by

Cara Warga Ahmadiyah Berkemanusiaan, Donor Darah dan Mata

Kuningan | kabardamai.id | Di tengah pandemi Covid-19, komunitas Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, punya cara menjalin silaturahmi sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan.

Bertempat di gedung SMP Amal Bakti, Manislor, menggelar aksi donor darah. Helatan ini bekersama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

“Ini yang ke-89 kali saya mendonorkan darah,” ujar Rusdi, salah seorang warga pendonor saat ditemui Ayocirebon.com seusai pengambilan darahnya pada Sabtu (27/2) lalu.

Rusdi menjadi salah satu dari 98 warga Ahmadiyah Manislor yang mendaftar donor darah hari itu. Kegiatan tersebut rutin digelar komunitas JAI Manislor, di tengah pandemi sekalipun.

Rusdi, lansir Ayocirebon.com, selaku Koordinator JAI Wilayah Jabar X yang meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka sekaligus ketua pelaksana gerakan donor darah nasional JAI ini, menyebut, kegiatan semacam itu telah dilaksanakan sejak lebih dari 6 tahun terakhir ini.

“Sejak itu sampai sekarang rutin digelar 3 bulan sekali,” tuturnya.

Ia menyebut, di Manislor, terdapat sekitar 3.100 orang warga Ahmadiyah. Hari itu, dari 98 pendaftar, 70 orang dinyatakan memenuhi syarat untuk mendermakan darahnya.

Namun, menurut Rusdi, jumlah itu lebih sedikit dibanding kegiatan serupa di masa sebelum pandemi. Hal itu maklum, sebab di masa pandemi, tak semua orang dalam kondisi yang prima untuk donor darah.

“Biasanya (sebelum pandemi) melebihi 70 labu,” ungkapnya.

Meski begitu, mereka tetap berharap apa yang mereka sumbangkan hari itu tetap bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Karena itu, pihaknya tetap berupaya memaksimalkan perolehan darah hari itu melalui sosialisasi kepada seluruh warga.

Maka, kegiatan donor darah hari itu pun menguarkan antusiasme warga Ahmadiyah. Baik pria maupun wanita berkumpul hari itu, termasuk anak-anak yang menyertai orang tuanya.

Seraya menanti pemeriksaan kesehatan sebagai syarat mendonorkan darah, mereka bercengkerama di depan kelas. Masker yang menutupi sebagian wajah tak menghalangi minat mereka saling bercerita membahas keseharian masing-masing.

Kesempatan itu rupanya pula menjadi ajang silaturahmi antar warga Ahmadiyah. Rusdi memastikan, derma darah warga Ahmadiyah Manislor demi kemanusiaan.

 

1.320 Pendonor Mata

Menariknya, tak hanya darah, warga Ahmadiyah Manislor pun rupanya tercatat sebagai penderma kornea mata. Rusdi yang juga merupakan Ketua Komunitas Donor Mata Indonesia Kabupaten Kuningan ini menyebutkan, terdapat 1.320 warga Kabupaten Kuningan yang tercatat sebagai pendonor kornea mata.

Data disebut Ayocirebon, dari 1.320 pendonor kornea mata di Kabupaten Kuningan, 1.300 orang di antaranya merupakan warga Ahmadiyah Manislor. Sisanya berasal dari daerah lain di Kabupaten Kuningan.

Selain di Kabupaten Kuningan, sebut Rusdi, ada pula 68 pendonor kornea mata Asal Kabupaten Majalengka. Dari total pendonor di Kuningan dan Majalengka, 66 orang di antara mereka telah diambil kornea matanya.

“Sejak 2014, kami bekerjasama dengan Bank Mata Indonesia (BMI) di RS Mata Cicendo dan pusat,” katanya

Derma kornea mata bagi warga Ahmadiyah Manislor dipandang sebagai amal jariyah yang dapat mereka lakukan bagi sesama. Sekalipun berupa jasad, imbuhnya, selama masih dapat bermanfaat bagi manusia lain, mereka akan melakukannya.

“MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan seseorang menjadi pendonor kornea mata,” terang Rusdi.

Fatwa tersebut diketahui dikeluarkan MUI pada 13 Juni 1979 di Jakarta, ditandatangani KH. Syukri Gozali. Bunyinya, seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghibahkan kornea mata setelah wafat dan diketahui, disetujui, dan disaksikan oleh ahli warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan dan harus dilakukan oleh ahli bedah. [AN/Ayocirebon.com]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed