama. Tidak ada agama mana pun di dunia ini yang mengajarkan kekerasan.

“Paham tersebut ada pada agama-agama di dunia, tidak hanya spesifik dengan Islam. Kemudian bisa ada dalam kelompok agama, bisa kelompok politik, dan kelompok bangsa dan bahkan suku,” papar Prof. Syafiq.

Menurutnya, paham radikal bisa ditangkal lewat beberapa cara, salah satunya lewat pembumian ajaran agama yang moderat. Setidakya ada tujuh ciri moderasi agama dalam Islam, antara lain:

  • Tawazunatau keseimbangan hidup antara lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Tasamuhatau toleransi sebagai suatu keharusan bagi negara dan bangsa yang beragam seperti Indonesia.
  • I’tidal atau tegak, konsisten dan keadilan. Prinsip keadilan konsisten menjadi pondasi penting dalam berbangsa dan bernegara.
  • Ishlahatau perbaikan hidup ke dalam dan ke luar untuk menjadikan dunia ini menjadi lebih baik untuk semua.
  • Prinsip syura atau musyawarah yakni menjunjung tinggi pendapat, eksistensi orang lain. Bukan pemaksaan pendapat atau kehendak sendiri.
  • Qudwahatau keteladanan.
  • Muwathanahatau kewarganegaraan atau nasionalisme.

 

“Yang dilakukan yakni pengembangan narasi moderat, pengembangan budaya literasi moderat, early warning system yang baik, peer group moderat, dan pengembangan pola komunikasi yang baik,” tutur Syafiq.

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed