by

Toxic Masculinity: Beratnya Jadi Laki-laki di Indonesia

Oleh: Diyanah Nisa

Kalian tau gak sih berapa jumlah penduduk laki-laki di Indonesia? Dilansir dari laman bps.go.id ternyata pada 2019 ada sebanyak 134.657.600 lho. Dengan jumlah yang tak sedikit tentu ada saja yang mengalami toxic masculinity.

Apa sih toxic masculinity itu? toxic masculinity merupakan fenomena ketika laki-laki dituntut untuk menghindari hal-hal yang dianggap mampu mengurangi maskulinitasnya demi menghindari stigma ‘laki-laki lemah’. Seiring berjalannya waktu, toxic masculinity diartikan sebagai norma  sosial tentang bagaimana laki-laki seharusnya berprilaku .

Anti-feminitas ini ditunjukkan dengan adanya standar kemaskulinitasan yang sifatnya cenderung memaksa. Kalian pernah denger ga kalau laki-laki itu ga boleh cengeng dan menangis? Nah inilah salah satu bentuknya. Sudah dianggap lumrah memang karena toxic masculinity ini mengakar dari dalam rumah hingga lingkungan pergaulan.

Tak jarang mereka yang tidak bersedia mengikuti standar ini justru jadi sasaran perisakan. Salah satunya narasumber yang kami temui. Kebiasaannya memakai krim anti matahari selepas sholat membuatnya kerap mendengar cemoohan “ihh kok kamu kaya cewe sih pake begituan”. Padahal bukan hanya perempuan saja yang butuh skincare, laki-laki juga lho.

Baca Juga: Maskulinitas: Alasan Boyband KPop Sulit Diminati Laki-Laki

Sama halnya saat ia meminta dibonceng teman perempuannya. Seolah mengurangi ‘kejantanan’, tak sedikit yang berkomentar “ihh kok cowo dibonceng cewe” padahal temannya sendiri tidak merasa keberatan, “nahh kalo yang kaya gitu sih aku biarin aja kaga diambil pusing” tambahnya.

Tak hanya di lingkungan pergaulannya saja, di lingkungan rumahpun ia kerap kali dikritik ketika menggunakan baju dengan warna cerah. “Tapi ayah saya kalo masalah sama beres-beres dia ga masalah. Cuma dia kalo aku pake celana jogger, baju warna cerah suka di bilang kaya perempuan” ungkapnya.

Narasumber yang identitasnya dirahasiakan ini mengaku kalau ia juga bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki, terlepas dari warna baju yang ia pakai. Makulinitas rapuh tidak hanya berdampak kepada laki-laki saja, tetapi juga perempuan. Norma sosial ini dapat membuat seseorang jadi misogyny, homophobia, violence, dan akan berpegaruh buruk terhadap kesehatan mental.

Pada dasarnya, standar maskulinitas setiap orang itu berbeda, kita tidak boleh menerapkan standar kita kepada orang lain. Pesan buat pembaca, mari kita belajar untuk saling menghargai dan menerapkan maskulinitas positif yaitu memberikan laki-laki pilihan berprilaku sesuai dengan yang ia inginkan karena setiap orang berhak mengekspresikan emosinya.

Diyanah Nisa, Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed