by

Biografi Nabi Muhammad yang Tidak Tunggal dan Tidak Selesai

Oleh Muhamad Ali

 

Senin kemarin, graduate seminar kami membahas buku Kecia Ali’s The Lives of Muhammad. Banyak hal yang kita kaji, antara lain.

Poin pertama, Nabi Muhammad dipahami dan ditafsirkan secara berbeda-beda dari orang ke orang, aliran ke aliran, dan berubah dari waktu ke waktu, meskipun ada semacam kesepakatan dalam beberapa sisi kehidupan dan risalah Nabi yang umum diajarkan turun temurun di kalangan Sunni dan di kalangan Syiah, dan bahkan sebagain sarjana Barat yang empatik terhadap bagaimana Umat Islam pada umumnya memahami posisi Nabi.

Sejak pertemuan umat Islam dengan berbagai agama dan kebudayaan, narasi Nabi dan keluarga mengalami perubahan dan perkembangan, antara lain membela sisi-sisi kehidupan Nabi yang dikritik sebagian penulis Eropa Kristen dan Yahudi terhadap Nabi dan ajaran agama yang dibawanya, seperti menyangkut poligami, jihad dan qital, dan perbudakan.

Akibatnya, narasi Timur dan Barat tentang Nabi Muhammad sering saling berhubungan satu sama lain. Buku-buku tentang Muhammad sangat berkembang di Barat, dan figur Muhammad sebagai Nabi dan pemimpin moral-spiritual dibahas bersamaan dengan tokoh-tokoh lain seperti Yesus dan Buddha. Tapi Nabi Muhammad juga  ditafsirkan berbeda-beda, sebagai panglima perang, sebagai ayah dan imam keluarga, sebagai pemimpin Negara, sebagai guru mistikal, sebagai manusia super, dan bahkan sebagai CEO perusahaan.

Baca Juga : Kakanwil Kemenag Sulsel: Teladani Sikap Toleran dan Moderat Nabi Muhammad

Poin kedua, sumber-sumber sejarah awal Nabi Muhammad sangat terbatas, utamanya Sirah Ibn Ishaq, dan itu pun diperdebatkan nilai historis sebagian isi dan sumber-sumbernya. Sumber-sumber lain, seperti hadis-hadis pun diperdebatkan ulama Islam baik di kalangan Sunni maupun antara Syiah dan Sunni yang memiliki cara pandang otentisitas dan otoritas sumber yang berbeda. Misalnya, mengapa Sirah kaum Sunni pada umumnya menekankan peran istri Nabi Khadijah dan Aisyah, sedangkan Sirah kaum Syiah menekankan putri Nabi Fatimah, yang menikah dengan Ali. Sedikit sumber-sumber baru ditemukan dan sebagiannya ditafsirkan sebagai alternatif atas narasi tradisional dan umum diajarkan turun temurun.

Poin ketiga, banyak sisi kehidupan Nabi dan keluarga yang seolah sudah pasti kebenaran sejarahnya di banyak kalangan, tapi sebetulnya tidak begitu pasti. Bagaimana sebenarnya hubungan Nabi dengan Kafir Quraish, dan beberapa kaum Yahudi dan kaum-kaum Nasrani ketika itu. Juga hal-hal rinci lain, misalnya, apakah Muhammad atau Ahmad, sebagai nama asli sejak lahir atau nama sifat yang ditujukan kepada beliau; siapakah nama Ayah sebenarnya apakah benar Abdullah (Hamba Allah) untuk mendukung ayah beliau juga beriman kepada Allah, dan apakah benar nama Aminah, juga berarti perempuan yang beriman atau yang dipercaya.

Begitu pula, kisah-kisah supra rasional seperti apakah benar Nabi dibelah dadanya karena tidak ada ayat Al-Quran yang menunjukkan itu secara eksplisit; apakah benar ada mujizat-mujizat luar biasa selain Al-Qur’an dalam bentuk mujizat kitab atau teks, yang berbeda dengan mujizat-mujizat nabi-nabi sebelumnya seperti Musa dan Isa sesuai dengan konteks budaya mereka.

Pertanyaan lain tentang usia Khadijah, apakah benar 40 tahun, dan berapa usia Muhammad ketika menikah, apakah benar 25 tahun. Juga usia pernikahan Nabi dengan Aisyah, setelah Khadijah wafat, apakah benar 6 tahun, 7 tahun, atau sekitar 8-9 tahun. Diskusi lebih lanjut juga menyangkut mengapa Nabi kemudian menikahi Aisyah, juga janda-janda seperti Saudah, Hafshah, Zainab, Ummu Salamah, Juwairiyah, Ummu Habibah, Shafiyah, Jamilah, dan Jariyah. Sulit mengetahui apa latar belakang dan tujuan pernikahan-pernikahan ini, meskipun para penulis berusaha menafsirkannya.

Poin keempat, kajian dan publikasi tentang Muhammad SAW dari berbagai aspek masih akan muncul. Kalangan sarjana Muslim masih harus mengkaji dan menulis tentang sejarah Nabi Muhammad, dengan berbagai sumber yang ada dan metode penafsiran yang lama dan baru, jangan kalah dengan para pengkaji “non-Muslim” yang makin banyak menerbitkan buku-buku baru tentang Baginda Muhammad.

Poin kelima, Muhammad sebagai sosok historis dan Muhammad sebagaimana dimaknai para pengikut setianya bisa saja berbeda, dan bisa saja ada titik temu dan titik singgung kesamaan. Namun pemaknaan dan sikap umat Islam di berbagai penjuru dunia telah melahirkan tradisi dan kebudayaan yang sangat kaya dan beragam, bukan hanya dalam bentuk perayaan kelahiran atau Maulid (yang tidak ada pada zaman Nabi dan para sahabatnya) tapi juga syair, puisi, sastra, buku-buku bergambar untuk anak-anak, atau bahkan sirah-sirah, dan kajian-kajian dalam berbagai pendekatan dan tujuan.

Poin keenam, para pengikut telah dan akan terus berbeda-beda dalam menjadikan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah, teladan baik, dan berbeda-beda dalam memaknai dan menjalankan mana sisi kehidupan Nabi yang universal dan berlaku bagi kehidupan mereka masing-masing dan sisi-sisi mana dari kehidupan Muhammad dan keluarganya yang hanya terjadi dan berlaku di Mekah dan Madinah pada masa itu.

 

Prof. Muhamad Ali, Ph.D.,  Associate Professor, Religious Studies Department & Chair, Middle East and Islamic Studies Program, University of California, Riverside.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed