by

Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme di Masa Pandemi melalui Gereja Ramah Anak

Kabar Damai I Rabu, 04 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Jannus Pangaribuan Direktur Urusan Agama Kristen, mengatakan gereja memiliki peran dalam pencegahan dan radikalisme dan terorisme terhadap anak melalui Gereja Ramah Anak.

“Gereja Ramah Anak dapat dikembangkan menjadi tempat anak-anak berkumpul, melakukan kegiatan positif, inovatif, kreatif, dan rekreatif yang aman dan nyaman dengan dukungan orang tua dan lingkungannya,” kata Jannus melalui  webinar yang digelar oleh KemenPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selasa (03/08/2021).

Baca Juga: PGI: Gereja Bantu Pemerintah Atasi Pandemi

Jannus mengatakan gereja memiliki peran besar mendukung pemerintah mencegah anak terpapar radikalisme. Penerapan disiplin positif dan upaya pencegahan paparan radikalisme terhadap anak dapat dilakukan oleh gereja.

Perlindungan anak dari radikalisme

Pelindungan anak dari radikalisme harus diwujudkan melalui kerja sama pemerintah, organisasi masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak. Dalam Amsal 22 : 6 disebutkan pentingnya mendidika anak.

“Didiklah orang muda menurut jalan yang  patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia  tidak akan menyimpang daripada jalan itu”

Realita peradaban global, skala nasional dan  regional berbagai aspek terjadi “disrupsi” yang  Mungkin saja melahirkan gesekan dan disharmony dalam masyarakat.

“Secara sederhana dapat diidentifikasi sebagai berikut, masa Postmodern, pada era baru yang memunculkan moralitas baru dengan  standar pribadi, seperti LGBT, homoseksual dan poligami, standar pribadi  tersebut telah menjadi agama baru menggantikan keyakinan, “ Ujar Jannus.

Tantangan secara eksternal memunculkan degradasi (pergeseran nilai), ujaran Kebencian – intoleransi – radikal – terorism dan terakhir Agnotisisme.

Degradasi bertentangan dengan rancangan Tuhan

Menurut Jannus, Hal ini bertentangan dengan rancangan Tuhan dalam penciptaan manusia. Isu – isu radikalisme agama seperti; propaganda, terorism dan berbagai  gerakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tega bertindak ekstrim.

“Hal ini seolah-olah menyudutkan setiap Gereja. Tidak hanya itu, hal ini  juga memunculkan gejala intoleransi dan fanatisme agama serta  eksklusivisme yang berlebihan dalam  hubungan social keagamaan di  masyarakat,”terang Jannus.

Lalu perlu juga diketahui tingkatan Generasi yang lahir setelah Perang Dunia Ke 2, menurut Teori Generasi. Generasi Baby  Boomer Lahir adalah mereka yang lahir diantara tahun 1946-1964, generasi X adalah mereka yang lahir diantara tahun 1965-1980, lalu generasi Y lahir tahun 1981- 1994, generasi Z lahir tahun 1995- 2010, terakhir generasi Alpha  lahir tahun 2011-2025.

“Mereka yang menjadi generasi Z dan generasi alpha, adalah generasi yang perlu diberikan perhatian lebih agar tidak terpapar radikalisme di era revolusi industry 4.0,” beber Jannur menjelaskan pentignya mencegah radikalisme.

Era Revolusi  Industri 4.0.  Kekinian  Dunia/Globalisasi  mendorong  inovasi-inovasi  teknologi yang  memberikan  dampak ‘’disrupsi’’  atau perubahan  fundamental.

Gereja Ramah Anak di Masa Pandemi

Di masa pandemic yang segalanya dilakukan secara daring peran Gereja (ideal) kekinian, melakukan peran-peran antara lain dengan memberikan edukasi yang tanpa mengedepankan / memandang perbedaan (asal, budaya, adat  istiadat, strata social, bahkan Agama sekalipun).

Bagi Jannus gereja juga harus mengembagkan studi-studi kebudayaan untuk menggali kembali unsur-unsur budaya yang terancam punah (karena sekuensi perubahan global). Lalu menciptakan ruang dialog dan kerjasama umat beragama (Moderasi Beragama).

“Seharusnya gereja melakukan transformasi Layanan Kekinian, pelayanan gereja berubah dari virtual formal menjadi pelayanan daring (online) dan yang terpenting pelayanan gereja memfokuskan Gereja Ramah,”

Gereja diharapkan hadir relevan dengan zamannya (Ke Kristenan harus  relevan belajar dari Tuhan Yesus) yaitu, Yesus Connect, Yesus Answered dan terakhir Yesus Outentik.

Menurut Jannus, konsep Gereja Ramah Anak adalah memanfaatkan gereja yang sudah ada untuk pemenuhan hak anak dalam memanfaatkan waktu luang mereka dalam bentuk kegiatan positif, inovatif, dan kreatif yang terintegrasi dengan kegiatan gereja.

“Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan dalam Gereja Ramah Anak misalnya, diskusi agama, bermain sambil menunggu waktu misa, kegiatan pengembangan keterampilan anak yang bernafaskan nilai agama, seni budaya, dan lainnya,” ujarnya.

Jannus mengatakan kegiatan yang dilakukan dalam Gereja Ramah Anak harus mengedepankan prinsip nondiskriminasi; mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak,  memenuhi hak anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai usianya, mengajak anak untuk berpartisipasi aktif, dan pengelolaan yang baik.

“Besar harapan kami agar seluruh gereja yang ada di Indonesia dapat menjadi Gereja Ramah Anak dan akan mengoptimalkan fungsi gereja sebagai tempat pembelajaran melalui berbagai kegiatan dalam upaya pemenuhan hak anak, termasuk juga menerapkan disiplin positif pada anak melalui orangtua dan pengurus gereja,” katanya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed