by

Cara Orang Muda Papua Membangun Papua dan Dunia

Kabar Damai I Jumat, 23 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Memperingati hari jadinya yang ke-21, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menggelar kegiatan doa bagi pemulihan bangsa Indonesia. Hal ini semakin menarik seiring dengan hadirnya banyak tokoh dari berbagai elemen yang terus bergerak bagi kemanusiaan. Diselenggarakan melalui zoom meeting dan live pada kanal youtube ICRP. Rabu, (21/7/2021).

Dalam kegiatan ini diselingi dengan testimoni dan juga diskusi. Salah satunya materi dan sharing yang disampaikan oleh Clara, Tokoh Muda Papua yang memaparkan tentang cara anak muda Papua membangun Papua dan juga dunia.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa cara yang dapat dilakukan dalam membangun Papua dan dunia adalah melalui mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga: Refleksi HUT 21 ICRP: Dulu, Kini dan Mendatang

“Berbicara tentang cara anak muda Papua membangun Papua dan dunia yang pertama adalah anak-anak muda yang bertakwa kepada Tuhan dan taat kepada Tuhan. Tentunya semua agama mengajarkan agama yang baik untuk setiap pengikutnya,”.

“Menurut kami, untuk membangun Papua dan dunia setiap anak muda harus memiliki pola pikir dan karakter yang baik terutama dalam lingkungan agama, tentu pola pikir dan karakter akan dibentuk menjadi pola yang baik. Dengan karakter dan pola pikir yang baik, saya yakin kami dapat melakukan hal yang baik yang berdampak pada Papua maupun dunia,” ungkapnya.

Selanjutnya, menurut Clara sektor pendidikan juga sangat berpengaruh guna mencapai tujuan dalam membangun Papua dan dunia tersebut.

“Kedua, membangun pribadi masing-masing sebelum kami membangun Papua yang dilakukan dengan cara pendidikan. Pendidikan anak muda Papua perlu ruang belajar untuk mengasah keterampilan yang mereka punya. Pendidikan ini bukan hanya pendidikan akademik namun juga non akademik,” tambahnya.

Lebih jauh, bagi Clara pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang baik dan benar. Ketika pendidikan itu baik maka tentu pola pikir juga akan terbentuk dengan baik. Pendidikan yang baik dapat mengasah keterampilan dan apa yang ada pada diri individu untuk mengembangkan pola pikir dalam membangun strategi dan mengembangkan apa yang di punyai untuk membangun Papua berikutnya.

Papua merupakan daerah yang baik, namun dalam belajar dan menimba ilmu juga penting untuk diperoleh dari luar. Oleh karenanya memaksimalkan peluang merupakan hal yang harus terus dilakukan.

“Kemudian yang berikutnya, bagaimana kesadaran yang tercipta tersebut kita maksimalkan guna memaksimalkan peluang-peluang yang kita miliki untuk belajar tidak hanya di Papua namun juga di nasional dan internasional,”.

“Mengenai hal ini, bukan berarti di Papua tidak ada pendidikan yang baik, tapi pendidikan yang baik ketika kita mau membangun relasi dalam pendidikan yang luas maka pola pikir kita juga akan menjadi luas. Jika kita belajar di Papua saja dan menganggap tidak perlu belajar ditempat yang lain merupakan pola pikir yang salah,” tuturnya.

Melalui pengalaman pribadinya dalam mengikuti program peace train di Jakarta, Clara bercerita bahwa ia bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai latar belakang. Darisana, ia bertukar fikiran dan membangun relasi baik sehingga membuka fikirannya untuk terus maju. Selanjutnya, melalui bekal tersebut membuatnya yakin bahwa selanjutnya dapat ia aplikasikan dalam membangun tanah kebanggaannya Papua dan juga dunia.

Lebih jauh, mencintai daerah adalah hal yang baik, namun dengan kadar yang tidak berlebihan hingga fanatic merupakan hal yang sangat baik.

“Berikutnya adalah mencintai tempat dimana kita berada, tetapi bukan berarti fanatik. Dalam hal ini artinya misal saya mencintai Papua, ingin membangun Papua namun saya tidak fanatik. Tidak berfikir bahwa karena ingin membangun Papua maka melihat hanya apa yang ada di Papua tanpa membuka diri dan membangun relasi,” beberya.

Menurut Clara, mencintai tempat dimana berkarya atau kberada itu sangat penting tetapi bukan fanatik. Beberapa isu di Papua yang belakangan ini kita ketahui terjadi menurutnya karena terlalu mencintai tempat dimana kita berada namun itu salah dan menjadi konflik yang baru seperti yang ada di Papua.

Ia kembali menambahkan bahwa konflik-konflik yang terjadi di Papua menurutnya seperti konflik agama dan lain sebagainya sebenarnya dapat diatasi. Tetapi karena pemahaman yang salah dan terlalu fanatik sehingga ketika diganggu sedikit menjadi meledak, padahal pemikiran itu adalah pemikiran yang salah. Dengan adanya konflik ini bagaimana dapat membangun Papua jika pemuda Papua sendiri terlibat dalam konflik-konflik yang ada.

Anak muda Papua adalah insan yang unggul dan berbakat, namun seringkali tidak memperoleh kesempatan. Oleh karenanya, harus semakin aktif dan partisipatif dalam berbagai kegiatan yang baik kedepannya.

“Berikutnya, anak-anak muda harus diberi kesempatan untuk memberi pendapat dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang baik. Anak-anak Papua memiliki bakat dan pengetahuan yang baik tetapi kadang belum ada kesempatan atau kegiatan yang baik terutama teman-teman yang ada dipelosok, tempat dimana tidak ada jaringan sehingga tidak dapat menjangkaunya,”.

“Dengan mengikuti kegiatan yang baik dapat menjadi ruang-ruang yang baik bagi anak-anak muda Papua supaya tidak cepat terpengaruh pada isu yang ada dan kemudian mengikuti hal-hal yang salah, bukan membangun namun malah merusak,” ujarnya.

Menurut Clara pula, penting bagi anak-anak muda dalam membangun Papua agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Hal ini karena anak muda yang banyak bicara namun sedikit yang didapat karena tidak mendengar dengan baik. Terutama untuk anak-anak muda di Papua dalam membangun Papua dan dunia sehingga perlu banyak belajar dari berbagai daerah lain yang lebih maju.

“Ketika kami mendengar banyak masukan dan memiliki banyak pengetahuan yang ada dari teman-teman yang lain maka kami bisa membangun pola pikir yang baru. Bukan pola pikir untuk merubah apa yang ada namun pola pikir untuk mengembangkan apa yang sudah kami punya supaya dengan pola pikir yang baik ini kami dapat membangun Papua dan juga membangun dunia,” ungkap Clara.

Yang paling penting anak-anak muda Papua harus berani bersaing. Banyak yang sebenarnya mampu bersaing dalam kancah nasional dan internasional namun tidak mau mengambil langkah. Satu langkah maju untuk bersaing menunjukkan jika kita sebenarnya bisa namun masih banyak yang ragu-ragu.

Diakhir pemaparannya, Clara berpesan agar dimulai dari pribadinya sendiri sudah semestinya seluruh anak muda tidak hanya di Papua agar dapat berkontribusi guna memajukan Indonesia dan bahkan dunia.

“Untuk seluruh anak muda tidak hanya di Papua, untuk membangun Indonesia dan dunia kita perlu pola pikir yang baik, pendidikan yang baik supaya bukan berarti kita muda berarti tidak bisa membangun. Mulai dari pribadi kita mari buktikan kita bisa membangun lingkungan dimana kita berada dan kemudian dapat membangun Indonesia dan dunia,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed