by

Belajar Toleransi dengan Menjadi Minoritas di Tanah Papua (Bagian II)

Oleh: Caleb Febrian Litamahuputty

Tiga orang sahabat yang berasal dari pulau yang berbeda-beda Jawa, Manado, dan juga Batak. Aku merasa di lengkapi semenjak kehadiran mereka. Dimana aku yang selalu menjadi bahan untuk dijahili, tapi semenjak ada Hilarius yang dekat denganku, mereka yang biasa menjahiliku mulai berkurang karena Hilarius yang cukup di takuti dalam hal berkelahi.

Yang aku pelajari dari karakter Hilarius, ia selalu percaya diri dan jarang sekali menunjukan kelemahannya atau membiarkan dirinya di pojokan orang lain. Mungkin itu juga salah satu karakter khas orang-orang yang berasal dari Batak, pikirku.

Tak luput juga kami bertiga selalu menepati posisi Rangking 15 teratas di kelas, itu karena Daniel yang selalu membuat kami untuk selalu fokus pada setiap mata pelajaran kami. Karakter mandiri Daniel dan sifatnya yang begitu dapat diandalkan, kami bisa saling memotivasi satu sama lain.

Saat kami sudah kelas 5 SD. Kami masih duduk di kelas yang sama aku Daniel, dan juga Hilarius. Kami masih tetap menjalani hari-hari kami bersama, bermain dan bercanda bersama. Tapi perbedaan mulai terasa saat kami menambah jumlah anggota persahabatan kami. Kami kedatangan Landry Oliver Kabey dan juga Afrizhal Hadi Suara.

Landry dan Afrizhal berasal dari Papua, lahir di Papua, dan besar di Papua. Landry memiliki kulit yang terang dan rambut yang kerinting sedangkan Afrizhal memiliki kulit yang gelap dan rambut yang kerinting. Dan semenjak adanya mereka berdua, dunia kamipun mulai memiliki warna-warna yang baru.

Baca Juga: Belajar Toleransi dengan Menjadi Minoritas di Tanah Papua (Bagian I)

Aku mulai berani untuk dekat dengan teman-temanku yang berkulit gelap dan juga berambut kerinting, aku juga jadi lebih sering menghabiskan banyak waktu dengan mereka. Mereka memberiku keberanian untuk bergaul dan berkawan dengan teman-teman yang memiliki perbeda’an signifikan denganku.

Yang awalnya aku selalu berusaha diam-diam menghindar jika harus bertemu ataupun berbicara dengan mereka yang berbeda denganku, kali ini aku lebih merasa seperti benar-benar menjadi salah satu bagian dari mereka.

Hari demi hari kami lalui bersama entah bercerita hal-hal yang saat itu sedang trending bersama, mengerjakan tugas kolompok bersama, pulang jalan kaki bersama, dan Main PS2 di rumah Landry bersama. Moment-moment indah perlahan terukir dari setiap keseharian kami. Dulu yang awalnya aku berpikir aku tidak mungkin berteman dengan orang-orang yang memiliki perbeda’an signifikan denganku, tapi sekarang aku malah bersahabat dengan mereka. Mereka jadi teman-teman sekaligus sahabat yang dekat denganku.

Dan pada Semester 2 jumlah kami bertambah, tapi kali ini berbeda, kami ketambahan 3 orang teman perempuan. yaitu Trully Angel Simon,Evan Afrista Wiokartina Purba,dan Trivosa Kezia Marini. Kami sebenarnya sudah kenal lama, Angel dan juga Afrista mereka anak baru saat aku di kelas 4 SD, kalau Trivosa aku sudah mengenalnya sejak kelas 3 SD tapi aku belum berteman dekat denganya saat itu.

Yang aku ingat Trully Angel Simon atau yang biasa kami panggil Angel dia berasal dari Manado, Evan Afrista Wiokartina Purba yang di panggil Afrista berasal dari Batak, dan untuk Trivosa Naomi Kezia Marini atau yang biasa kami panggil Mammy dia berasal dari pulau yang aku diami ini, pulau Papua.

Kami mulai akrab,kami mulai dekat,kami mulai bisa memperhatikan satu sama lain. Dan karna perbedaan kami, kami bisa bercerita banyak hal tentang budaya yang berbeda-beda dari tempat asal kami.

Ternyata semua pemikiranku di awal yang menganggap bahwa karna aku berbeda aku juga akan mendapatkan perlakuan yang berbeda. Ternyata aku keliru. Alasan kenapa aku mendapatkan perlakuan yang berbeda karena aku belum benar-benar mengenal mereka. Aku membenci mereka sebelum aku benar-benar mengenal mereka. Aku baru sadar sekarang betapa berharganya kenanganku bersama mereka. Seandainya aku sadar dan mengerti lebih awal, mungkin kenangan ini juga sudah kudapatkan sejak awal.

Kelas 6 SD tahun 2012 semua itu perlahan mulai memudar. Keakraban kami, Kedekatan kami, dan setiap perhatian kami. Di karenakan kami berpisah kelas, kami sudah tidak lagi berada di satu kelas yang sama. Secara tidak sadar membentuk sebuah jarak di antara kami. Yang bisa kurasakan saat berpisah kelas dengan mereka saat itu hanya kesedihan yang berlarut, dan aku ingat aku sempat menangis karna hal itu. Tapi hal itu tak bisa di pungkiri, bahwa aku semakin jauh dari mereka. Landry,Hilarius,Daniel,Angel,dan juga Afrista mereka berada di kelas 6A. Ichal dan juga Mammy berada di kelas 6B. Sedangkan aku berada di kelas 6C terasingkan sendiri diantara mereka.

Secercah demi secercah moment yang kudapatkan bersama mereka mulai terlupakan. Di setiap sela-sela kesibukan kami, aku selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan perhatian mereka. Mulai dari hanya sekedar menyapa mereka saat berpas-pasan di tangga sekolah, sengaja bernyanyi sekencang mungkin di depan kelas mereka hanya untuk mendapatkan perhatian mereka, ataupun beralasan menanyakan tugas yang sebenarnya bisa ku selesai kan sendiri.

Semua yang kulakukan itu tidak membuahkan hasil sama sekali, dan yang kurasakan mereka malah semakin jauh dari orbitku. Aku seperti Pluto yang sudah tidak termasuk planet dalam tata surya. Begitu jauh, berukuran kecil, dan tak berkehidupan. Tak bisa di ragukan aku benar-benar rindu saat-saat nyaman bersama mereka, bahkan di saat-saat yang tidak nyaman sekalipun.

 

Hal itu berlalu hingga menjelang bulan-bulan terakhir kami di sekolah, aku sama sekali tidak bisa menemukan kenangan yang benar-benar membekas semasa aku kelas 6 SD. Hingga akhirnya menjelang hari-hari terakhir di sekolah, aku tetap tidak bisa menghabiskan begitu banyak waktuku bersama mereka.

Hari kelulusan tiba dimana kami diminta untuk datang dan menghadiri perpisahan kami anak-anak kelas 6 Sekolah dasar Negeri Inpres Kotaraja. Menyanyikan lagu perpisahan dan bersalam-salaman dengan guru-guru yang sudah berjasa mendidik kami, kami bersiap untuk berpisah dan tidak bertemu kembali di keesokan harinya. Saat itu juga menjadi moment terakhirku bersama-sama dengan mereka. Tak kuat rasanya, karena aku berencana untuk melanjutkan sekolah menengah pertamaku di Surabaya, jelasnya aku akan berpisah dengan mereka, aku sudah tidak akan lagi menginjakan kaki dan mendiami pulau Papua.

Moment perpisahan di sekolah tidak kusia-siakan begitu saja aku memberanikan diri untuk berbicara dengan mereka, aku menghapiri mereka,memulai pembicaraan dengan mereka, mengingat-ngingat banyak waktu yang sudah kami habiskan bersama, sampai akhirnya kami  menangis bersama.

Karna sudah tiba waktunya kami untuk berpisah dan beranjak ke jenjang yang lebih lanjut. Aku tidak memberitahu mereka bahwa aku akan pulang kembali ke Surabaya dan menetap disana. Karena aku saat itu sudah terlalu asik dengan obrolan hangat nan nyaman di kala akhir perpisahan Kami.

Perpisahan yang begitu indah, aku takan melupakan kenangan-kenangan yang ku dapat di pulau Papua ini.  Papua tempat ku mendapatkan sahabat-sahabatku yang memberiku rasa percaya diri, rasa berguna, kesabaran, kemandirian, dan semangat untuk terus memandang indah sebuah perbeda’an.

Sampai jumpa lagi pulau Papua-ku

Surabaya

Pada akhirnya aku kembali lagi ke rumah tempat asal dimana aku di lahirkan. Setibaku di Surabaya aku bertemu kembali dengan Nenek dan Kakek yang merawatku sejak kecil. Aku memulai semuanya dari awal lagi. berbahasa, berperilaku, berpola pikir, dan berinteraksi. Bahasa jawa ku saat itu tidak terlalu buruk, dikarenakan aku sudah tinggal 8 tahun lebih sebelum aku pergi dan menetap di Papua selama 3 tahun. Dan nyatanya aku masih bisa mengikuti alur obrolan orang-orang di sekitarku saat itu meskipun masi ada kata-perkata yang belum ku pahami.

Sekarang saatnya untuk memulai ulang hal yang baru,bersiap untuk masuk Sekolah menengah pertama di Surabaya. Bertemu teman baru,guru baru,dan kenangan-kenangan yang baru. Perbeda’an tetap terasa, sekalipun aku sudah kembali ke tempat asalku aku masih menjadi orang yang minoritas di karenakan aku menganut agama Kristen, bahkan aku juga masi merasakan perbeda’an itu saat pergi ke gereja. Dimana orang yang datang ke gereja bukan hanya orang Jawa tapi juga ada orang-orang etnis Tionghoa.

Aku mengingat kembali. Situasi seperti ini sudah pernah kualami sebelumnya aku tidak ingin salah mengambil langkah lagi dalam bersikap dan berpola pikir. aku tidak ingin pemikiran lamaku yang menolak mentah-mentah sebuah perbeda’an kembali. Aku harus bertumbuh, aku harus lebih dewasa, aku harus lebih mengerti makna indah yang ada di balik sebuah perbeda’an.

Aku merasa senang dan bahagia dapat mengukir kenangan-kenangan indah bersama sahabat-sahabatku yang berbeda suku dan budaya dengan ku. Aku menikmati masa-masa kekanakanku kala itu, karena ada perbeda’an yang mewarnai setiap kenanganku. Dari mereka aku belajar banyak hal,dari mereka aku menemukan kebahagia’anku,dari mereka aku mengerti bahwa sebuah hubungan pertemanan tidak bisa di batasi dengan perbeda’an.

Meskipun begitu aku sama sekali tidak bisa berhubungan lagi dengan Sahabat-sahabatku di Papua kala itu. “Lost contact” aku sama sekali tidak bisa dan tidak tahu bagaimana cara agar aku bisa menghubungi sahabat-sahabatku yang ada di Papua.

Di karenakan pada tahun itu masih belum ada Smartphone dan Aku sendiri pun tidak memiliki HP untuk berkomunikasi. Sekalipun punya, aku tetap tidak bisa menghubungi Sahabat-sahabatku yang ada di Papua, Karena aku sendiri juga tidak mempunyai nomer mereka saat itu. Bahkan foto bersama dengan mereka pun aku tidak punya.

Kendati banyak pelajaran tentang persahabatan kuperoleh dari peristiwa-peristiwa yang manis nan indah. Harus ku akui bahwa makna terbesar yang masih terus melekat dalam ingatanku, justru kudapatkan dari pengalaman buruk yang berharga dalam suatu perbedaan. Dan aku mengabadikan setiap kenanganku itu bersama mereka, hanya dalam ingatanku.

“Aku Caleb Febrian Litamahuputty dan ini ceritaku.”

Terlepas dari setiap perbeda’an Manusia yang nampak, sejatinya Manusia hanya memiliki dua perbeda’an. Yakni “Manusia yang baik dan Manusia yang yang tidak baik.

Penulis: Caleb Febrian Litamahuputty

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed