by

Berdialog dengan Waria, Memahami Sudut Pandang Minoritas

-Kabar Puan-101 views

Kabar Damai | Kamis, 29 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Tiga hari bersatu padu dalam ikatan toleransi, Peace Train Indonesia (PTI) Ke-12 menjadi waktu emas yang melampaui  ekspektasi dan imajinasi. Pertemuan singkat itu memberikan kenangan yang membekas dalam ingatan. Gelak tawa di penjuru tenda kemah masih terdegar dalam lamunan, bahkan ketika kegiatan tersebut telah usai. Semuanya menjadi candu karena kehadiran mereka.

Masih teringat dengan jelas nama mereka, yaitu Ria Ardana, Yessy Ariesta, Febby Gracia dan Marsya Louvers. Selalu bercanda bersenda gurau dengan para peserta lain, mereka masih muda dan buka wanita melainkan waria atau transpuan.

Perbedaan antara peserta seperti tak berarti, mejadikan PTI12 bukan hanya menjadi ruang dialog bagi anak bangsa lintas agama dan suku, namun juga menjadi ruang dialog bersama kaum minoritas.

Dalam perbincangan kami malam Minggu itu, mereka menggunakan kosmetik, tentunya dengan hiasan yang indah. Mereka terlihat cantik dengan tubuh semampai. Dari mereka para peserta berbagi dan diajak mengerti tentang bagaimana dan apa yang mereka rasakan.  Lalu bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya berani menemukan jati  diri mereka yang memang sejatinya adalah pilihan mereka sendiri.

 

Waria adalah Naluri Alamiah

Menurut Ria anggapan yang menganggap waria bisa ada karena pergaulan adalah anggapan yang salah, “Kalau waria itu bisa jadi karena pergaulan itu salah, waria itu bukan gila, bukan sakit, bukan kelainan, tapi naluri alamiah. Udah struktur dari tuhan memang udah seperti ini, kalau penyakit itu ada obatnya, tapi ini kan enggak.”

Baca Juga : Mengenal Lima Gender dalam Suku Bugis di Sulawesi

Kromosom itu tumbuhnya tidak akan bisa langsung, tetapi berubah secara perlahan. Karenanya jika ada individu yang memiliki kelamin ganda langsung bisa berubah dan menentukan jenis kelaminnya merupakan satu hal yang tidak mungkin. Tetapi harus dilihat dulu individu itu kromosomnya lebih banyak ke lelaki atau perempuan.

Yessy kemudian menambahkan lagi permasalahan yang berkelumit dalam kehidupan waria dan bagaimana stigma negative waria bisa muncul,

 

Media dan Diskriminasi Terhadap Waria

“Media itu kan suka banget melakukan pemberitaan yang hiperbola, padahal hal itu membuat kaum minoritas seperti kita down. Semakin stigmanya tajam. Kalau ada waria yang melakukan kesalahan pasti langung booming. Di mana-mana ada, padahal media gak klarifikasi waria melakukan itu sebabnya apa. Kadang beritanya gini “waria membunuh dengan sadis” padahal gak tau alasan waria membunuh itu karena apa? Nanti pas waria dibunuh gak diberitain. Pas diberitain dia udah mati. ” ungkap Yessy menyayangkan tindak diskriminatif media.

Lahir dari keluarga yang mayoritas berprofesi menjadi polisi, Ria berbagi cerita tentang orang tuanya, Ria membagikan kisah bahwa dirinyapun sempat bersitegang dengan kedua orang tuanya, perihal gender yang dia pilih.

“Aku juga dulu dipukuli, sampai sapu terbelah jadi dua. Keluargaku kan banyaknya jadi polisi. Dituntutnya ya menjadi laki-laki normal. Aku pernah dipukul sapu, terus  ditarik. Aku langsung lari cuman pake baju satu celana pendek pake sendal, gak punya uang aku lari aja. Sehari-hari ya pake baju itu satu pas kabur,” terangnya.

Ria mengungkapkan setiap waria punya masalah sendiri terkait orang tua. Ada orang yang keluarganya militer, ada yang keluarganya oang gak punya ada yang dikekang ada yang tidak.

Biasanya kalau ada yang dikekang mereka mencari jati diri dengan lari dari rumah. Karena mereka gak betah dikekang oleh orang tua. Biasanya mereka yang lari ini, mencari orang yang bisa mengerti mereka. Dan akhirnya lari ke dunia malam.

 

Berkarya Ajang Pembuktian Waria

Waria itu sama ada yang jahat ada yang tidak, tinggal nanti mereka mau menjerumusnya kemana, yang ke baik atau ke buruk. Untuk diterima kembali oleh keluarga, biasanya waria menunjukan  mereka punya skill, punya kemampuan, bisa hidup sendiri, dan menonjolkan kalau mereka bisa. Jangan sampai mereka menyusahkan orang tua.

Yessy lalu melanjutkan, “Kalau kita bisa berkarya, membantu orang tua, lambat laun kan, kan mereka bisa mengerti. Kan siapa juga yang mau punya anak kaya gitu, tapi kalau udah kaya gitu yaudah terima saja.   Kalau orang tuaku ya bisa menerima itu ya,” bebernya.

“Kalau anak udah kaya gitu ya diarahkan dikasih perhatian lebih, kalau kita mau ngarahin dia nanti malah jadi orang. Daripada nanti dia berontak malah pergi dari rumah, banyak kejadian kaya gitu. Jadi gila” ujar Ria kembali menambahkan tentang bagaimana seharusnya orang tua bersikap.

Ria bepesan, untuk peserta PTI 12 yang nantinya akan menjadi orang tua, jika anak-anaknya melenceng untuk dibimbing saja, karena jika didukung anak akan menjadi orang. Kenalkan dengan apa yang dia suka, kenalkan dengan penjahit kalau suka jahit. Lalu orang tua harus menjaga jangan sampai anak pergi malam, kalau  cari laki-laki, carilah laki-laki yang baik.

“Jadi kenapa banyak waria yang mangkal juga kan karena gak ada dukungan dari orang tua. Untuk cari makan kan cara cepetnya ya dengan mangkal. Waria itu banyaknya mangkal awalnya untuk bisa punya usaha make up salon dan lain-lain,” jelas Ria.

Persatuan Waria Semarang

Tergabung dalam Perwaris (Persatuan Waria Semarang), Ria dan teman-temannya disibukkan dengan kegiatan sosial seperti penyuluhan HIV/AIDS, berbagi takjil, berbagi dengan anak panti asuhan dan lainnya,  di luar aktivitas utama sebagai perias di salon.

“Perwaris itu berjejaring dengan LSM, contohnya mbak Yessy terjunnya ke PKBI kalau aku OPSI. Nanti Opsi berjejaring lagi dengan LBH, Kesehatan. Jadi jaringan kita luas nanti kalau ada penyuluhan HIV AIDS kita ditunjuk jadi pemateri. Nanti juga kalau ada kasus dari pekerja seks sendiri ya LBH minta bantuan,” ungkap Ria mengenai kesibukan yang waria kerjakan sehari-hari.

Persatuan Waria Semarang (Perwaris) sendiri sebagai komunitas sudah berdiri sejak 2006 dan dilegalkan tahun 2011.  Sebelum terbentuknya Perwaris ini sudah ada sebuah organisasi yang beranggotakan para waria, dulu namanya bukan perwaris yang bentuk Ibu Tin Suharto, dan biayai pemerintah, didukung oleh Gus Dur.

Berbagi mengenai pelayanan public pemerintah Indonesia terhadap waria, Ria megeluhkan dengan masih adanya tindak diskriminatif terhadap pelayanan public untuk waria.

“Contoh kecilnya pelayanan public yang simple adalah toilet. Ada gak toilet khusus waria? Jadinya  kalau aku ngerasa perempuan ya aku masuk toilet perempuan,” keluh Ria.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari Ria dan teman-teman memilih  untuk selalu berpikir positif dan tidak memikirkan apa yang orang lain bicarakan. Semua orang memiliki dosanya masing-masing. Lantas kenapa masih ada orang yang mengambil hak prerogative Tuhan dengan selalu menyalahkan waria selaku kaum minoritas?

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed