Bersahabat dengan Perbedaan

Oleh: Sekar Aprilia Maharani

Keberagaman itu indah. Indah, karena dengan beragam, kita dapat berkenalan dengan banyak perspektif. Mencintai potongan-potongan perbedaan yang mempersatukan, yang kesemuanya menjadi menyenangkan ketika dihadapi tanpa banyak tanya. Menerima untuk memahami. Memahami untuk menyayangi satu sama lain. Peluk erat perbedaan-perbedaan itu, karena dengan beda kita dapat saling melengkapi ketidaksempurnaan yang merepotkan.

Seperti ceritaku, cerita tentang seorang sahabat baik yang menemani perjalanan hidupku lima tahun belakangan ini. Namanya Vivy, perempuan cantik yang penuh inspiratif. Yang cerdas, tulus, dan selalu ada tiap kali aku butuh bercerita, butuh pundak, dan butuh mengembalikan diri menjadi lebih baik.

Vivy adalah seorang chineese yang kental dan taat beribadah. Ketika gereja menjadi tempatnya berpulang, aku menjadikan masjid dan tasbih sebagai caraku mendekatkan diri pada Tuhanku. Kami tidak pernah berselisih paham, walau dalam banyak hal kami berbeda. Dia tidak pernah mempersoalkan kesibukanku dalam organisasi keagamaan, jam sholatku di sela waktu belajar dan ngobrol kami, dan bahkan selalu mendukung penuh perjalanan hijrahku selama itu mengandalkan Tuhan.

Baca Juga: Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Menurut Islam

Dengannya, aku banyak mempelajari ilmu kehidupan. Tentang persahabatan yang tulus, kasih sayang, dan hal-hal baik lainnya yang tidak kudapati ketika bersahabat dengan orang lain. Dia tidak selalu membenarkanku, melainkan berusaha menjadikanku benar. Jujur untuk bilang aku salah, ketika menurut cara pandangnya ada yang keliru.

Memuji ketika aku patut dapat penghargaan dan selalu semangat untuk jadi support system dalam segala urusanku. Apalagi yang menyangkut cita-cita. Kami selalu sepakat bahwa akademik akan selalu jadi unsur nomer satu dibandingkan urusan-urusan lain yang patut diduakan. Berdoa, belajar, dan berusaha begitu kunci terbaik dari proses hidup ini yang kudapati dari Vivy. Ia bisa jadi teman, guru, ibu, bahkan juga bisa jadi koki yang sekarang sedang rajin-rajinnya mengirimkan resep makanan kepadaku, sahabat LDR yang sedang belajar mandiri menyikapi drama kos-kosan.

Perbedaan agama bukan sebuah batasan yang membatas-batasi persahabatan kami. Aku bahkan tidak pernah terganggu dengan urusannya dan urusanku yang bersebrangan. Dia pun begitu. Kami sama-sama ada, untuk saling membagikan energy baik dan positif. Saling menyemangati dan turut serta mendoakan kebaikan menurut cara kami masing-masing.
Selamat memeluk perbedaan-perbedaan itu.

Oleh: Sekar Aprilia Maharani, Ketua Umum LPM Untan 2020-2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *