by

Bersama Mengenali Jenis Kekerasan Berbasis Gender Online

Kabar Damai I Selasa, 8 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Siapa sangka kalau kekerasan gender tidak hanya secara langsung tetapi juga melalui dunia maya seperti media sosial. Hal ini menjadikan Kekerasan Berbasis Gender Online atau KBGO mengalami peningkatan signifikan.

Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, angka kasus KBGO mencapai 940 kasus atau meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Di 2019 sebelum pandemi, KBGO ini terjadi 241 kasus.

Apa itu kekerasan berbasis gender online? Dilansir via theconversation.com, KBGO merupakan serangan terhadap tubuh, seksualitas, dan identitas gender seseorang yang difasilitasi teknologi digital. Kekerasan ini bisa menyerang siapa saja, lho.

Oleh karena itu, kita harus kenali bentuk kekerasan berbasis gender online atau KBGO. Ada sembilan bentuk kekerasan seksual online. Dilansir dari CewekBanget.id, Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang memaparkan setidaknya ada 9 bentuk kekerasan seksual yang marak terjadi.

Cyber Hacking hingga Cyber Stalking

Pertama ada Cyber Hacking, penggunaan teknologi secara ilegal. Ditujukan untuk mendapat informasi ilegal atau merusak reputasi korban. Ada juga Cbyer Harrasment yakni penggunaan teknologi untuk menghubungi, mengancam, atau menakuti korban. Selain cyber harrasment ada juga KBGO yang mirip dengan cyber hacking.

Baca Juga: Kemenkominfo Berikan Tips Jaga Data Pribadi untuk Cegah Kekerasan Gender Online

Hal tersebut adalah impersonation. Impersonation adalah penggunaan teknologi untuk mengambil identitas orang lain dengan tujuan mengakses informasi pribadi, mempermalukan, menghina korban, atau membuat dokumen palsu.

Marak juga Cbyer Recruitment yang menggunakan teknologi untuk memanipulasi korban sehingga tergiring ke dalam situasi yang merugikan dan berbahaya. Selain itu, ada pula Cbyer Stalking, Kawan Puan. Jenis KBGO ini ialah saat ada penguntitan tindakan atau perilaku korban yang dilakukan dengan pengamatan langsung atau pengusutan jejak korban.

Dari revenge porn sampai sexting

Selain 5 hal di atas, kekerasan gender berbasis online juga bisa terjadi dengan modus menyebarkan foto dan video tidak senonoh. Tujuannya adalah membuat reputasi korban rusak.

Tindakan Revenge Porn sebagai bentuk kejahatan siber menggunakan media sosial sebagai ruang untuk mempublikasikannya. Kejahatan ini dilatarbelakangi oleh rasa dendam  pelaku terhadap korban, motif untuk mencemarkan nama baik atau merendahkan korban.

Tidak jarang pula pelaku memeras koban dengan ancaman seperti akan mempublikasikan video/gambar pribadinya kepada orang-orang tertentu seperti orang tua,teman atau rekan kerja. Selain dari video dan gambar  kerap kali pelaku mempublikasikan informasi pribadi korban termasuk identitas diri,alamat bahkan tautan link ke profil media sosial korban.

Dampak dari Revenge Porn ini tak jarang korban setelah videonya beredar akan dijadikan sebagai objek seksual bersama dengan memanfaatkan birahi masyarakat. Dampaknya lainnya juga, kebanyakan masyarakat justru akan menyoroti korban utamanya perempun sehingga berujung pada adanya tekanan sosial yang tidak memihak pada korban.

Tekanan tersebutlah yang tak jarang menimbulkan depresi atau bahkan bisa saja ada usaha untuk bunuh diri. Berdasarkan peraturan yang berlaku di Indonesia  Reverenge Porn merupakan perbuatan  melawan hukum. Perbuatan  yang terjadi jika sesorang  melakukan  pelanggaram terhadap hak orang lain atau melanggar kesusilaan maupun kepantasan yang layak dalam kehidupan bermasyrakat. Dari hal tersebut menyebabkan lahirnya akibat hukum berupa sanksi yang tidak dikehendaki oleh pelaku.

Di Indonesia sanksi atau hukuman mengenai tindakan Reverenge Porn di atur dalam 3 peraturan; Kitab  Undang -undang Hukum Pidana, ( KUHP ), UU Nomer 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, dan UU No 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan  atas UU Nomer 11 Tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam KUHPidana  terutama pasal 282 ayat 1 dijelaskan bahwa seseorang yang menyiarkan, mempertunjukan atau menempelkan di muka umum berupa tulisan, gambar, atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.

Sedangkan dalam UU Nomer 44 tahun 2008  tindakan memperbanyak serta penyebarluasan perbuatan yang mengandung unsur pornografi dipidana dengan pidana  paling singkat enam  bulan dan paling lama  dua belas tahun, serta pidana denda paling sedikit dua ratus lima puluh juta rupiah dan paling banyak tiga miliar rupiah.

Pun dengan  UU Nomer 19 Tahun 2016 Pasal 45;tindakan mempublikasikan dan dapat diaksesnya informasi elektronik yang mengandung muatan  melanggar kesusilaan dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau pidana denda paling banyak satu miliar rupiah. Ketentuan pidana yang diatur dalam pasal  ini tidak sebatas terhadap tindakan

Ada beberapa jenisnya. Saat teknologi digunakan untuk menyebarkan konten yang merusak reputasi korban atau organisasi pembela hak perempuan, berarti hal tersebut termasuk malicious distribution.

Sedangkan saat konten foto atau video pornografi disebarkan atas motif balas dendam, hal tersebut bisa masuk ke dalam revenge porn. Hal ini sama bahayanya dengan sexting yang merupakan pengiriman gambar atau video pornografi pada korban.

Terakhir ada morphing yang merupakan pengubahan suatu gambar atau video dengan tujuan merusak reputasi orang yang berada di video tersebut. Morhping sangat sering terjadi, terutama kepada beberapa selebriti.

Ketahui jenis KBGO agar kita bisa mencegahnya!

 

Diolah dari berbagai sumber

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed