by

Berbagai Kelompok Suku dan Agama di Myanmar Bersatu Menentang Militer

-Kabar Manca-112 views

Kabar Damai | Sabtu, 03 April 2021

Myanmar | kabardamai.id | Myanmar semakin bergolak. Tiga kelompok etnis bersenjata di Myanmar mendesak militer untuk berhenti membunuh warga sipil saat Thailand membantu orang-orang yang terluka di perbatasan.

Dalam pernyataan bersama pada hari Selasa (30/3), the Ta’ang National Liberation Army, the Myanmar Nationalities Democratic Alliance Army, dan the Arakan Army (AA) mengatakan jika militer terus “membunuh para pengunjuk rasa, kami akan bekerja sama dengan para pengunjuk rasa dan melawan balik.”

Peringatan itu datang ketika the Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), sebuah kelompok pemantau, mengatakan pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 510 orang sejak perebutan kekuasaan 1 Februari lalu.

Baca Juga : Demi Perdamaian Seorang Biarawati Berlutut di Depan Polisi Myanmar

Total korban tewas pada hari Sabtu, yang menjadi hari paling berdarah selama kericuhan perebutan kekuasaan, telah meningkat menjadi 141.

Di tengah meningkatnya jumlah korban yang tewas, salah satu kelompok utama di balik aksi protes, the General Strike Committee of Nationalities, melalui surat terbuka pada Senin kemarin, menyerukan berbagai pasukan etnis minoritas yang ada di negara itu untuk membantu mereka yang menentang “penindasan dan ketidakadilan” oleh militer.

Keluarnya pernyataan dari tiga kelompok tersebut menunjukkan bahwa seruan itu mendapat perhatian serius dan bisa jadi akan menarik dukungan dari lebih banyak kelompok etnis lainnya.

Ketiga kelompok tersebut mendesak militer untuk membuka dialog dengan masyarakat penentang kudeta dan menyelesaikan krisis dengan diplomasi dan kompromi.

“Pembunuhan brutal terhadap warga sipil tak berdosa semacam ini tidak dapat diterima,” Khine Thu Kha, juru bicara AA, mengatakan kepada Reuters melalui pesan audio.

Jika kelompok tersebut angkat senjata, Debbie Stothard dari the International Federation for Human Rights (FIDH) mengatakan kepada AFP bahwa situasi yang ada dapat berpotensi menuju perang saudara.

Selain dari ketiga kelompok etnis di atas, tentangan juga datang dari kelompok dari berbagai latar belakang agama dan marjinal lainnya. Mereka bersatu menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh militer negaranya.

Dikutip dari laporan Bbc.com, Khin, seorang perempuan dari komunitas Muslim di Yangon, kota terbesar Myanmar, menangis ketika menceritakan bagaimana ia bahu-membahu mengumpulkan dan menyalurkan bantuan kepada gerakan pembangkangan sipil (civil disobedience movement, CDM).

“Dulu mereka membenci Muslim secara sengaja. Kami tidak bisa beramah tamah, kami membenci satu sama lain. Hampir semua masalah yang timbul dikaitkan dengan agama.

Mereka kini tahu kami semua bersaudara, semuanya satu keluarga,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa sebutan “mereka” ini mengacu pada penduduk mayoritas yang beragama Buddha.

June Khine, perempuan pemeluk Buddha, mengakui pernyataan Khin.

“Kudeta membawa banyak kemunduran, tapi peristiwa tersebut juga kini menyatukan berbagai etnik dan agama serta memberi ruang untuk saling memahami. Sebelumnya etnik-etnik minoritas kesulitan bertahan hidup ketika militer menyasar mereka, ketika terjadi perang saudara terus menerus di daerah mereka. Sekarang kami mulai memahami bagaimana rasanya hidup setiap hari di bawah penumpasan dengan kekerasan dan pembunuhan. Kami mulai bersimpati dan menyampaikan permintaan maaf yang sudah lama terlambat kepada mereka. Dan mereka menerima kami,” ungkapnya.

Meski berbeda agama, Khin dan June Khine sama-sama berasal dari Etnis Bamar, suku dengan populasi terbesar di Myanmar.

Keduanya mengaku sangat menyesal atas ketidakakuran yang terjadi selama ini dan malah justru mengedapankan perbedaan. Mereka kini sama-sama belajar dan berupaya memperbaiki kesalahpahaman di masa lalu.

Penulis: Hana Hanifah
Editor: Ahmad Nurcholish
Sumber: Bbc.com | Aljazeera.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed