by

Belajar Mencintai Allah Secara Merdeka

Kabar Damai I Kamis, 01 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Seratan Mbah Emha Ainun Nadjib sudah ditempatkan di lembaran awal untuk mengantarkan pada penyelaman makna di setiap lembar berikutnya. Mbah Nun menuturkan bahwa dirinya yang hanya seorang gelandangan (pejalan spiritual) dipertemukan secara ‘romantik’ dengan Buya M.N. Kamba (Syaikh). Bermula dari pertemuan di Mesir, tepatnya di sungai Nil itu, Mbah Nun mengetahui banyak hal dari Buya, atas keluasan dan kedalaman pengetahuan yang tidak mampu diejawantahkan.

Karena keluasan hati, teladan ilmu dan laku hidup beliau, sosok Buya Kamba patut disebut sebagai Syaikh Qoryatul ‘Ilmi (kampung halaman ilmu). Ilmu dan amal bersatu dalam diri Buya lalu dituang dalam sebuah buku saku tasawuf. Sebuah buku, maha karya beliau yang utuh, berjudul “Mencintai Allah Secara Merdeka”. Ditujukan sebagai warisan untuk murid, anak, cucu beliau: kami semua. Beliau, Sang Marja’ Maiyah, inti dari segala inti sekaligus panutan, beberapa waktu lalu telah berpulang. Kami, sekarang jauh secara jasad namun tetap merasakan kehadiran Buya secara penghayatan batin.

Saya mendapati buku ini sebagai buku pedoman (guidance book). Mungkin saya tidak sendiri, banyak masyarakat maiyah atau masyarakat umum menganggap demikian. Tapi juga tidak jarang, ada yang menilai buku ini seperti buku pada umumnya. Buku yang dibaca di waktu luang, atau koleksi di perpustakaan pribadi, diletakkan di rak buku yang berlabel “Keislaman” atau “Sejarah”.

Baca Juga: Agama Cinta Prinsip Setiap Agama

Buku yang isinya merupakan intisari dan mengulas apa itu tasawuf. Terutama tasawuf yang sudah ada pada zaman Nabi Muhammad, namun tampak asing atau baru (muncul kembali) di zaman sekarang. Bagi beliau, tasawuf adalah Islam itu sendiri. Islam sebagai pemersatu umat, mengajak untuk saling menjunjung antarsesama.

Seperti di Madinah, saat Nabi Muhammad masih bersama umat muslim. Sepeninggal Nabi, maka dikenal tabi’in, kurun di mana Islam tidak lebih penting dari politik. Mulai saat itu sampai hari ini, terjadinya perpecahan yang mengatasnamakan Islam adalah wujud nafsu kekuasaan suatu golongan.

***

Kini, ada kesan seolah antara Islam dan Tasawuf itu terlepas. Islam adalah organisasi, Tasawuf adalah ilmu kuno. Padahal keduanya adalah satu dan integral untuk menuju pusat (Allah), dahulu sampai sekarang, bahkan nanti.

Tasawuf adalah jalan kenabian. Nabi menjadi referensi dan uswatun hasanah yang nyata. Bagaimana beliau saat mengajak umat, menghargai perbedaan dan mendukung sesame merupakan prototype untuk direalisasikan. Demikian juga dengan Islam (agama), adalah persoalan berakhlak.

Berakhlak adalah transformasi diri. Tranformasi diri dalam (perilaku) kebaikan. Sama sekali bukan Islam jika di dalamnya saling menyakiti dan mementingkan diri pribadi.

Jalan kenabian, dalam konteks ini memiliki nilai yang—seharusnya—melekat pada diri manusia sebagai umat (penerus) Nabi Muhammad. 5 hal pokok yang termasuk dalam jalan kenabian, yaitu: berdaulat (mandiri), membebaskan diri dari egoisme, menerapkan kebijaksanaan, berlaku jujur, dan menebar cinta kasih.

Nabi Muhammad beserta umat Madinah di masa itu, berdampingan dan menjalankan lima prinsip tersebut. Musyawarah dengan membebaskan umat untuk saling sokong, menyampaikan niat baik, memutuskan mufakat dengan menepis egoisme personal maupun kelompok, menjunjung kebijaksanaan; mengutamakan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi (altruisme/ietsar). Kemudian pada masa tersebut juga terkondisikan untuk berlaku jujur dan terus melakukan kebaikan. Otomatis, konsekuensinya, dalam perjalanan spiritual, seseorang akan dipenuhi cinta kasih dan lantas menyebarkannya.

Lima jalan kenabian itu terus berlaku dan tetap relevan sampai saat ini. Terlebih sebagai perangkat psikologis spiritual untuk membina karakter. Tidak hanya umat muslim, tapi semua hamba. Tidak diperuntukkan sesama muslim, namun dengan siapapun, sesama manusia, bahkan kepada alam dan seisinya.

Refleksi Personal Saya

Hanya sedikit yang mampu saya ulas. Seperti yang sudah saya ungkapkan di awal. Buku ini padat dan semuanya bagi saya adalah inti. Sekilas, saya hanya menukil bab awal tentang Asal Muasal (Tasawuf), dan tepat di bagian bab terakhir tentang jalan kenabian.

Selain ulasan di atas, saya menemukan main-value saat belajar dari buku Buya Kamba. Inti yang tidak hanya satu, tapi berulang kali dan menyeluruh, yaitu: “mahabbah”.

Secara umum, mahabbah adalah cinta. Cinta yang mensyaratkan ketulusan, keikhlasan, tanpa pamrih. Cinta yang berarti luas. Cinta yang diwujudkan dengan sukarela. Cinta yang tidak berurusan dengan ‘siapa’ tapi juga melibatkan ‘apa’ dan ‘bagaimana’.

Kini, saya sedang dalam proses pengabdian di pesantren. Dari pengabdin itu, mahabbah cocok sebagai bekal dan perilaku, bukan tujuan akhir. Karena saya menemukan salah satu ulasan, bahwa cinta itu bukan tujuan atau satu titik. Akan tetapi pendakian spiritual yang tidak akan mencapai pada kemapanan.

Seperti yang tertuang di paragraf sebelumnya. Tasawuf, mencintai Allah, direfleksikan dalam laku baik. Kecenderungan baik atau perilaku baik belum diketahui ujungnya. Tugas kita sebagai manusia (pengabdi) hanya berusaha melakukan apa yang dianjurkan oleh Allah. Sebagian besar itu perjuangan, dan tidak selalu sesuai dengan harapan. Perjalanan ini terangkum dalam ‘kebaikan’.

Ketika mengabdi, banyak kondisi dan posisi yang tidak selalu sesuai harapan. Meski, bagaimanapun proses mencintai harus tetap berjalan. Belajar ikhlas dan tulus, saya masih belajar terus. Lalu sempat saya terbesit godaan untuk beralih dari pengabdian. Jika memang beralih kepada hal lain, tentu saya tetap berusaha untuk mencintai hal lain itu. Sama-sama berproses. Toh, sejatinya laku hidup adalah proses berjuang melawan ego diri sendiri.

Termasuk lima prinsip di atas saya ibaratkan sebagai unsur-unsur yang harus diterapkan dalam mengabdi, atau bahkan di segala aktivitas individual. Diri saya harus mandiri, berdiri dengan kebebasan berpikir, sambil berkesadaran dan bersandar pada Allah.

Di samping itu, saya juga perlu menahan keinginan diri. Ada kepentingan lain (umum) yang lebih prioritas. Saya juga belajar untuk bijaksana, jujur, dan menebar cinta kasih. Kesemuanya, tidak untuk kepentingan pribadi. Seperti ungkapan Buya, “ketika ada cinta, maka laku dan pikiran mendatangkan manfaat untuk orang lain dan sekitar”. Melalui buku ini, saya mengajari diri sendiri untuk merdeka dari jajahan ego. Sebuah buku saku bagi para pengabdi dan mereka yang ingin menjadi penebar cinta kasih.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed