by

Cantik Itu Luka: Manifestasi Perlawanan Terhadap Patriarki

Kabar Damai I Jumat, 08 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I  Cantik itu luka merupakan novel pertama yang menjadi karya Eka Kurniawan, setelah sebelumnya menulis buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Cantik itu luka merupakan novel beraliran realisme magis yang berlatar sejarah perjuangan pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan bangsa Indonesia.

Buku ini menguak perempuan yang dijadikan objek seksual bagi laki-laki. Sampai saat ini buku cantik itu luka sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa seperti Jepang, Inggris, dan Malaysia.

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang perempuan yang memiliki darah campuran Indonesia dan Belanda bernama Dewi Ayu yang lahir pada masa penjajahan Belanda. Dewi Ayu merupakan anak dari hasil perkawinan inses antara Henri Stammler dan Aneu Stammler yang merupakan pasangan satu ayah beda ibu.

Adapun latar tempat dari novel ini yaitu Kota Halimunda merupakaan kota fiksi ciptaan Eka Kurnkiawan. Diceritakan juga dalam novel tersebut bahwa Dewi Ayu dianugrahi kecantikan dan kedewasaan berpikir diatas wanita seumurannya, hal ini membuat Dewi Ayu sangat menonjol dalam berbagai hal. Keputusan pertama yang membuat orang-orang terkejut adalah keputusan Dewi Ayu ingin menikahi Mak Gendik yang merupakan lelaki tua sebatang kara.

Baca Juga: Lies Marcoes dan Perjuangan Memerdekakan Kaum Perempuan

Keputusan ini dilatarbelakangi karena Mak Gendik tidak lain adalah kekasih hati dari Mak Iyang yang merupakan nenek dari ibu Dewi Ayu sendiri. Hal ini dilakukan karena Dewi Ayu  ingin mencoba mengobati sakit hati dari Mak Gendik yang dilukai oleh kakeknya sendiri, ternyata kecantikan Dewi Ayu tidak mampu membuat Mak Gendik melupakan Mak Iyang. Justru Mak Gendik menyimpan dendam kepada keturunan Dewi Ayu dengan cara yang tidak pernah Dewi Ayu bayangkan sebelumnya.

Setelah melalui berbagai masa kehidupan yang cukup kelam, sehingga membuat Dewi Ayu seakan ditakdirkan menjadi seorang pelacur di tempat Mama Kalong. Karena keistimewaannya membuat Dewi Ayu sangat populer, tidak hanya ditempat pelacuran akan tetapi di Halimunda pada umunya.

Dewi Ayu yang dipaksa untuk menjual diri. perempuan tersebut memiliki 3 anak cantik, dan ia berharap anak yang terakhir memiliki wajah yang buruk rupa. Akhirnya anak terakhir lahir seperti yang ia harapkan, dan diberikan nama Cantik.

Novel Cantik itu Luka termasuk dalam novel genre fiksi sejarah, yang disisipkan cerita realisme tentang sejarah. Novel ini menceritakan tentang masa kolonial atau penjajahan, saat seorang perempuan dpaksa menjual diri.

Novel sastra ini, memiliki makna penuh dan memiliki beberapa pelajaran yang dapat diambil. Kalimat yang digunakan dalam setiap paragrafnya mudah dipahami, sehingga para pembaca dapat menikmati ceritanya yang menyentuh hati.

Buku ini tidak hanya membahas seputaran kehidupan pelacuran di Indonesia saat zaman tentara-tentara Jepang masih berkeliaran. Ada juga selipan yang cukup kental, tentang paham komunis di Indonesia yang kala itu lumayan berkembang lewat sosok Kliwon.

Pantas saja jika buku ini mengalami cetak ulang hingga belas kali, diterjemahkan ke berbagai negara, dan mendapatkan banyak penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri dalam bidang Sastra.

Wajar saja jika Eka Kurniawan sering dianggap regenerasi Pramoedya Ananta Toer. Mereka memiliki beberapa kesamaan: tidak hanya sekedar menulis, tapi ada banyak pesan yang diselipkan dalam jalan cerita di buku yang mereka tulis.

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Cinta tak perlu saling memiliki. (hlm. 32)
  2. Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila. (hlm. 34)
  3. Cinta bisa menyembuhkan penyakitnya, bahkan penyakit apa pun. (hlm. 36)
  4. Kau terlalu banyak baca buku cerita, Nak. (hlm. 43)
  5. Kecemasan datang dari ketidaktahuan. (hlm. 84)
  6. Anak membawa rejekinya sendiri-sendiri. (hlm. 94)
  7. Sakit karena cinta. Apakah cinta sejenis malaria? Lebih mengerikan. (hlm. 177)
  8. Laki-laki paling tampan sedunia memang bukan mahluk yang mudah untuk ditaklukkan. (hlm. 204)
  9. Cinta itu seperti iblis, lebih sering menakutkan daripada membahagiakan. (hlm. 221)
  10. Kawin dengan orang yang tak pernah dicintai jauh lebih buruk dari hidup sebagai pelacur. (hlm. 264)
  11. Terdengar seolah kawin merupakan hal mudah. (hlm. 267)
  12. Seorang sahabat sangatlah kurang, tapi seorang musuh adalah terlalu banyak dan kau membuat banyak orang membencimu. (hlm. 317)
  13. Sia-sia cemburu pada orang mati. (hlm. 352)
  14. Tak pernah ada orang konyol menghitung berapa banyak hantu. (hlm. 367)
  15. Jangan karena kau punya ilmu hitam maka kau bisa berbuat sesuka hatimu. (hlm. 417)
  16. Ilmu hitam sangatlah tidak berguna. Mereka memberimu kekuatan semu, palsu dan artisial, dan tentu saja jahat. (hlm. 417)
  17. Cinta telah memberikan bukti bahwa cinta merupakan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun. (hlm. 417)
  18. Jadilah lelaki sejati, maka aku menyukaimu. (hlm. 443)

Menggambarkan Problematika Perempuan

Yang menarik dari novel “Cantik itu Luka,” bukan hanya bagaimana Eka Kurniawan dengan tepat menggambarkan kondisi perempuan dari masa ke masa, namun betapa riuh orang-orang membicarakan perempuan, dan saling menggurui untuk memberitahu: bagaimana perempuan seharusnya bersikap.

Novel yang berhasil menyabet penghargaan world reader ini menggambarkan bagaimana perempuan memang sangat sulit mendapatkan ruang aman, untuk melontarkan pendapat. Eka berhasil menghadirkan problematika perempuan yang bahkan sampai hari ini masih harus kita hadapi. Dua diantaranya yakni, obyektivitas terhadap tubuh perempuan, dan kekerasan seksual.

Perempuan yang dipaksa menjadi pekerja seks karena menjadi tawanan perang perempuan, dan harus melanjutkan profesinya demi hidup layak ke-empat anaknya. Bukankah kondisi seperti ini memang sangat dekat dengan kondisi riil perempuan saat ini?

Dewi Ayu, tokoh dalam novel ini adalah manifestasi perlawanan terhadap sistem patriarki yang mengurung perempuan atas pilihan hidup yang dia ambil. Hanya dalam novel inilah perempuan bisa dihargai, termasuk karena ia adalah perempuan pekerja seks. Perlawanan Dewi Ayu dengan sikap yang tenang mampu membius pembaca, dan dengan tidak langsung, akan membakar amarah siapapun yang mulai menjajaki tiap babnya.

Dalam novel ini, karakter utama digambarkan sangat mengerti kondisi sosial lingkungannya, yang sangat misoginis dan melihat perempuan sebagai alat seksual. Ironinya, apa yang digambarkan Eka pada zaman pra-perang hingga kemerdekaan dalam novelnya, hingga kini masih relevan.

Cantik, semua hanya tentang cantik. Perempuan dalam novel Eka maupun kehidupan nyata diciptakan sebagai pemuas pandangan dan fantasi laki-laki, jika tidak memenuhi standar kecantikan yang juga dibuat oleh laki-laki, kamu akan dianggap lebih rendah dari manusia.

 

Kutipan Terbaik Novel Cantik Itu Luka

 

 “Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya”― Eka Kurniawan

“Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“If I might share my opinion, this world is hell, and our task is to create our own heaven.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“You don’t need to belong to one another in order to love one another.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“Ini pohon ketapang menyedihkan itu, tempat kita berjanji akan bertemu kembali, kupersembahkan untuk kayu bakar pesta perkawinanmu.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“It’s not man’s job to think about whether God exists or not, especially when you know that right in front of your eyes one person is stepping on another’s neck.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“Why,” Comrade Yono couldn’t stop himself from asking, “do you care so much about those newspapers?” “Because the Russian Revolution would never have succeeded if the Bolsheviks hadn’t had their newspaper.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“Kecemasan datang dari ketidaktahuan.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?Tak perlu, ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

“Lelaki yang tengah menyetubuhi si gadis segera mencabut kemaluannya, meninggalkan bunyi “splosh” yang menjijikan, dan berlari dengan wajah sepucat roti busuk, diikuti ketiga temannya.”― Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

Judul Buku: Cantik Itu Luka

Pengarang : Eka Kurniawan

Tebal Buku : 479

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2015

 

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed