by

Belenggu Penderitaaan

Yathāpi mūle anupaddave daḷhe, Chinnopi rukkho punareva rūhati. Evampi taṇhānusaye anūhate, Nibbattatī dukkhamidaṃ punappunaṃ. Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan. Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan, maka penderitaan akan tumbuh berulang kali. (Dhammapada, syair 338)

Penderitaan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan. Penderitaan bukan hanya dialami oleh manusia saja, akan tetapi dapat dialami oleh semua makhluk yang ada masih memiliki nafsu keinginan dan kemelekatan. Singkatnya, penderitaan sangat wajar dialami oleh siapapun dan di mana pun selama masih diliputi oleh belenggu.

Belenggu merupakan fenomena intrapsikis yang mengikat seseorang bagi timbulnya penderitaan. Penderitaan yang ditimbulkan karena adanya belenggu bisa datang dari batin maupun jasmani. Berkaitan dengan belenggu ini, Buddha menjelaskan dalam Itivuttaka 1.15 kitab Khuddaka Nikaya:

“Bhikkhu, Saya tidak membayangkan belenggu lain – terbelenggu yang oleh karenanya mahluk yang tergabung berkelana dan berpindah-pindah dalam waktu yang lama – seperti belenggu keinginan. Terbelenggu oleh belenggu akan keinginan, mahluk hidup tergabung berkelana dan berpindah-pindah dalam waktu yang lama”.

Baca Juga: Ista Dewata dalam Siwa Tattwa

Berdasarkan penjelasan tersebut, mengisyaratkan bahwa makhluk hidup yang terbelenggu oleh keinginan akan mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karenanya, agar terbebas dari penderitaan sudah seharusnya kita meredam keinginan.

Dalam Buddha Dhamma, setidaknya terdapat sepuluh bentuk belenggu yang dapat menghambat pencapaian kebahagiaan, di antaranya adalah: pandangan salah, keraguan, kemelekatan, nafsu indria, hasrat buruk, nafsu materi, nafsu non materi, kesombongan, kegelisahan, dan ketidaktahuan.

Menunaikan kehidupan di masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan sandang, pangan, dan papan tentu memerlukan semangat juang agar tidak ada kesulitan, namun terkadang hal itu sulit diperoleh. Jika apa yang diharapkan tidak dapat diperoleh dengan mudah maka orang akan menganggap itu adalah belenggu yang mengganggu kebahagiaannya.

Menuruti dan mengejar keinginan mungkin akan memberikan kebahagiaan, akan tetapi hanya kebahagiaan sesaat. Orang terkadang terlena dan melakukan praktik yang kotor untuk memperoleh kebahagiaan sesaat tersebut. Manipulasi, Korupsi, berlaku curang, menipu dan lain sebagainya dilakukan untuk memenuhi keinginannya. Hasilnya memang memperoleh kebahagiaan, tetapi dalam waktu cepat atau lambat baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya akan mendapatkan akibat atas perbuatan yang telah dilakukan. Penderitaan akan mengikutinya, bagaikan pedati yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya sebagai akibat dari terbelengu atas keinginan yang dikembangkan.

Menghancurkan nafsu keinginan adalah cara terbaik untuk memutus belenggu penderitaan. Semakin sedikit keinginan maka belenggu penderitaan akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya. Apalagi dalam masa-masa sulit ditengah pandemi global seperti sekarang ini. Pandai mensyukuri atas segala yang diperoleh dan terus berjuang untuk mempertahankan hidup tentu akan jauh lebih baik dalam mengurangi belenggu penderitaan yang disebabkan karena kondisi.

Marilah kita senanti berjuang ditengah masa-masa sulit. Semoga belenggu penderitaan mampu kita redam. Semoga kita senantiasa dekat dengan kebahagiaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sumber: https://kemenag.go.id/read/belenggu-penderitaan-m7jjg

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed