by

BNPT Beri Masukan Freeport Antisipasi Terorisme dan Wujudkan Papua Damai

Kabar Damai I Senin, 14 Juni 2021

Timika I kabardamai.id I Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan sejumlah masukan kepada manajemen PT Freeport Indonesia untuk meningkatkan standar keamanan bagi para pekerjanya dari ancaman terorisme, terutama oleh kelompok separatis bersenjata yang kerap melakukan gangguan keamanan.

Berbagai masukan itu disampaikan oleh Kepala BNPT Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar bersama jajarannya saat mengunjungi area pertambangan PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Papua, Sabtu, 12 Juni 2021.

“Salah satu tugas BNPT yaitu di bidang perlindungan terhadap sarana dan prasarana, termasuk obyek vital nasional seperti PT Freeport Indonesia, pusat-pusat kegiatan masyarakat yang perlu mendapatkan perlindungan seperti Bandara, Terminal dan Pelabuhan Laut. Area-area publik seperti itu sangat dimungkinkan terjadinya aksi serangan teror,” kata Boy Rafli di Timika, seperti dikutip dari Antara (13/6).

Boy Rafli mengatakan langkah-langkah mitigasi guna mencegah aksi teror di lingkungan perusahaan harus selalu dievaluasi dan dinilai terus-menerus untuk memastikan apakah sudah berjalan maksimal atau tidak.

Baca Juga: BNPT: Pemuka Agama Ujung Tombak Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

“Kami melihat kecukupannya seperti apa mengingat dalam beberapa kurun waktu terakhir banyak dari karyawan PT Freeport menjadi sasaran korban penembakan di wilayah tempat mereka bekerja. Kami meng-update dan meng-assessmentapakah sudah ada kecukupan dalam mewujudkan keamanan itu. Tentu ada masukan-masukan berkaitan dengan personel maupun pemanfaatan teknologi guna mengantisipasi ancaman-ancaman di bidang keamanan,” jelas Boy Rafli.

Jajaran BNPT menggelar kunjungan selama beberapa hari di Timika, ibu kota Kabupaten Mimika dengan agenda utama yaitu menggelar dialog nasional kebangsaan bersama tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan di sejumlah kabupaten di Provinsi Papua yaitu Mimika, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya.

Waspadai Terorisme dan Radikalisme

Sebelumnhya, dalam dialog nasional untuk kesejahteraan Papua dengan sejumlah tokoh Papua, Boy Rafli Amar mengajak warga Papua untuk mewaspadai masuk dan berkembangnya paham atau aliran radikalisme dan terorisme.

“Kita semua perlu mawas diri dan membangun kesiapsiagaan nasional. Masyarakat kita harus siap bahwa virus radikalisme dan terorisme itu bisa masuk ke mana saja. Masyarakat harus tetap berwaspada. Kita harus membangun kerja sama bergandengan tangan dengan aparat,” kata Boy Rafli di Timika, seperti dikutip dari Antara.

Mantan Kapolda Papua itu menyebut aktivitas atau kegiatan radikalisme dan terorisme bisa terjadi di mana saja, termasuk di wilayah Papua, sebagaimana diungkap aparat kepolisian belum lama ini di Merauke.

Setiap negara di dunia, katanya, harus berupaya mengantisipasi hal itu sebagai dampak dari propaganda jaringan teroris internasional seperti Alqaeda, ISIS dan Taliban.

“Mereka terus melakukan propaganda di seluruh dunia untuk mencari rekrutan baru. Papua tentu menjadi salah satu tempat yang sangat mungkin jaringan mereka bisa tumbuh dan berkembang. Makanya kemarin di Merauke aparat melakukan deteksi dini untuk mencegah aktivitas yang mengarah pada kekerasan,” terangnya.

Boy menyebut propaganda ideologi terorisme dan paham radikalisme sangat masif dilakukan melalui media sosial atau dunia maya.

Kelompok tersebut, katanya, senantiasa menyalahgunakan ajaran agama untuk tujuan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

 

Syarat Penting Agar Papua Damai dan Sejahtera

Boy Rafli Amar menilai, konflik dan kekerasan di Papua harus segera diakhiri. Hal tersebut sangat penting untuk dapat mewujudkan cita-cita masyarakat Papua yang damai dan sejahtera. Inilah yang menjadi alasan BNPT menggelar dialog nasional untuk kesejahteraan Papua dengan sejumlah tokoh Papua.

Mulai dari tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Mimika, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya.

“Tujuan dari adanya dialog nasional ini pada akhirnya, yaitu untuk mewujudkan Papua yang damai, Papua yang sejahtera. Untuk bisa ke arah sana, Papua yang aman terlebih dahulu yang harus kita wujudkan ke depan,” kata Boy Rafli, dikutip dari JPNN.com (11/6).

Boy menyebut inisiatif BNPT untuk menggelar dialog nasional dengan para tokoh Papua merupakan bagian dari upaya mencari solusi. Utamanya, bagaimana mengatasi aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua akhir-akhir ini, terutama kekerasan oleh kelompok bersenjata.

Guna meredam berbagai tindak kekerasan di Tanah Papua itu, menurut Boy Rafli, diperlukan pendekatan-pendekatan yang mengarah pada pembangunan kesejahteraan.

“Masalahnya adalah bagaimana adanya hubungan komunikasi yang konstruktif antara unsur-unsur di pemerintahan dengan masyarakat, sehingga kita bisa mendengar secara langsung apa yang diinginkan oleh masyarakat dan pendekatan apa yang tepat yang dapat kita lakukan melalui kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan,” ujarnya.

BNPT mempromosikan pendekatan yang bersifat lunak atau soft approach yang berbasiskan kesejahteraan masyarakat, dengan membangun sinergi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah dengan para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat.

Boy Rafli menambahkan,  upaya-upaya dialog selalu dibangun oleh pemerintah untuk mengatasi dan mengakhiri berbagai kekerasan di Tanah Papua menuju Papua yang damai dan sejahtera.

Boy Rafli meminta peran aktif para tokoh untuk terus-menerus memperjuangkan dan mendorong terciptanya iklim yang damai dan menjauhkan kekerasan di Tanah Papua.

“Kita sudah menjadi negara demokrasi, tentunya tidak boleh ada kekerasan. Kalau masih ada kekerasan di dalam negara demokrasi, maka pasti indeks demokrasinya bermasalah,”tandasnya.

“Kekerasan apa pun hanya mendatangkan hal yang tidak baik, apalagi sampai mengakibatkan kematian bagi pihak lain, sangat tidak dibenarkan. Jika itu terjadi berarti perlindungan terhadap warga masyarakat perlu kita tingkatkan lagi,” pungkas Boy.

Kegiatan dialog nasional yang digagas BNPT juga dihadiri Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Agus Rohman, Wakapolda Papua Brigjen Pol Dr Eko Rudi.

Kemudian, Bupati Mimika Eltinus Omaleng, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, dan perwakilan Pemkab Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya. [Antara/jpnn]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed