by

Belajarlah dari Keruntuhan Yugoslavia dan Uni Soviet

Oleh: Lutfi Alfarizi

Indonesia adalah Negara heterogen, baik dari segi agama, ras, suku, bahasa dan yang lainnya. Tentu didalamnya tidak pernah lepas dari distingsi sosio-kultur yang ada. Itulah nilai substansial dari sebuah Negara yang memiliki keanekaragaman.

Namun, satu hal yang perlu dilestarikan dari Negara yang memiliki lebih dari 300 juta penduduk ini, ditengah dikotomi  diberbagai aspek sosial, Indonesia mampu menjaga kesatuan dalam bingkai pancasila dan kebhinekaan.

Alhasil, adalah hal yang biasa jika menemukan Masjid berdekatan dengan Gereja, tidak ada gap antara si miskin dan si kaya, antara anak tukang jahit dan anak petinggi Negara. Semua sama. Sama dalam memperjuangkan dan menjaga bumi Nusantara. Bahkan dahulu, pada masa penjajah, keringat, lelah, darah, bahkan nyawapun rela dipertaruhkan demi yang namanya kemerdekaan. Sehingga menjadi sebuah amanah bagi kita untuk menjaga hasil jerih payah para pahlawan.

Inilah tugas generasi sekarang, menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman. Baik dari aspek internal maupun eksternal. Saat ini ujian dalam menjaga eksistensi negara sangatlah besar. Lebih-lebih di tahun politik di era industri 4.0 seperti sekarang. Banyak para elite politik yang bukan negara lagi yang dipikirkan. Melainkan kepentingan pribadi dan nafsu dunia yang lebih diprioritaskan.

Buktinya, ujaran kebencian sudah dianggap biasa demi menjatuhkan lawan, bahkan masyarakatpun di adu domba demi sebuah bangku dan meja kekuasaan. Akhirnya masyarakat terpengaruh dan terprovokasi, sehingga yang terjadi ditengah-tengah masyarakat adalah kesenjangan.

Baca Juga: Pemuda Sebagai Aktor Mengkampanyekan Perdamaian Di Tengah Kebhinekaan

Sebagai warga negara, Ini yang perlu kita waspadai. Sudah banyak kita temukan perpecahan-perpecahan yang disebabkan oleh panggung politik. Khawatir masyarakat negara ini terpecah dan hidup dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan dengan satu sama lain, yang sewaktu-waktu bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap eksistensi berjalannya roda Negara Indonesia.

Jika kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah, bangsa besar layaknya Yugoslavia dan Uni Soviet, keduanya hancur karena faktor internal, bukan karena ada intervensi dari pihak luar yang hendak menghancurkan dua negara super power di zamannya tersebut. Yugoslavia hancur karena tidak mampu mengakomodasi seluruh masyarakatnya yang heterogen. Sedangkan Uni Soviet hancur karena politik identitas dan gaya pemerintahan hegemonik yang menjadi acuannya.

Kedua Negara tersebut harus dijadikan pelajaran bagi kita, karena kedua Negara itu memiliki kesamaan primordial dengan negeri yang sangat subur ini, yaitu keragaman yang ada didalamnya. Bahkan Indonesia lebih dari kedua negara itu dari segi keragaman dan perbedaan.   Ada 6 agama yang delegalkan oleh Negara, serta ratusan suku, ras dan bahasa yang tersebar diseluruh penjuru negeri ini.

Teringat cerita presiden RI Bpk. Ir. Joko Widodo pada suatu kesempatan. Beliau berkisah saat berkunjung ke salah satu negara Timur Tengah, negara itu adalah salah satu negara yang sering terjadi konflik antar warga negaranya. Negara itu adalah Afganistan. Presidennya pun terkagum-kagum dengan kondisi sosial yang ada di Indonesia. Kekaguman itu terlihat diraut wajah sang presiden ketika bertanya kepada Bpk. Jokowi. Beliau (presiden Afghanistan) berkata “kok bisa Indonesia yang terdiri dari banyak suku bisa hidup damai dan tentram? Sedangkan di Afghanistan yang hanya terdapat beberapa suku saja sering bentrok”. Lantas dengan bangganya presiden Indonesia menjawab “ karena kami punya Pancasila”.

Oleh karenanya, kita harus tetap hati-hati dengan pluralisme yang ada dinegara ini. Mengingat tidak mudah menjaga Negara yang penuh dengan perbedaan dan keanekaragaman, butuh kerja ekstra untuk tetap bisa melanjutkan perjalanan kearah yang lebih baik dalam mengawal Negara yang diamanahkan kepada kita semua.

*Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Lutfi Alfarizi, Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed