by

BNPT dan Mathla’ul Anwar Dorong Pemuka Agama Dakwah Bernada Kebangsaan

Kabar Damai I Senin, 06 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Propaganda radikalisme terorisme dilakukan oleh kelompok teror menggunakan berbagai macam metode dan media demi menarik simpati masyarakat. Tidak sedikit rumah ibadah digunakan sebagai corong menyuarakan propaganda.

Boy Rafli mengatakan korban dari propaganda radikalisme tidak sedikit. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah WNI yang bergabung dalam jaringan teror dan berangkat ke daerah konflik.

Menyikapi hal tersebut BNPT menggandeng MA sebagai salah satu organisasi agama Islam terbesar di Indonesia untuk melawan segala bentuk propaganda radikalisme melalui dakwah dan konten di dunia maya.

“Salah satu peran strategis yaitu entitas ulama, ormas Islam terbesar ke tiga ini menjadi harapan kita untuk sama-sama membangun imunitas bangsa kita dari pengaruh paham radikal terorisme,” ungkap Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., saat bertemu Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar (MA), KH. Embay Mukya Syarief beserta jajaran pengurus MA diJakarta pada Rabu (1/12).

BNPT mendorong dakwah-dakwah bernada positif yang mengusung semangat berbangsa. Ide ini pun didukung oleh KH. Embay Mukya Syarief.

“Tidak hanya membahas agama secara kontekstual, tetapi juga inkontekstual, narasi agama kita imbangkan juga dengan narasi kebangsaan,” ucap KH Embay Mukya Syarif.

Selama ini BNPT telah aktif melakukan komunikasi dan dialog bersama pemuka agama dan  organisasi keagamaan untuk memasukkan narasi kebangsaan dalam segala ceramah maupun dakwah keagamaan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) Komjen Pol. DR. Boy Rafli Amar, MH, menganalogikan radikalisme sebagai virus yang menyebar sangat cepat karena kemajuan teknologi. Ruang digital yang ada saat ini mempercepat proses radikalisasi dan mampu menjangkau pengguna internet di berbagai belahan dunia.

Boy mengungkapkan, untuk mencegah masuknya paham radikal itu, Netizen bisa melakukannya dengan cara membagikan narasi dan konten yang dapat mengedukasi serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap Indonesia.

“Harapannya, propaganda radikal terorisme dapat dieliminasi dengan narasi-narasi positif. Juga mengimbau agar tidak terkecoh dengan propaganda radikalisme terorisme yang dikemas dalam bentuk apa pun,” kata Boy dikutip dari website resmi BNPT RI, Jakarta, Jumat (3/12/2021).

Baca Juga: Masjid Al Amanah dan Gereja St Gabriel Menggelar Vaksinasi Toleransi

Menurut Boy, tantangan terbesar bangsa saat ini adalah melawan ideologi-ideologi yang bertentangan dengan nilai kebangsaan. Paham itu biasanya menghalalkan kekerasan dan biasanya dibalut dengan narasi agama. Karenanya, tidak sedikit masyarakat terjebak, bahkan generasi muda menjadi korban.

“Hasilnya kekerasan fisik dan nonfisik terjadi, bermula dari membentuk kelompok eksklusif dan intoleran hingga melakukan aksi teror dengan tujuan jihad,” katanya.

Berdasarkan hasil survei yang dirilis Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada 2020 menunjukkan 30,16% mahasiswa memiliki sikap toleransi beragama yang rendah. Boy menyebut, rendahnya toleransi beragama tersebut harus direspons karena jika dibiarkan dapat menjadi bibit radikalisme dan terorisme.

Menurutnya, vaksin paling ampuh dalam mematikan virus radikalisme adalah Pancasila yang sarat toleransi dan solidaritas. Pengaplikasian nilai Pancasila, kata Boy, dapat dilakukan dari lingkungan keluarga hingga tempat bekerja atau di setiap lini kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

“Kalau kita analogikan sebagai virus (ideologi kekerasan), vaksin yang paling pas adalah wawasan kebangsaan, nilai dalam ideologi Pancasila. Implementasi dan pengamalan pancasila harus dilaksanakan, jangan sampai narasi radikalisme masuk dalam kegiatan sehari-hari,” tutup Boy.

[BNPT/Kompas/ANTARA]

Editor: Ai SIti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed