by

Belajar Toleransi dengan Menjadi Minoritas di Tanah Papua (Bagian I)

Oleh: Caleb Febrian Litamahuputty

Caleb Febrian Litamahuputty itu namaku, aku pemeluk agama Kristen Protestan, dan aku lahir di Surabaya, tapi Papaku berkata padaku,

“Kalau ada orang yang bertanya dari mana asalmu? Kamu harus menjawab kamu berasal dari Ambon, dikarenakan Marga yang kamu bawa di akhir namamu itu Marga turunan Papa dari Ambon (Litamahuputty).”

Itu alasan kenapa Aku selalu menjawab “aku berasal dari Ambon” jikalau di tanya dari mana asalku. Papaku berasal dari Ambon dan Mamaku berasal dari Solo/Surakarta, akan tetapi sekarang aku tidak tinggal bersama mereka. Sekarang aku tinggal bersama dengan kakek dan nenek, yang lebih tepatnya Ayah dan Ibu dari Mamaku di Surabaya.

Dan untuk cerita ini sendiri tidak akan berfokus ke seluk-beluk keluargaku, tapi lebih ke berbagai macam perbedaan juga toleran yang mewarnai sepersekian cerita hidupku.

Baca Juga: Menjadi Generasi Muda Pemersatu Bangsa

Cerita ini di mulai 11 Tahun yang lalu. Tepatnya awal tahun 2010, aku duduk di kelas tiga ,semester dua sekolah dasar Negeri Inpres Kotaraja, Kota Jayapura. Iya kota Jayapura Provinsi Papua, Provinsi terbesar dan terluas pertama di Indonesia.

Jadi, sewaktu aku kelas tiga dan masih bersekolah di Sekolah dasar Negeri Gading 2 Surabaya. Aku memutuskan untuk tinggal dengan kedua orang tuaku yang sudah lama merantau di Pulau Papua, Provinsi Papua, Kota Jayapura. Dan akhirnya kelas tiga, semester dua aku terbang kesana, dan Saat itu menjadi moment pertamaku menginjakkan dan mendiami Pulau Papua yang sebelumnya bernama Irian Jaya itu.

Dengan nuansa baru, kehidupan sosial yang baru, dan tentunya Habbit yang baru, aku memulai kehidupanku di sana dengan papa, mama, dan juga adik kandungku Teddy Gabriel Litamahuputty. Saat itu yang aku tahu pasti aku masih seorang anak kecil berumur 9 tahun yang berusaha mereset ulang kehidupanya di Pulau yang tak pernah di ketahui dan di bayangkanya sama sekali.

Menyesuaikan diri dengan lingkungan

Hari demi hari aku berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, dan saat itu aku masih belum berani untuk pergi ke sekolah di karenakan kemampuan berkomunikasiku yang masih belum memenuhi standart untuk aku dapat bergaul ataupun berinteraksi dengan orang-orang di sana.

Ada beberapa hal yang harus benar-benar aku pahami saat itu untuk dapat berkomunikasi dengan baik di sana, yaiti, kosa kata, nada bicara, dan aksen. Hal itu cukup merepotkan di awal, akan tetapi seiring berjalanya waktu aku perlahan dapat menyesuaikan diri. Aku memulai Skill berkomunikasiku dengan kata “Za” yang berarti (Saya), “Ko” (Kamu), “K-torang” (Kita) dan “Dorang” (Mereka). Itu salah satu hal dasar yang harus aku pelajari jika aku mau mendapatkan teman di sana.

Setelah beberapa bulan Aku yang hanya Berdiam diri di rumah dan di toko yang di sewa Papa untuk menjalankan usaha rintisan papa dan mama. Akhirnya aku memulai untuk melanjutkan sekolahku di kelas 3, semester 2 sekolah dasar.

Sekolah dasar Negeri Inpres Kotaraja menjadi tujuan pertama orang tuaku menyekolahkanku karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah dan juga orang tuaku yang ingin segera menyekolahkanku agar aku tidak terlalu lama berdiam diri di rumah.

Terlepas dari aku yang masih pasif dalam berkomunikasi. Kedua orang tuaku ingin anaknya itu segera dapat berhubungan dengan dunia luar seperti adiknya.  Adikku sendiri  langsung masuk Sekolah Dasar saat ia berumur 7 tahun tanpa duduk dan belajar di taman kanak-kanak terlebih dahulu. Dan ternyata banyak juga anak-anak di sana yang sama seperti adikku, mereka langsung duduk di kelas 1 Sekolah dasar sebelum mereka benar-benar bisa membaca dan menulis. Dan yang lebih mengejutkanya masih kudapati teman-teman yang seumuran denganku masih belum bisa membaca, menulis maupun berhitung.

Di sekolah, aku masih belum menemukan teman yang bisa kuajak bermain ataupun kuajak berbicara. Jadi aku lebih sering di kelas menjadi anak yang tenang dan pendiam. Dan hal itu membuat aku sering di jahili anak-anak kelas di karenakan susahnya mengutarakan apa yang ingin kuutarakan, karena terbatasnya kemampuanku dalam berkomunikasi.

Masalah demi masalah aku dapatkan, mulai dari aku mendapatkan masalah dengan wakil kepala sekolah. Beliau  memberiku sanksi untuk membersihkan meja tempatku duduk,  karena meja tempatku duduk yang bercoretkan berbagai macam gambar dari Tip Ex (cairan penghapus coretan bolpoin di kertas) dan jelas waktu itu aku masih anak baru yang pasiv dalam berkomunikasi, dan seingatku coretan itu sudah ada sebelum aku duduk di sana. Bahkan sampai kejadian uang saku-ku yang berulang kali hilang, dan ternyata di ambil teman sekelasku sendiri.

Aku masih ingat persis bagaimana cara mereka melakukanya. Mereka mengalungkan tangan mereka dari belakang seolah-olah merangkulku, tapi jari-jemari mereka perlahan mengambil uang yang berada di saku dada kiriku,dan parahnya aku sama sekali tidak menyadari hal itu. Betapa heranya aku hari ini,kenapa bisa-bisanya aku tidak sadar bahwa uangku sedang diambil oleh mereka saat itu.

Dan perundungan itu terus terjadi

Aku tetap sering mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan, dan itu membentuk karakterku menjadi sosok anak muda yang  merasa tertindas. Menjadikanku seorang pengadu dan pengecut. aku sering sekali menangis dan mengadu ke orang tuaku, sehingga Papaku sering sekali datang ke sekolah hanya karna aku menangis dan mengadukan setiap masalah yang aku dapat di sekolah.

Terbesit Pemikiran di kala itu, “Aku di sini minoritas. Kulitku terang dan rambutku lurus, ini bukan tempatku. Aku tidak seharusnya berada di sini, teman-teman kelasku kebanyakan berkulit gelap dan berambut keriting” Pemikiran kekanak-kanak’an seperti itu  yang terebesit dan tertanam di benakku kala itu.

Bahkan setiap pulang dari sekolah kuhabiskan waktu menangis dan merengek pada Mama, dan berharap Mama akan memulangkanku kembali ke Surabaya. Tapi nyatanya tidak, aku tetap tinggal disana hingga aku naik kelas 4 Sekolah dasar.

Kelas 4 SD pun tidak banyak yang berubah tapi saat itu aku sudah mulai lebih baik dalam berkomunikasi. Untuk berteman dan berhati-hati dalam bertemanpun aku mulai mahir dalam melakukanya. aku sudah mulai bisa berbicara dengan semua teman kelas tanpa ragu ataupun malu, tapi tetap saja aku masih belum bisa begitu akrab dengan siapapun.

 Ketika Kristen menjadi mayoritas

“Ayo yang Islam langsung ke Masjid ya,” Kata Bu.Siti Romelah kepada beberapa anak yang beragama Islam di kelas

Karena jam pelajaran Agama akan segera di mulai, jadi yang beragama Islam di haruskan untuk segera pergi ke masjid. Sedangkan untuk yang beragama Kristen tetap menggunakan kelas, dan aku baru menyadari hal itu. Bahwa tidak sepenuhnya aku minoritas di sini.

Kalau biasa di Surabaya kami yang beragama Kristen harus mencari kelas sendiri saat jam pelajaran agama, tapi tidak di sini. Karena rata-rata anak yang berada di kelas beragama Kristen, jadi kami mendapatkan hak untuk menempati kelas saat jam pelajaran agama.

Aku cukup lega karena tidak sepenuhnya aku di sana minoritas terlepas dari kulitku yang terang dan rambutku yang lurus, masih ada hal dominan yang bisa aku condongkan di sana.

Perlahan sifat seperti itu tertanam dalam diriku saat itu, sifat mengelompokan orang-perorangan berdasarkan perbeda’an. Saat itu dalam pikiranku “kita tidak akan bisa saling mengenal bahkan saling mengerti jika kita memiliki banyak perbedaan.” Karena saat itu aku masih kelas 4 SD. Jadi aku belum benar-benar mengerti istilah rasisme, tapi yang jelas sifat rasisme itu sudah ada dalam diriku.

Pada saat ini kelas kedatangan banyak anak baru,dan anak-anak baru ini tidak semuanya berasal dari Papua. Kebanyakan merantau dari tempat asalnya ke Papua, diantaranya Truly Angel Simon dan Evan Afrista wiokartina Purba. mereka anak baru yang masuk pada kelas 4 SD.

Aku harap dapat berteman akrab dengan mereka, karena paras mereka yang begitu cantik menurutku. Dan mungkin saja mereka mau berteman denganku, karena pikirku aku dan mereka sama, sama-sama tidak berasal dari pulau ini. aku dan mereka pun mempunyai kesamaan berkulit terang dan berambut lurus.

Tapi kenyata’anya mereka justru menghindariku, karena Karakterku yang tidak banyak di sukai teman sekelas. karna diriku yang suka mengadu. Pada saat aku berkelahi dan aku menangis, dan pada saat aku berulang-ulang kali kehilangan uang, Aku pasti mengadu, lalu papa pasti datang ke sekolah dan memberi anak-anak yang menjahiliku teguran atau sebuah pelajaran.

Entah itu dijewer telinganya, diselentik telinganya, atau paling parah ditampar pipinya. Jadi karna itu banyak anak di kelas yang tidak terlalu berani untuk dekat-dekat denganku atau berteman akrab denganku.

Perahan-lahan mulai mendapatkan teman

Daniel Katili namanya dia adalah teman sekelasku, aku tidak begitu akrab denganya. Dia bersasal dari Manado dan dia termasuk anak yang cukup pintar di kelas, sering mendapatkan peringkat 3 teratas di kelas.

Saat itu kami berangkat pulang bersama menggunakan ojek karena kebetulan   alamat kami berdua sama dan tidak berjarak terlalu jauh. Akhirnya kami berdua di antar pulang oleh bapak Ojek itu berbonceng tiga, aku duduk di tengah sedangkan Daniel duduk di belakang. Selama perjalanan kami membicarakan banyak hal, aku tidak seberapa ingat apa yang aku bicarakan denganya saat itu tapi yang jelas kami berdua bisa saling conect satu sama lain.

Sampai keesokan haripun kami betemu di sekolah, kami tetap saling berbicara,bahkan kami mulai dekat dan akrab. Kami bercerita dan berbagi banyak hal, mungkin karna kami mempunyai selera yang cenderung sama yang akhirnya membuat kami dapat seakrab ini.

Apa yang aku lihat sebelum mengenal Daniel dia adalah anak yang mungkin sulit di dekati apalagi ingin berteman denganya, Karena dari apa yang selama ini dia capai di kelas Tapi pada akhirnya aku bisa berteman denganya dengan begitu akrab.

Seiring berjalanya waktu aku mulai mendapatkan lagi teman yang bisa kuanggap dekat dan akrab. Hilarius Hutahaean namanya, sebenarnya aku sudah lama mengenalnya  dari kelas tiga, tapi baru kali ini aku bisa dekat dan akrab denganya itu semua juga berkat Daniel.

Hilarius Hutahaean dan Daniel Katili Kami bisa di bilang sudah seperti sahabat. menurutku pertemanan yang ku jalin bersama mereka saat itu tidak terlalu buruk, kami bertiga sama-sama berkulit terang berambut lurus. Sekalipun kami tidak berasal dari pulau yang sama, aku yang berasal dari Jawa dan dari marganya saja sudah terlihat jelas bahwa Hilarius berasal dari Batak sedangkan Daniel berasal dari Manado.

Tapi kami dapat menikmati kebersama’an kami yang nyaman dan hangat saat itu. Kebetulan juga ternyata rumah Hilarius begitu dekat denganku dan Daniel,yang bisa ku tempuh dengan hanya berjalan kaki. Jadi kami sering menghabiskan waktu bersama pulang dari sekolah hingga sampai ke rumah dengan berjalan kaki di temani suasana di pulau Papua saat itu.

Berlanjut ke bagian II

Penulis: Caleb Febrian Litamahuputty

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

News Feed