by

Bersatu dalam Nada Toleransi

-Peacetrain-93 views

Kabar Damai | Senin, 26 April 2021

Salatiga | kabardanai.id | “Hahaha” suara itu memecahkan langit yang semakin menghitam. Bukan karena hendak hujan. Melainkan hari memang semakin larut. Angin malam ikut menyemarakan kegiatan malam itu. Ini merupakan kegiatan malam terakhir dari Peace Train Indonesia (PTI) ke-12.

Semua peserta PTI berkumpul di sebuah ruangan di Joglo Bocah. Serta berdiri bersama dalam satu panggung. Bersenandung bersama melantunkan sebuah lagu ciptaan mereka sendiri.

“Hidup rukun damai negeriku. Bahasa, agama, budaya. Berbeda indah di Nusantara,” ujar peserta PTI sambil melantunkan liriknya.

Usai menyanyikan lagu itu, acara dilanjutkan penampilan setiap kelompok. Ada empat kelompok yang bergiliran tampil. Hingga tibalah kelompok tiga. Yang mementaskan sebuah drama bertajuk Toleransi untuk transgender.

Drama dibuka dengan seorang laki-laki yang duduk di sebuah kursi kecil. Mukanya tampak sedih. Tak ada rasa bahagia yang terpancar.

Kemudian datang seorang perempuan yang membawa sebuah kertas. Bertulisakan ‘Sampah masyarakat’. Tulisan itu ditempalkan kepada laki-laki yang sedang duduk itu. Setelah itu datang seorang laki-laki yang juga menempelkan hujatan-hujatan kepada laki-laki yang duduk di kursi.

Kedua orang itu menempelkan tulisan secara bergantian. Hingga tubuh si laki-laki yang duduk di kursi penuh tulisan hinaan dan makian.

Baca Juga : Masjid Damarjati, Potret Pusat Syiar Islam Sekaligus Saksi Sejarah Perang Diponegoro

Koordinator kelompok tiga Vikram Surya mengatakan adegan ini menggambarkan kehidupan transgender yang sering disudutkan. Masyarakat sering memberikan stigma buruk kepada mereka. Bahkan tidak jarang sampai tindak pengusiran.

Tidak hanya masyarakat. Pada drama itu juga menggambarkan tindakan dari negara yang sering memarjinalkan kalangan trans. “Nah ini yang ingin kami sampaikan kepada teman-teman. Pentingnya menghargai perbedaan,” ujarnya.

Selain itu, Anggota Kelompok Tiga Ria berharap dengan adanya adegan ini, diskriminasi terhadap transgender bisa berkurang. Serta masyarakat bisa menerima para transgender. “Perbedaan untuk bersatu,” kata anggota Persatuan Waria Semarang itu.

Sementara itu Perwakilan Persatuan Gereja-gereja di Indonesia Pendeta Jimmy berharap dengan adanya pentas seni bisa mengilhami para peserta PTI. Sehingga bisa menambah spirit toleransi. Selain itu mindset peserta yang sebelumnya eksklusif bisa menjadi inklusif.

“Mudah-mudahan perjalanan teman-teman membawa sejarah sendiri. Tentunya untuk diri sendiri dan orang lain,” ungkapnya. [ ]

Penulis Andre Bakhtiar, peserta Peace Train dari Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed