by

BPIP dan Karang Taruna Kolaborasi Gotong Royong Bumikan Pancasila

Kabar Damai I Minggu, 22 Agustus 2021

 

Jakarta I kabardamai.id I Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Karang Taruna bekerjasama menghelat aksi-aksi sosialnya terutama gotong royong dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

“Ini tidak hanya menjadi kata-kata akan tetapi sejak awal telah terlaksana, sejak awal nilai kebersaman dan gotong royong menjadi sesuatu yang positif telah dilakukan oleh organisasi Karang Taruna, ” ujar Wakil Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono, M.Pd saat menjadi narasumber pada webinar dengan tema “Pancasila dalam Tindakan Peran Karang Taruna Sebagai Organisasi Sosial Kemasyarakatan dalam Situasi Pandemi COVID-19” Kamis, 19 Agustus 2021.

Melansir laman BPIP, Hariyono menyebut organisasi sosial dibawah Kementerian Sosial itu bukanlah lembaga atau organisasi yang baru, melainkan sudah  berdiri sejak tahun 1960 yang ditandai eksistensinya membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Karang taruna memiliki pengalaman dan prestasi yang tidak bisa diremehkan, organisasinya sudah bergerak aktif di setiap daerah tingkat Provinsi sampai dengan Desa”, jelasnya seperti dikutip dari bpip.go.id.

Bahkan menurutnya logo Karang Taruna yaitu perisai kuning yang menggambarkan nilai-nilai pancasila, terdapat didalamnya 4 helai, disimbolkan sosok remaja, sedangkan makna teratai sangat luar biasa dan menarik.

“Teman-teman di Karang Taruna ini sangat gagah, yang menarik fungsi Karang Taruna adalah menanamkan kesadaran dan penghayatan nilai Pancasila di masyarakat”, terangnya.

Ia bahkan mengapresiasi kolaborasi ini karena Karang Taruna sejak berdiri sudah sangat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan memiliki tanggung jawab moral serta fungsional untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: BPIP dan Komite Olahraga Tradisional Kenalkan Pancasila Melalui Permainan

“Bagaimana kita mengamalkan atau mengaktualisasikan nilai Pancasila bersamaan Karang Taruna. Mari merenungkan kembali simbol-simbol Karang Taruna”, lanjutnya.

Hariyono juga menjelaskan arti Yudha adalah sebagai seorang pejuang atau patriot yang tidak boleh menyerah, harus terus tumbuh dan mencari solusi, sebagai pejuang harus berbudi luhur, cerdas dan berkarya berbasis nilai keluhuran ini sangat kompatibel dengan nilai-nilai Pancasila.

“Menarik untuk kita renungkan bersama, apakah Pancasila hanya sebagai bahan diskusi atau bahan kehidupan bangsa negara ini. Pancasila bukan gen atau dna, Pancasila adalah sebuah nilai. Pancasila sebuah nilai yakni perjuangan, tanpa perjuangan pancasila tidak akan  terbukti”, tandasnya.

Wadah Pengembangan Generasi Muda

Laman Wikipedia memaparkan, Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa/ Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial.

Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomi produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia di lingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada.

Sebagai organisasi kepemudaan, Karang Taruna berpedoman pada Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga di mana telah pula diatur tentang struktur pengurus dan masa jabatan di masing-masing wilayah mulai dari Desa/ Kelurahan sampai pada tingkat Nasional. Semua ini wujud dari pada regenerasi organisasi demi kelanjutan organisasi serta pembinaan anggota Karang Taruna baik dimasa sekarang maupun masa yang akan datang.

Karang Taruna beranggotakan pemuda dan pemudi (dalam AD/ART nya diatur keanggotaannya mulai dari pemuda/i berusia mulai dari 11 – 45 tahun) dan batasan sebagai Pengurus adalah berusia mulai 17 – 35 tahun.

Karang Taruna didirikan dengan tujuan memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada para remaja, misalnya dalam bidang keorganisasian, ekonomi, olahraga, ketrampilan, advokasi, keagamaan dan kesenian.

4 Konsensus Dasar Negara

Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP Dr. Rima Agristina, S.H., S.E., M.M berharap meskipun BPIP merupakan lembaga baru dan Karang Taruna telah memiliki pengalaman panjang maka tetapi semangat baru dalam kegiatan sosial sesuai dengan 4 konsensus dasar negara.

“Upaya terbesar kita menciptakan keadilan bukanlah hal yang mudah, dengan cara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban Dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”, ungkapnya.

“Karang Taruna yang didasarkan Pancasila dan NKRI merupakan upaya untuk mencapai Indonesia yang adil dan makmur, prinsip Karang Taruna berjiwa sosial, kemandirian, kebersamaan, partisipasi, lokal dan otonom serta non partisipan”, imbuhnuya.

Rima juga mengakui prinsip Karang Taruna, menjadi menarik sebab Karang Taruna memunyai ciri dibentuk masyarakat, potensi dan sumber kesejahteraan sosial, berkedudukan di Desa/Kelurahan di seluruh penjuru negeri, wadah pengembangan potensi generasi muda dan masyarakat, berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan permasalahan sosial, sangat banyak sekali permasalahan sosial yang ditemukan di lingkungan bermasyarakat.

“Contohnya tantangan yang dihadapi paham ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, tindakan radikal, korupsi, penyalahgunaan narkoba, pandemi dan kondisi kerawanan bencana alam, ketika Karang Taruna mengajak seluruh masyarakat untuk mematuhi peraturan perundangan-undangan serta prokes adalah aktualisasi nilai Pancasila dalam Tindakan,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur PSPKKM Kementerian Sosial Seremika Br. Karo, S.H., M.Si menyampaikan Karang Taruna memiliki motto Adhitya Karya Mahatva Yodha, yang berarti pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan, serta terampil dan selalu berkarya.

“Motto itu selalu jadi pegangan PSPKKMK dalam setiap kesulitan. sejarah dan perkembangan karang taruna terdapat 6 fase, mulai dai fase pencanangan (1960), fase penumbuhan (1970), fase pengembangan (1980), fase penguatan (1990), fase pemantapan (2000), fase tantangan (2000-sekarang)”, ujarnya.

Seremika juga menerangkan PSPKKMK berorkestratif, berkolaboratif dengan metode pelayanan sosial yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, dalam rangka mendukung keberhasilan penyelenggaran kesejahteraan sosial.

“Kolaboratif dilakukan oleh Pemerintah Pusat hingga Daerah dengan masyarakat. Diakhir tahun Kemensos melakukan pimilihan pilar-pilar teladan bentuk aprisiasi kepada Karang Taruna”, tandasnya. [bpip.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed