BPIP: Perbedaan adalah Keindahan dan Sebuah Keniscayaan

Kabar Utama117 Views

Kabar Damai | Jumat, 14 Mei 2021

Jakarta | kabardamai.id | Dewan Pengarah BPIP Try Soetrisno menyatakan setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi bangsa saat ini. Tantangan dari internal dan eksternal. Tantangan dari internal antara lain soal perbedaan.

“Kunci untuk mengatasinya adalah bagaimana menjadikan perbedaan bukan sesuatu yang bertentangan tapi keindahan,” ujarnya saat menghadiri acara Silaturahmi Ramadhan BPIP dengan PHDI, di Lapangan Tembak Ksatria Kopassus, Cijantung, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2021 lalu.

Terkait hal ini Wakil Presiden RI ke-6 ini mengapresiasi kerja BPIP yang menggelar silaturahim dengan berbagai kalangan termasuk dengan PHDI. Menurut dia silaturahim artinya pertemuan dalam percintaan.

Baca Juga: Semangat Toleransi, BPIP & KWI Buka Bersama sebagai Komitmen Bumikan Pancasila

“Ini suatu cerminan praktik hidup berpancasila. Agar kondisi seperti ini dikobarkan dengan berbagai macam kelompok dan cara,” katanya, seperti dilansir dari sindonews.com (12/5).

Ia berharap pertemuan-pertemuan ini dilanjutkan dalam implementasi dan dihayatinya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal senada dinyatakan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Sudhamek Agoeng. Ia berharap silaturahmi BPIP dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) bisa berlanjut dalam berbagai berbentuk kerja sama. Tujuannya, dengan kolaborasi itu bisa lebih mudah membumikan nilai Pancasila dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa saat ini.

“Untuk menyelesaikan persoalan ini tak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri. Harus dilakukan bersama-sama,” kata Sudhamek yang juga salah seorang pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace ini.

Ia mengatakan, ada tiga pintu masuk yang bisa ditindaklanjuti antara BPIP dan PHDI setelah silaturahim ini. Tiga pintu masuk itu adalah kemanusiaan atau kebhinekaan, pendidikan, dan sosial ekonomi. Pendekatan pendidikan ini dianggap powerfull untuk mengubah paradigma manusia. Dari paradigma yang destruktif menjadi paradigma yang baik seperti gotong royong.

“Tiga pintu itu pada intinya akan menuju ruang yang sama yaitu, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Sila yang relevan kita wujudkan,” ucap Sudhamek.

Dilansir dari SindoNews, acara silaturahmi ini dihadiri Kepala BPIP Yudian Wahyudi, dan Ketua Umum PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. Ikut mendampingi dalam acara Deputi I BPIP Prakoso, Deputi II BPIP K.A. Tajuddin, dan Deputi IV BPIP Baby Siti Salamah. Acara juga dihadiri anggota Dewan Pengarah BPIP yakni Try Soetrisno dan Sudhamek Agoeng secara daring.

 

Pentingnya Mengelola Perbedaan

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menjelaskan mengenai pentingnya mengelola perbedaan. Ia bercerita dulu ada sebuah negara adi kuasa, yang memiliki wilayah yang luas dan teknologi militer yang canggih. Tapi usia negara tersebut hanya sampai beberapa tahun. Negara tersebut runtuh tanpa berperang.

“Mengapa runtuh? Salah satu faktornya ada tidak adanya Bhinneka Tunggal Ika. Di negara itu semua warga negaranya diseragamkan. Ini bertentangan dengan kodrat kemanusiaan,” kata Yudian.

Mantan Rektor UIN Yogyakarta ini mengatakan beruntung Indonesia memiliki Pancasila. Dengan Pancasila siapa pun disantuni dan diakui dengan berbagai macam pluralitas dan kemajemukan.

Sementara itu, Ketua Umum PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengatakan mengapresiasi kunjungan silaturahmi BPIP. Dia mengaku siap berkolaborasi dalam membumikan nilai-nilai Pancasila. “Pancasila sebagai dasar negara harus dipegang erat seperti burung garuda mencengkram,” kata Wisnu.

Menurut dia, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tak perlu dipertentangkan. Tapi dirawat agar menjadi taman yang penuh bunga warna-warni.

“Saya ingin mengajak untuk diteruskan ke seluruh rakyat Indonesia untuk saling menghormati satu sama yang lain,” tandasnya.

 

Kebinekaan dan Pluralisme Indonesia Harus Dijaga

Sebelumnya, Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Muhammad Sabri menyampaikan pentingnya menjaga kepelbagian (kebhinekaan) dan pluralisme di Indonesia dalam talkshow Sosialisasi Pancasila untuk Pemuda Nahdlatul Ulama di Cirebon, Jawa Barat, Minggu, 14 Maret 2021 lalu.

Menurutnya, masih ada oknum dan kelompok yang ingin menghancurkan kebhinekaan dan merongrong Pancasila menggunakan isu keislaman di Tanah Air.

“Indonesia itu negara Islam terbesar di dunia, makanya yang paling seksi dan sering mereka gunakan itu isu Islam,” kata Sabri, seperti dikutip Kompas TV (17/3).

Oknum dan kelompok itu memanfaatkan ruang digital atau media sosial untuk memecah belah masyarakat. Hal ini dinilai Sabri sangat mengkhawatirkan karena menyasar generasi milenial.

“Mereka itu kecil, tapi intens membenturkan isu Islam dengan mainstream. Kita harus berlomba-lomba memproduksi konten-konten keluhuran nilai-nilai Pancasila yang bisa menyapa milenial,” imbuhnya.

Dia juga mengingatkan perjuangan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang selama hidup merawat kebhinekaan dan pluralisme.

“Berdasarkan kajian budaya, terjadi pergeseran dari place to space. Tidak lagi fisik, ruang virtual kita manfaatkan. BPIP dan NU bisa bekerja sama secara riil memproduksi konten Islam dan Pancasila. Kebhinekaan itu by design Ilahi,” tandas Sabri.

Sementara itu, anggota Komisi II DPR RI Yanuar Prihatin menilai, sosialisasi Pancasila yang paling efektif dan paling kuat ialah melalui metode intervensi bawah sadar. Menurutnya dalam dunia mind technology, pikiran bawah sadar lebih didominasi oleh visualisasi, gagasan, kreativitas, imajinasi, ide besar, keindahan, dan sebagainya.

“Pada saat kita menyampaikan sosialisasi Pancasila secara sadar, sesungguhnya terjadi debat tentang Pancasila. Pancasila menjadi objek kritik. Ke depan perlu mendesain metodologi sosialisasi Pancasila melalui pendekatan intervensi pikiran bawah sadar,” ungkap Yanuar.

Ia melanjutkan, pikiran bawah sadar tersimpan gudang perilaku, gudang interpretasi, gudang habit, dan gudang bahasa. Pikiran di bawah sadar adalah blue print atau cetak hidup manusia di masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

Alasan mengapa manusia merasa hidup hari ini, menurut Yanuar, adalah karena blue print pikiran bawah sadar masa lalu telah membentuk perilaku saat ini.

“Sosialisasi Pancasila harus masuk kepada intervensi pikiran bawah sadar untuk membangun generasi Pancasila,” pungasnya. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *