by

BPET MUI: 45,5% Aksi Teror Dipengaruhi Ideologi Agama

Kabar Damai I Rabu, 27 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Wakil Ketua Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Irjen Pol. (Purn.) Hamli menyebut 45,5 persen pelaku teror di Indonesia memiliki motivasi melakukan aksi terorisme karena pengaruh ideologi agama yang ekstrem.

“Dari hasil penelitian, motif mereka melakukan aksi terorisme yang diambil dari sampel sebanyak 100 lebih pelaku teror pada tahun 2012 dan masih relevan sampai sekarang memang tidak tunggal. Namun, yang dominan adalah ideologi agama sebanyak 45,5 persen,” kata Hamli saat menjadi pemateri dalam kegiatan “Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Purnapaskibraka Sebelum Tahun 2021” secara daring, dikutip Antara, Senin, 25 Oktober 2021.

Dilansir dari laman Pusat Media Damai BNPT, pengaruh ideologi agama, lanjut Hamli, dapat muncul dari kelompok-kelompok yang mengakui beragama, namun tidak ingin bernasionalisme.

Untuk itu, Hamli mengimbau peserta kegiatan, yaitu para Purnapaskibraka dari tahun 1945 hingga 2020 yang akan ditetapkan sebagai Duta Pancasila dapat mewaspadai keberadaan kelompok yang menganut paham ideologi agama secara ekstrem, bahkan menggunakan cara kekerasan.

Imbauan tersebut secara lebih khusus diberikan oleh Hamli kepada para Purnapaskibraka yang baru memasuki kehidupan perguruan tinggi. Kelompok yang mengaku beragama tetapi tidak bernasionalisme memang kerap menanamkan pengaruh di sana.

Baca Juga: Fatwa MUI Berfungsi Jaga Kerukunan Bukan sebagai Dasar Kebijakan

Kelompok itulah yang dikategorikan sebagai kaum radikalisme. Menurut Hamli, kaum radikal akan menyuburkan sikap intoleran, anti-Pancasila, anti-NKRI, dan berujung menyebabkan disintegrasi bangsa. Setelahnya, ideologi agama yang mereka anut secara ekstrem akan disertai pula dengan beragam perbuatan yang menggunakan ancaman kekerasan hingga mengarah pada terorisme.

“Kalau ada orang yang mengatakan nasionalisme itu tidak benar, nasionalisme tidak berhadap-hadapan dengan agama, ini sudah bisa dimasukkan kategori radikal,” ucap Hamli.

Hamli menyarankan para Purnapaskibraka dan generasi muda secara umum yang menemukan kelompok radikal itu harus memberikan perlawanan, bahkan meninggalkan mereka. Dia menegaskan bahwa yang harus selalu diingat, Indonesia memang bukanlah negara agama melainkan negara yang beragama.

“Silakan apa pun agama Anda, Anda harus beragama, tetapi tetap harus bernasionalisme,” tegas Hamli.

Selain 45,5 persen motif berupa ideologi agama, ada beberapa motif lain yang mendorong seseorang melakukan aksi teror di antaranya adalah 20 persen pengaruh solidaritas komunal, 12,7 persen memiliki mentalitas massa, 10,9 persen ingin membalas dendam, 9,1 persen situasional, dan 1,8 persen separatisme.

 

Bukan Faktor Tunggal

Sebelumnya, peneliti di Laboratorium Psikologi Politik, Universitas Indonesia Joevarian Hudiyana menyebut bahwa banyak riset selama hampir dua dekade terakhir, termasuk riset kami di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, menemukan lebih banyak faktor.

Menurutnya, tindakan radikal sebenarnya ditemukan sepanjang sejarah manusia, tapi para ilmuwan sepakat bahwa peristiwa 11 September 2001 adalah titik awal ketika mata dunia mulai memusatkan perhatian kepada kelompok-kelompok teroris.

“Hingga saat ini, banyak pihak masih berusaha keras untuk mencari cara menangkal sekaligus melawan aksi-aksi radikal. Para ilmuwan dari berbagai disiplin berusaha menemukan faktor-faktor apa yang bekerja di balik radikalisme dan mencari tahu proses apa yang terjadi hingga orang bersedia mengorbankan nyawanya sendiri untuk melakukan aksi terror,” ujar Joevarian dalam laman theconversation.com (5/3/18).

Ia menambahkan, tokoh-tokoh populer seperti Richard Dawkins dan Sam Harris menyalahkan ideologi agama sebagai penyebab utama terorisme. Dawkins dalam bukunya The God Delusion memandang agama seperti virus yang memanipulasi manusia untuk mengorbankan segala sumber daya yang mereka punya (termasuk nyawa) demi eksistensi agama itu sendiri.

Begitu pula Sam Harris yang memandang kitab suci sebagai sumber intoleransi dan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda agama.

Tapi sebetulnya, kata dia,  aksi kekerasan dan tindakan radikal melibatkan faktor-faktor yang lebih kompleks dari sekadar narasi ideologis (agama). Pada kenyataannya, hanya segelintir orang dengan ideologi jihadis-salafi yang memilih melakukan aksi teror atas nama agama.

“Maka dari itu kita perlu melihat faktor-faktor lain yang menimbulkan kerentanan radikalisme selain dari agama. Saya mengumpulkan berbagai riset terkait hal ini dalam dua dekade terakhir dan menemukan beberapa factor,” tandasnya. [damailahindonesiaku/theconversation]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed