by

Catatan dari Hari Perempuan Sedunia Masa Korona untuk Indonesia

-Kabar Puan-70 views

Kabar Damai I Selasa, 9 Maret 2021

 

Tangerang Selatan | kabardamai.id | Melakukan dan memperingati sesuatu berulang kali kadang bisa membosankan. Apalagi, jika peringatan itu hanya seremonial belaka dengan slogan yang sekadar keluar seperti kentut.

Namun, ada yang berbeda yang membuat peringatan di tahun ini, khususnya peringatan Hari Perempuan Sedunia terasa intens, setidaknya bagi penulis, walaupun sebenarnya pesan baik universalnya selalu sama seperti yang digemakan sejak lama. Edukasi.

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan peningkatan rasa khawatir atau ketakuan sekaligus solidaritas menjadi faktor dorongan yang lebih kuat dalam menuntun proses cara pandang dan hidup banyak orang sekarang, salah satunya terkait kesetaraan, yang juga menjadi tema Hari Perempuan Sedunia kali ini: Women in leadership: Achieving an equal future in a Covid-19 world.

Topik kesetaraan semakin sering bermunculan di berbagai bahasan diskusi atau konferensi virtual hingga saat ini, terlebih bulan Maret ini ada dua kali peringatan Hari Perempuan Sedunia – 8 Maret dan 19 Maret 2021.

 

Sedikit dari dalam

Belakangan, penulis juga beberapa kali mengikuti diskusi berkaitan dengan topik kesetaraan gender. Salah satunya diskusi santai akhir pekan kemarin (7/3) yang diadakan oleh teman-teman dari komunitas Baha’i, “Dialog Lintas Iman: Membangun Kesetaraan Gender.” Diskusi ini rutin diadakan setiap akhir pekan bersama dengan teman-teman lintas iman dengan mengangkat berbagai tema.

Kesimpulan utama dari diskusi tersebut adalah pentingnya pendidikan sejak dini tentang kesetaraan gender di sekolah-sekolah publik sehingga pendidikan ini rata dipahami oleh laki-laki maupun perempuan. Karena untuk mencapai kesetaraan gender yang baik tak dipungkiri memerlukan dukungan dari pihak laki-laki.

Selain itu, edukasi ini juga penting dilakukan secara masif bagi para guru dan generasi yang lebih tua agar tantangan utama konstruksi patriarki dan subordinasi perempuan ataupun kelompok marginal lainnya dapat perlahan meluntur.

Catatan Tahunan 2020 Komnas Perempuan, terutama selama masa pandemi, membeberkan bahwa terjadi lonjakan dan kompleksitas pada kasus kekerasan seksual, kekerasan siber, perkawinan anak, dan keterbatasan penanganan di tengah Covid-19 di Indonesia. Lonjakan kasus serupa juga kemungkinan terjadi di negara-negara lainnya.

Tema Hari Perempuan Sedunia 2021 yang disertai#ChooseToChallenge, berani memilih tantangan dan menyerukan bias gender, menjadi kontekstual dengan yang terjadi di Indonesia dan kemudian digunakan untuk mendukung semangat #MemilihTantanganUntuk MendukungRUUPKS.

Lonjakan kasus di atas semakin mengemukakan urgensi reformasi besar-besaran dalam bidang pendidikan di Indonesia. Bagaimanapun, untuk mengubah sebuah paradigma dan konstruksi yang mengakar adalah dengan kembali kepada akarnya lagi, yaitu konstruksi melalui pendidikan yang masif. Campur tangan negara jelas diperlukan dalam hal ini.

Baca juga: Hasil Studi: Perlu Lebih Banyak Perempuan dalam Suatu Dewan Direksi Perusahaan

Sedikit dari luar

Sacha Stevenson, seorang YouTuber kewargannegaraan Kanada yang sudah tinggal di Indonesia selama 20 tahun, dua bulan lalu mengunggah video pengumuman kepergiannya kembali ke Kanada bersama suami dan anaknya.

Video tersebut berisi perbincangannya dengan suaminya yang merupakan orang Garut, terkait keputusan mereka berangkat ke Kanada demi anaknya menerima pendidikan yang baik sejak dini. Sacha menilai bahwa untuk mendapatkan pendidikan bagus sejak dini di Indonesia harus mengeluarkan biaya yang menguras kantong. Yang bila dikalkulasikan sama dengan biaya kuliah di universitas yang bagus atau untuk berplesiran mewah, atau bahkan menopang hidup selama beberapa tahun.

Keputusan tersebut menerima banyak respon positif dari netizen Indonesia. Mereka juga sama-sama melihat sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki. Tak sedikit dari yang berkomentar yang mengungkapkan mereka juga lebih memilih mengenyam pendidikan di luar negeri dibandingkan di negeri sendiri.

Selain itu, mungkin tak sedikit yang akan berpendapat, “pendidikan di luar negeri memang terjamin dan gratis tetapi pajak di sana sangat tinggi.” Justru, di sini kita melewatkan poin pentingnya. Kita malah kehilangan fokus pada jaminan kualitas pendidikannya. Jika begini, artinya cara berpikir kita masih cenderung pendek dan terlalu fokus pada yang dinilai selalu negatif.

Catatan penting lainnya terkait urgensi diseminasi kesetaraan, saya pikir pernyataan dari United Nations Development Programme (UNDP) oleh administrator Achim Steiner, patut juga kita internalisasi ke dalam diri kita. Berikut rangkuman pernyataannya:

“Hari Perempuan Internasional tahun ini tidak seperti yang lain…Perempuan harus memiliki kesempatan untuk memainkan peran penuh dalam membentuk keputusan penting yang sedang dibuat saat ini, di mana negara-negara sedang berupaya pulih dari pandemi COVID-19. Berbagai pilihan keputusan itu akan memengaruhi kesejahteraan manusia dan planet ini untuk generasi yang akan datang.

Untuk melakukannya, kita harus meruntuhkan penghalang sejarah, budaya, dan sosial-ekonomi yang tertancap dalam, yang mencegah perempuan untuk turut serta dalam pengambilan keputusan untuk pendistribusian sumber daya dan kekuasaan secara lebih adil. Di seluruh dunia, perempuan masih terkonsentrasi pada pekerjaan dengan bayaran terendah dan banyak di antaranya dalam bentuk pekerjaan yang sangat rentan.

Perempuan hampir dua kali lebih mungkin kehilangan pekerjaan selama krisis COVID-19 dibandingkan laki-laki. Pandemi secara dramatis meningkatkan angka kemiskinan bagi perempuan dan memperlebar jurang antara laki-laki dan perempuan yang hidup dalam kemiskinan.

Untuk itu, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) bekerja dengan negara-negara di seluruh dunia untuk mengatasi ketidaksetaraan ini. Ringkasan kebijakan baru kami memberikan perspektif baru untuk mengeksplorasi bagaimana Pendapatan Dasar Sementara bagi perempuan di negara berkembang dapat menjadi bagian dari solusi.

UNDP berpendapat bahwa investasi bulanan sebesar 0,07% dari PDB negara berkembang dapat membantu 613 juta perempuan usia kerja yang hidup dalam kemiskinan untuk meredam guncangan pandemi. Ini juga akan berkontribusi pada keamanan ekonomi dan kemandirian yang diperlukan bagi perempuan untuk terlibat lebih dalam, dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah masa depan mereka.

Terlepas dari hambatan tersebut, perempuan, terutama yang muda, berada di garis depan di berbagai gerakan inklusif online maupun offline untuk perubahan sosial. Mereka juga berperan utama dalam mengambil sikap tegas melawan perubahan iklim, memperjuangkan ekonomi hijau dan mendorong hak-hak perempuan.

Dan kita tahu bahwa kepemimpinan dan representasi yang lebih inklusif mengarah pada demokrasi yang lebih kuat, pemerintahan yang lebih baik, dan masyarakat yang lebih damai. Seperti hasil penelitian UN Women yang menunjukkan bahwa melibatkan perempuan dalam proses perdamaian kemungkinan besar akan membuat perjanjian perdamaian bertahan lebih lama.

Namun, gerak kita masih belum cukup cepat. Dengan laju kemajuan saat ini, kesetaraan gender di jajaran Kepala Pemerintahan, misalnya, akan membutuhkan waktu 130 tahun lagi. Untuk menantang status quo itu, UNDP bekerja untuk memperkuat suara perempuan dan mempromosikan partisipasi dan kepemimpinan mereka di lembaga publik, parlemen, peradilan, dan sektor swasta….

Untuk bangkit dari krisis COVID-19, mengembalikan Tujuan Global ke jalur yang benar demi membangun masa depan yang lebih baik, kita tidak bisa begitu saja kembali ke dunia yang kita miliki sebelumnya. Kita harus melakukan semuanya secara berbeda. Itu berarti menghancurkan penghalang yang menahan dan mengkungkung perempuan.

Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah seruan untuk Kesetaraan Generasi/Generation Equality (menyadari dan mewujudkan hak-hak perempuan untuk menciptakan masa depan yang lebih setara). Inilah saatnya untuk memanfaatkan sepenuhnya kekuatan kepemimpinan perempuan demi mewujudkan masa depan yang lebih setara, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan.”

Selain itu, saya juga turut mengapresiasi pernyataan dari Presiden Jokowi melalui akun Twitternya yanga mengungkapkan: “Di dunia yang kian terbuka dan modern, setiap orang, laki-laki atau perempuan, punya kesempaan yang sama untuk mengambil peran dan menggapai impian. Semua setara memberi warna bagi peradaban. #ChooseToChallenge”

Semoga saja pernyataan tersebut tak hanya sekadar fiktif belaka untuk hiburan sesaat.

Penulis: Hana Hanifah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed