by

Berperan: Potret Baik Gerakan Anak Muda Beri Manfaat Bagi Sesama

Kabar Damai I Kamis, 24 Juni 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Pendiri bangsa, Bung Karno bernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!. Sejarah bangsa kita membuktikan, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan, bahkan hingga saat ini.

Zaman sekarang, usia muda bukanlah menjadi sebuah pengahalang untuk berkarya bagi sesama. Generasi muda punya cara sendiri untuk menjawab masalah-masalah sosial disekitar mereka. Memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan media sosial, mereka melahirkan karya-karya inspiratif.

Hal tersebut telah dilakukan oleh dua pemuda inspiratif yaitu Regita Manjali, Resource Mobilization Direstor @tabu.id, Head of Curriculum & Content @semesta.akademi dan Albertus Gregory Tan, Founder @Jalakasih. Keduanya memaparkan apa yang bisa pemuda lakukan dalam rangka memberikan peran baik diera kini dalam live bersama Radio Katolikana.

Albert diawal pemaparannya menjelaskan tentang apa kita Jalakasih. Menurutnya, Jalakasih adalah platform digital yang bernaung dibawah Yayasan Vineadei, mempertemukan umat Katolik yang memperlukan bantuan dengan umat Katolik yang ingin berbagi atau membantu.

Ia juga mengungkapkan, berhubungan dengan gerakan yang ia jalankan tidak terlepas dari peranan bangsa Indonesia yang sangat peduli, suka menolong dan suka membantu. Hal tersebut merupakan ciri khas dan nilai luhur turun temurun yang telah ada dan tidak pernah luntur hingga kini. Hal ini didukung oleh zaman yang semakin maju dan teknologi digital yang semakin berkembang sehingga sarana berbagi dapat semakin mudah dan dapat dilakukan dimana saja, darisana membuat gerakan yang ia jalankan terus berkembang baik dan membantu banyak orang di Indonesia.

Awalnya, sebelum memulai gerakan Albert pernah berkunjung pada daerah miskin yang minim akses dan sarana prasarana dan merasa terpanggil secara spiritual untuk melakukan hal berguna bagi masyarakat disana. Melalui postingan dari media sosial, ia kemudian menggalang solidaritas. Ia sempat menerima kritik dan cemoohan.

Ditengah lelah dan keputusasaan, ia menerima keajaiban berupa kiriman surat dan uang sebesar satu dollar. Dalam isi surat tersebut berbunyi perintah untuk menjadikan uang yang diterima untuk menjadi modal awal membangun gereja Katolik di Indonesia. Dari sana, ia sadar bahwa masih ada orang baik yang percaya padanya dalam melakukan kebaikan dan terus konsisten menjaga kepercayaan orang-orang yang lain yang jumlahnya semakin banyak hingga saat ini.

“Modalnya hanya satu yaitu bagaimana menjaga kepercayaan dari orang itu yang memang sulit untuk didapatkan tetapi juga sulit untuk dipertahankan. Bagaimana melayani dengan sungguh agar kepercayaan itu tetap ada,” ungkapnya.

Albert memulai Jalakasih seorang diri hingga lima tahun lamanya, lalu pada tahun keenam ia mulai mengajak tujuh orang muda untuk melayani bersama. Semakin besarnya Jalakasih dan semakin banyak orang yang percaya membuat Albert pada tahun 2017 membangun sebuah Yayasan. Kini, sudah ada kuranglebih empat puluh orang muda yang berada dibalik Jalakasih dan tersebar dimana saja dan tanpa dibayar sepeserpun.

“Itu adalah ciri khas atau warna pelayanan yang ada di Jalakasih,” tambahnya.

Kini, Jalakasih tidak hanya bergerak pada perbaikan gereja namun juga merambah ke dunia pendidikan. Albert mengungkapkan bahwa hal ini karena gereja akan lebih hidup tidak hanya karena ada bangunan fisiknya namun juga umat yang ada didalamnya.

“Gereja tidak hanya akan hidup karena bangunan fisiknya, namun juga umat-umatnya, orang mudanya yang meneruskan iman yang pasti akan bertumbuh dan berkembang kedepan yang perlu untuk dibina. Satu-satunya jalan untuk membina mereka agar lebih baik ialah melalui pendidikan,”.

“Kami melihat masih banyak masalah yang masih dapat kita bantu untuk membuat lebih baik. Kami melihat yang urgent untuk ditangani selain lingkup bangunan gereja masih sangat banyak anak-anak Katolik yang berada di daerah dan pedalaman dengan segala macam cara untuk sekolah sangat luar biasa dan harus diperjuangkan,” terangnya.

Kini telah ada 24 anak di Sumatera, Kalimantan dan NTT yang dibina dan dibantu oleh Jalakasih dalam pendidikan. Hal ini menurut Albert agar mereka dapat menjadi anak muda yang dapat menerima hal baik serta mau melayani dan berbagi kelak.

“Yang diharapkan lebih dari itu kelak mereka jadi orang muda yang punya hati yang sama seperti anak-anak muda yang ada di Jalakasih, hati yang mau memberi dan melayani. Itu menjadi target kami lewat pendidikan agar dapat memasukkan hal-hal baik kepada orang muda,” bebernya.

Baca Juga: Transmisi Nilai-Nilai Pancasila ke Generasi Z

Albert mengungapkan, lelah dalam berbagi berbakti pada jalan baik bagi sesama memang lelah, terlebih ia juga harus membagi waktu dengan bekerja. Namun menurutnya, semua lelah akan sirna dan terbayar tatkala ia menyadari bahwa apa yang ia lakukan berdampak baik bagi banyak orang.

 

Pemahaman Seksual dan Reproduksi dari Anak Muda

Tak hanya Albert, anak muda inspiratif yang memanfaatkan perkembangan zaman dan teknologi juga dilakukan oleh Angie. Ia memaparkan awalnya bergerak pada @tabu.id karena mengikuti lomba guna memberikan pemahaman kepada anak muda tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Ia memanfaatkan sosial media agar semakin dekat dengan anak-anak muda.

Berangkat dari  masalah tentang seksual dan reproduksi yang banyak dialami oleh remaja yang baru pubertas membuat mereka menjadi target utamanya. Namun, tidak hanya anak muda, kini @tabu.id juga mengulik tentang kekerasan berbasis gender dengan audiens orang-orang yang lebih dewasa. Secara target, platform ini akan diberlakukan untuk semua usia namun dimulai yang paling urgent terlebih dahulu yaitu anak muda.

Budaya di Indonesia hingga kini masih banyak yang menganggap bahwa pendidikan seksual adalah sesuatu yang tidak sewajarnya dibicarakan. Oleh karenanya, Angie menjelaskan cara @tabu.id dalam mensiasati permasalahan tersebut.

“Dari sini kita melihat sedang dalam proses agar terjadi komuniakasi yang baik antara orang tua  dan anak. Saat orang tua lebih terbuka terutama dengan pertanyaan-pertanyaan anak biasanya akan lebih nyaman dan mengganggap pembicaraan perihal seksual dan reproduksi itu biasa aja,” jelasnya.

Membahas tentang seksual dan reproduksi janganlah dimulai dari permasalahan-permasalahan yang besar, namun dapat dilakukan dari hal-hal yang sederhana.

“Jika berbicara soal kesehatan dan reproduksi banyak orang yang anggap porno, tapi sebenarnya jika dimulai dari hal-hal kecil sehari-hari juga dapat dilakukan,” tambahnya.

Masih sangat sedikit di Indonesia berdiri sebuah platform yang isinya membahas tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini membuat @tabu.id kini banyak bekerjasama dengan badan PBB dan juga kementerian layaknya Kementerian Kesehatan agar dapat lebuh banyak melakukan hal baik.

Kini, @Tabu.id yang telah berjalan sejak tahun 2018 telah memiliki lebih dari tujuh puluh volunteer. Begitupula dengan pengikut dimedia sosial yang jumlahnya tidak sedikit. Namun sayangnya masih banyak didominasi dari Pulau Jawa sehingga menurut Angie ia ingin agar lebih menyebarkan ke banyak daerah lainnya.

“Kita udah punya lebih dari tujuh puluh volunteer, pengikut dimedia sosial juga banyak tapi itu tidak cukup karena hanya didominasi dari Pulau Jawa, kita pengen gerakan kita bisa lebih banyak dinikmati dibanyak daerah di Indonesia lainnya,” paparnya.

Melalui gerakannya, Albert dan Angie menjadi bukti bahwa anak muda benar-benar dapat menjadi motor penggerak perubahan ke arah yang lebih baik. Lewat gerakan dan kesadaran dapat memberikan dampak besar bagi sesama. Satu yang terpenting adalah mau melakukan agar hal-hal baik dapat terus tumbuh pada hari ini, esok dan seterusnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed