by

Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi di Festival Film Cannes

Sebagai tanggapan terhadap meningkatnya antisemitisme, film animasi “Where Is Anne Frank” arahan sutradara Israel Ari Folman membahas perjuangan para pengungsi muda masa kini.

Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersembunyi dari kejaran Nazi di Amsterdam, Belanda, selama Perang Dunia II, pernah diadaptasi menjadi film pemenang Oscar satu dekade atau lebih setelah buku itu diterbitkan tahun 1947. Sekarang, hampir 75 tahun kemudian, cerita itu kembali tampil ke layar lebar, kali ini sebagai film animasi “Where Is Anne Frank” di ajang bergengsi Festival Film Cannes.

Versi cerita ini berfokus pada Kitty, teman imajiner dan alter-ego Anne Frank, yang menjadi curahan hati gadis itu di buku hariannya. Bertempat di Amsterdam masa kini, Kitty berangkat untuk menemui Anne Frank dengan merenungkan kembali isi buku harian itu. Film ini juga tentang romansa, petualangan, tentang seorang remaja cerdas yang mencintai kehidupan, yang menjaga adiknya Margot dan sering berkonflik dengan ibunya.

Baca Juga: 5 Film Pembawa Pesan Perdamaian

Muncul di Eropa masa kini, Kitty juga bertemu dengan orang-orang muda lain yang berada dalam bahaya dan melarikan diri dari konflik. “Ini mengingatkan Kitty pada Anne, dan fakta bahwa Anne tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri selama waktu persembunyiannya yang relatif singkat,” kata sutradara Israel Ari Folman. “Pengalaman ini mengubah Kitty menjadi seorang aktivis. Pada saat yang sama, dia menyadari kekuatannya untuk mempromosikan gerakan membela hak-hak anak.”

Menarik remaja mengenal kisah Anne Frank

Direktur artistik film itu, Lena Grubman, mengatakan bahwa tujuan penggunaan animasi adalah untuk membuat film ini “lebih mudah diakses” generasi remaja muda, yang tumbuh dengan internet dan yang mungkin cenderung tidak membaca buku Anne Frank. Film yang menceritakan kisah Anne Frank sepenuhnya dalam gambar dan animasi ini menggunakan gaya animasi yang hidup, dengan menggunakan 159.000 gambar yang dibuat di 15 negara.

Hasil akhirnya telah dipuji oleh para kritikus pada debut di Festival Film Cannes pekan lalu. “Kitty, teman imajiner yang disebutkan dalam buku harian Anne Frank, melompat dari halaman buku menjadi seorang gadis versi pena-dan-tinta yang hidup dalam darah dan daging dalam karya Ari Folman yang mengesankan,” tulis Hollywood Reporter.

Film ini juga menarik penonton muda melalui sketsa bergaya budaya pop yang lucu, seperti ketika penyanyi superstar Justin Bieber muncul di Museum Anne Frank. Film ini juga menampilkan soundtrack meriah Karen O dari band Yeah Yeah Yeahs.

“Setelah Kitty mengetahui bahwa Anne telah meninggal, dan kemudian menemukan batu pusara di Bergen-Belsen yang bertuliskan namanya, dia menulis surat kepadanya dan berjanji untuk mewujudkan impian Anne, untuk menyelamatkan setiap orang yang dapat diselamatkan,” kata Folman. “Dan dia berjanji untuk memenuhi mimpi Anne untuk jatuh cinta. Ini semacam sumpah persahabatan di antara kedua gadis itu.”

Anne Frank dan Buku Hariannya

Bersama keluarganya, tahun 1933 Anne Frank melarikan diri dari kejaran Nazi di Jerman ke Belanda. Selama Perang Dunia II ia harus bersembunyi untuk menghindari Nazi. Selama dua tahun bersama keluarganya, ia terpaksa bersembunyi di ruang rahasia di Amsterdam. Tapi seseorang telah mengkhianati mereka: Pada tanggal 4 Agustus 1944, keluarganya ditemukan, ditangkap dan dideportasi ke Auschwitz.

Otto Frank, ayah Anne, membangun perusahaan di Amsterdam. Bagian atas belakang gedung itu kemudian dijadikan tempat persembunyian. Dari tahun 1942-1944, keluarga yang terdiri dari empat orang itu kemudian tinggal bersama-sama dengan empat orang lain yang juga bersembunyi dari Nazi. Di sini, Anne Frank menulis buku harian yang terkenal. Sejak tahun 1960, rumah Anne Frank dijadikan museum.

Sejak awal, hampir setiap hari Anne menulis di buku hariannya. Buku ini menjadi teman baiknya dan diberi nama Kitty. Kehidupan mereka benar-benar berbeda dari waktu sebelumnya: “Yang saya suka, apa yang saya pikirkan dan rasakan, setidaknya bisa ditulis, kalau tidak saya akan benar-benar tertekan,” demikian tertulis di buku itu.

Anne Frank dan saudara perempuannya Margot dibawa pada tanggal 30 Oktober 1944 dari Auschwitz ke Bergen-Belsen. Anne dan Margot Frank meninggal di kamp ini akibat tifus. Anne baru berusia 15 tahun. Di kamp konsentrasi ini, lebih dari 70.000 orang tewas. Foto: Ketika kamp ini dibebasakan, para korban tewas diangkut dengan truk ke kuburan massal di bawah pengawasan tentara Inggris.

Di Bergen-Belsen terdapat makam Anne, gadis Yahudi dari Frankfurt am Main. “Saya tidak ingin hidup sia-sia seperti kebanyakan orang. Saya ingin membawa suka cita bagi orang-orang yang tinggal di sekitar saya dan juga yang tidak kenal saya. Saya ingin terus hidup .. bahkan setelah kematian saya “- demikian ditulis Anne di buku hariannya pada tanggal 5 April 1944.

Mimpi besar saya adalah untuk menjadi seorang jurnalis atau penulis. Berkat ayahnya, buku harian Anne dipublikasikan pada tanggal 25 Juni1947. Anne Frank adalah sosok simbolis untuk korban kediktatoran Nazi. “Kita semua hidup dengan tujuan menjadi bahagia, kita semua hidup berbeda namun sama,” tulis Anne Frank, 6 Juli 1944.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed