by

BPIP dan Komite Olahraga Tradisional Kenalkan Pancasila Melalui Permainan

Kabar Damai  | Jumat, 16 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia mengenalkan Pancasila melalui ribuan aneka permainan rakyat kepada anak didik di Tanah Air.

“Sebetulnya dari permainan tradisional pun kita sudah belajar Pancasila,” kata Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP Dr Rima Agristina di Jakarta, Rabu, 14 Juli 2021.

Melansir Antara, dari ribuan aneka permainan tradisional tersebut, Rima mencontohkan permainan bola lima dan gasing yang dikonsep atau dikaitkan dengan butir-butir Pancasila.

Menurut dia, masing-masing bola tersebut diberi gambar atau lambang setiap butir Pancasila, yakni pohon beringin, padi dan kapas, bintang, rantai emas dan kepala banteng.

Baca Juga: HMI dan GMKI Sumut Bersatu Bumikan Pancasila, Perkokoh NKRI

Aneka permainan rakyat tersebut, katanya, diberikan atau dikenalkan kepada setiap satuan pendidikan mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD).

Dalam upaya mengenalkan Pancasila, kata dia, BPIP dan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia tidak hanya memacu pengetahuan anak tentang permainan tetapi mengasah kemampuan mereka terkait kreativitas anak bangsa.

“Jadi kita bukan hanya mengenalkan Pancasila tetapi juga mengangkat kreativitas perekonomian masyarakat,” ujar Rima.

Lebih jauh dari itu, katanya, BPIP memiliki tujuan supaya bangsa Indonesia berpihak kepada kekayaan bangsa sendiri. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

Tidak hanya melalui permainan tradisional, upaya mengenalkan kekayaan bangsa bisa dilakukan dengan membumikan aneka kuliner tradisional hingga fesyen misalnya batik dan kebaya.

“Ayo kita penuhi tempat wisata dengan kekayaan budaya kita sendiri,” tandasnya.

Bermain Sambil Belajar

Tahun 2020 lalu Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, pada pembukaan kegiatan daring “Pancasila dalam tindakan: Pembelajaran Pancasila melalui dongeng dan permainan tradisional,” menyebut bahwa permainan merupakan metode pembelajaran yang memiliki fungsi untuk memberikan hiburan dan sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dongeng dan permainan merupakan metode pembelajaran yang memiliki fungsi untuk memberikan hiburan dan sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui dongeng dan permainan (tradisional) kita dapat memahami nilai-nilai Pancasila sambil bermain. Dan di tengah pandemik Covid-19, dongeng dan permainan dapat dilakukan di rumah bersama keluarga,” ujarnya.

Melansir laman BPIP, kegiatan yang dihelat pada 12-13 Mei 2020 tersebut diselenggarakan oleh BPIP berkerjasama dengan Komunitas Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) dan sekolah Global Sevilla, Jakarta.

Bertindak sebagai narasumber adalah Ketua Umum KPOTI, Dr. Zaini dan Staf Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Martha.

Dalam kegiatan yang merupakan perwujudan dari Pancasila dalam tindakan, kedua narsumber menyampaikan tentang dongeng tentang nilai-nilai Pancasila dan memperkenalkan empat permainan tradisional yaitu Sarungan, Bola Bekel/Beklen, Papancakan dan Teuku Umar Spel. Bukan hanya diperkenalkan, tetapi juga dipraktekkan secara langsung oleh para siswa sekolah Global Sevilla dari kediaman masing-masing.

Dalam penjelasannya terkait masing-masing permainan, Zaini menyampaikan bahwa melalui permainan sarung kita diajarkan untuk melatih keseimbangan, merakyat, dan bergotong-royong. Permainan ini sangat erat dengan nilai-nilai keadilan sosial seperti bunyi sila ke-5 Pancasila.

Dalam permainan Bola Bekel, kita dilatih berpikir strategis, tangkas, jeli dan jujur. Hal ini sejalan dengan nilai Pancasila sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan ke sila 3 Persatuan Indonesia.

Melatih Cinta Tanah Air

Adapun mengenai permainan Papancakan, di dunia dikenal dengan nama Balancing Rock, menurut Zaini permainan ini melatih musyawarah, empati, fokus dan kerjasama. Nilai Pancasila sila ke-4 Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

“Adik-adik, tau kah kalian Teuku Umar Spel? Spel dalam Bahasa Belanda artinya permainan, jadi Teuku Umar Spel adalah Permainan Teuku Umar. Pada tahun 1886 Belanda menggunakan permainan ini untuk mempengaruhi rakyat Indonesia dengan menjadikan Teuku Umar sebagai musuh bersama yang harus disingkirkan,” begitu kata Zaini.

“Melalui permainan ini kita dilatih untuk cinta tanah air, berani, dan memiliki nilai kesatuan seperti sila Pancasila sila ke-3 Persatuan Indonesia adalah utuh dan tidak terpecah-belah, bersatu adalah salah satu cara agar negara kita menjadi bangsa yang kuat. Untuk bisa memenangkan permainan ini maka harus saling tolong-menolong dan menjaga persatuan antar pion yang dimainkan,” tambah Zaini.

“Teuku Umar Spel adalah permainan mirip catur yang juga disebut damdas. Permainan dimainkan oleh dua orang, bisa laki-laki atau perempuan, dengan memanfaatkan dua jenis pion yang berbeda serta papan berpetak sebagai sarana bermainnya. Namun, tidak seperti catur yang memiliki pion dengan bentuk dan langkah yang berbeda, pion pada permainan damdas umumnya hanya berupa dua jenis kerikil, batu, atau biji-bijian dengan warna serta bentuk berbeda, sehingga dapat dibedakan antara pion pemain yang satu dengan lawannya,” terang Zaini lebih lanjut.

Dengan penuh antusias para siswa mendengarkan dongeng Pancasila yang disampaikan Martha atau yang akrab dipanggil Kak Martha. Demikian pula halnya ketika praktek permainan tradisional yang dilakukan dari rumah masing-masing dibimbing Zaini, dengan penuh antrusias para siswa mempraktekkannya, bahkan beberapa siswa melibatkan orang tuanya masing-masing untuk bermain.

Memahami Nilai Pancasila dengan Cara Menyenangkan

Menanggapi pelaksanaan kegiatan mendongeng dan praktek permainan tradisional, Deputi bidang Pengendalian dan Evaluasi Dr. Rima Agristina menyampaikan bahwa melalui kegiatan semacam ini diharapkan bahwa para siswa sekolah dapat mengenal dan memahami nilai-nilai Pancasila dengan cara yang menyenangkan.

Bukan hanya itu, melalui kegiatan ini BPIP berkeinginan untuk mengenalkan modul-modul pembelajaran Pancasila melalui dongeng dan permainan tradisional yang sudah disusunnya. Harapannya modul-modul tersebut dapat diterima masyarakat. Selanjutnya dipelajari dan diterapkan serta dikembangkan sesuai dengan kearifan lokal di setiap sekolah di seluruh Indonesia.

Dongeng dan permainan tradisional dipilih karena sifatnya yang lentur untuk digunakan metode pembelajaran. Setiap daerah memiliki dongeng-dongeng yang sarat dengan kebaikan dan kearifan lokal yang mengandung niulai-nilai Pancasila. Demikian pula dengan permainan tradisional jumlahnya diperkiran sekitar 2.600 permainan. [ANTARA/BPIP]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed