by

Cara Mewujudkan Moderasi Beragama Menurut Quraish Shihab

Kabar Damai I Minggu, 26 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Prof. Quraish Shihab menerbitkan buku berjudul “Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama”. Buku setebal 204 halaman ini berangkat dari motivasi untuk menjelaskan wasathiyyah sejelas-jelasnya.

Buku yang ditulis sebagai bentuk kegelisahan beliau karena merasa belum komprehensif menjelaskan makna wasathiyyah (moderasi beragama)

Moderasi beragama atau wasathiyyah seringkali dianggap sebagai sebuah sikap yang idak jelas, tidak tegas, dan seolah lebih menunjukkan sifat netral tanpa sikap. Ia bukanlah sebuah praktik dari pemahaman literal dari asal kata wasathiyyah sendiri yaitu wasath yang berarti pertengahan.

Sementara masyarakat, muslimin khususnya, menduga wasathiyyah adalah sikap manusia untuk tidak mencapai sesuatu yang positif secara tuntas. Akhirnya, kata wasathiyyah acapkali “dibajak” baik oleh kelompok yang menggampangkan atau justru ekstrem dengan mengatakan kalau mereka sedang menjalankan wasathiyyah juga.

Baca Juga: UHN IGB Sugriwa dan UIN Surabaya Kolaborasi Penguatan Moderasi Beragama

Pun demikian, Ustadz Quraish Shihab, dalam bukunya ini memberikan tuntunan yang gamblang bagaimana menerapkan wasathiyyah tersebut (h. 181-184). Penerapannya membutuhkan sejumlah disiplin pengetahuan serta langkah mewujudkannya. Disiplin pengetahuan tersebut adalah,

Fiqh al-Maqashid, kemampuan untuk memapuan ‘illat (sebab atau latar belakang) ditetapkannya suatu hukum, dan tidak terpaku pada teksnya.
Fiqh al-Awlawiyyaat, kemampuan untuk memilih apa yang menjadi prioritas dan mana yang dapat dikategorikan belum terlalu penting atau mendesak.
Fiqh al-Muwazanat, kemampuan untuk membandingkan kadar kebaikan dari setiap pilihan atau hukum yang ada. Kemampuan ini termasuk menimbang aspek-aspek kemudaratan yang berpotensial muncul.
Fiqh al-Ma’aalat, kemampuan untuk meninjau dampak atau ekses yang akan lahir dari sebuah pilihan. Termasuk mempertimbangkan kemungkinan hasil yang justru kontra-produktif dengan harapan yang ditetapkan di awal.

Setelah memahami empat lini keilmuan tersebut, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah,

Pertama, memiliki pemahaman yang benar terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah secara terperinci dengan memperhatikan betul Maqashid as-Syari’ah (tujuan kehadiran agama) pada ayat dan sunnah tersebut. Ini untuk mendapatkan solusi mempertemukan antara teks yang mutlak tidak bisa berubah dengan perkembangan zaman yang senantiasa berubah.

Kedua, melakukan kerjasama dengan semua kalangan umat Islam untuk hal yang disepakati bersama dan bertoleransi hal-hal yang tidak disepakati. Selanjutnya juga mewujudkan kesetiaan bersama umat muslim dan toleransi terhadap nonmuslim.

Ketiga, menghimpun dan mempertemukan ilmu dan iman.

Keempat, menekankan pada terwujudnya prinsip dan nilai kemanusiaan seperti keadilan, musyawarah, kebebasan bertanggungjawab, hingga HAM.

Kelima, mengajak pada pembaruan sesuai dengan ajaran agama dan menggugah para ahli untuk melakukan ijtihad.

Keenam, memberi perhatian yang besar dalam membina persatuan dan kesatuan, bukan mempertajam perselisihan. Kemudian di saat yang sama menampilkan kemudahan dalam menjelaskan fatwa keagamaan dan mengedepankan berita gembira dalam proses dakwah.

Ketujuh, mengapresiasi sebaik mungkin semua khazanah pemikiran umat muslim sepanjang waktu untuk menjadi refleksi dan inspirasi di masa kini, baik itu persoalan para pakar teolog dan logika, kerohanian para sufi, keteladanan ulama, serta kejelian para pakar hukum (fiqh) dan teologi (ushuluddin).

Sebagai penutup di halaman terakhir, Pak Quraish menegaskan bahwa wasathiyyah adalah prinsip utama Islam yang hanya dapat ditegakkan dengan tiga hal; ilmu, kebajikan, dan keseimbangan. Tanpa ketiganya, kehadiran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam akan tetap terus timpang dan pincang.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed