by

Belajar Kritis dengan Memahami Sejarah

-Opini-3 views

Oleh Doel Rohim

Beberapa hari yang  lalu kita disuguhkan dengan berbagai momen perayaan hari yang bisa dikatakan bersejarah. Mulai dari peringatan Hari 30 S/PKI pada 30 September, disusul  Hari Santri Nasional pada 22 Oktober, kemudian selanjutnya  hari Sumpah Pemoeda 28  Oktober, dan yang akan datang 10 November Hari Pahlawan Nasional. Berbagai momen yang menjadi catatan tersendiri bagi bangsa kita.

Perjalanan panjang bangsa yang telah mencapai usia 70 tahun menjadi studi yang menarik dalam kajian ilmu sejarah. Kekayaan historisitas bangsa yang besar bahkan tidak akan menyempatkan para sejarawan untuk mengkaji secara menyeluruh dalam kurun usia yang dimiliki manusia. Apalagi ketika membicarakan perjalanan panjang sebelum nama Indonesia muncul di masa kolonialisme, bahkan sampai masa kerajaan-kerajaan kuno yang ada di nusantara. Akan begitu kompleks kajian sejarah yang ada.

Begitu luasnya kajian sejarah yang terpriodik dari masa awal hingga sekarang menjadi sebuah permasalahan tersendiri bagi penikmat kajian sejarah. Permasalahan yang begitu jelas terlihat ketika kajian sejarah tidak menemukan titik fokus dalam meneliti sebuah peristiwa sejarah. Pembahasan sejarah akan semakin meluas dengan timbunan data-data yang didapatkan dari sejarawan pendahulunya. Timbunan mengakibatkan banyaknya pengulangan-pengulangan dari sejarawan satu ke sejarawan yang lain beranak pinak. Hal tersebut berdampak pada mandeknya daya kritis dalam melihat sejarah dengan perspektif yang berbeda.

Baca Juga: Hari Santri Nasional 2021: Santri Siaga Mewujudkan Perdamaian

Hal ini sangat terasa jelas ketika kita memasuki kelas-kelas sejarah di bangku perkuliahan. Kita  seolah menjadi sebuah penikmat masa lalu yang lugu mengamini apa yang ada dalam buku, tanpa dapat mengkritisi kondisi pada saat itu. Dan pada akhirnya hanya dapat menyimpulkan sebuah peristiwa sejarah dari apa yang disimpulkan oleh sejarawan terdahulu.

Sebuah gambaran yang membosankan dalam menapaki kajian sejarah yang semakin carut marut ini. Bagaimana tidak, sejarah yang diyakini sebagai pangkalnya dari ilmu pengetahuan setelah filsafat, yang akan menjadi pisau analisis untuk menapaki masa yang akan datang, terlihat ompong. Tidak punya taring untuk dapat melihat realita kontempeorer yang akan datang.

Sejarah Sebagai Kritik

Kajian sejarah merupakan bagaimana kita manafsirkan mamahami dan mengerti seperti apa yang diungkapkan Kuntowijoyo dalam bukunya Penjelasan Sejarah (2008). Dari buku itu jelas bahwa pengkaji sejarah dituntut untuk dapat merealisasikan hakikat sejarah ke dalam setiap penelitiannya.

Namun, realita yang ada selalu tidak seperti yang diharapkan. Hal itu terlihat bagaimana sejarah belum mampu menjawab bagaimana kondisi atau pergulatan sosial, pergulatan kekuasaan dari kekuatan sosial di waktu itu dari masa ke masa.

Padahal dari pergulatan di tatanan sosial  itulah yang membawa kita pada kondisi yang ada sekarang. Perlunya pemahaman kekutan apa saja yang membuat kita secara kolektif berada pada kondisi sekarang, sebenarnya inilah yang perlu dijawab sejarah sebagai ilmu sosial.

Belajar sejarah bukan hanya mempelajari masa lalu berupa kejayaan yang telah terjadi sebagai romantisme, tetapi lebih dari itu. Yakni bagaimana pergulatan kekuatan yang memungkinkan kejayaan dimasa lalu itu dapat terjadi. Saya  ambil contoh dari sejarah Kerajaan Majapahit seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa kebesaran dan kejayaannya sudah tidak terbantahkan lagi di kajian sejarah selama ini.

Tetapi yang jarang disinggung adalah bagaimana Kerajaan Majapahit bisa  menjadi kerajaan maritim yang besar dan kemudian bisa runtuh yang mengakibatkan arus balik yang luar biasa dalam sejarah. Seperti yang digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam tetraloginya.

Bukan itu saja, di sejarah lain kita bisa melihat bagaimana para pelaut Mandar menaklukan samudra. Kita bukan untuk mengagumi kehebatannya, tetapi  lebih dari itu. Bagaimana para pelaut Mandar bisa bertahan hidup sebagai komunitas maritim di tengah gerak laut yang semakin kuat.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang sudah mulai banyak yang melakukan penelitian yang lebih spesifik mengkaji suatu obyek tertentu  dalam kajian sejarah, seperti kehidupan masyarakat di pesisir. Ada pula yang meneliti kehidupan masyarakat tertentu dalam suatu daerah, kajian seperti ini tidaklah kurang. Namun yang menjadi masalah adalah kesemuanya hampir berbentuk monografi, belum adanya usaha untuk menghimpun berbagai sttudi tersebut menjadi sebuah kesimpulan yang jelas.

Bisa jadi juga belum banyaknya sejarawan yang menggunakan perspektif kiri yang biasanya lebih bisa menjelaskan bagaimana kondisi sosial dalam masyarakat tertentu. Seperti metode  Materialisme Dialektika Historis (MDH) dari Karl Marx. Padahal kalau kita tahu bahwa dalam materialisme historis bahwa sejarah dibentuk melalui proses dialektika antara basis dan suprastruktur  yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu tokoh teori kritis Horkheimer dengan nada pesimis mengungkapkan bahwa tren kehidupan modern semakin jauh dari determinasi sadar peristiwa sejarah. Tidak semakin dekat padanya. Dengan demikian, sejarah tidak hanya sekedar dipahami sebagaimana harapannya, tetapi harus dijelaskan. Dan dia juga memberi catatan pada sejarawan bahwa tugas sejarawan adalah melestarikan ingatan akan  penderitaan.

Mendukung kehendak akan perubahan historis secara kualitatif. Dalam pandangan tersebut jelas bahwa sejarawanlah yang akan bertugas membentuk kesadaran kolektif mengenai masa lalu yang kemudian dikonstruksi untuk kehidupan yang akan datang. Sebuah tugas yang tidak mudah melihat pola pemahaman sejarah jika kondisinya seperti yang saya jabarkan di awal tadi.

Sejarah sebagai kritik memiliki arti penting sejarah sebagai sebuah peristiwa, atau seorang tokoh atau sebuah tempat. Tidak ditentukan oleh hasil akhirnya, tetapi karena kedudukannya dalam waktu dan tempat tertentu. Hanya dengan begitulah kita dapat mengangkat sebuah peristiwa, tokoh, atau tempat yang dalam pandangan dominan tidak penting menjadi penting. Pada akhirnya hal tersebut menciptakan pemahaman baru mengenai sejarah masa kini dan masa depan akan menjadi lebih adil. []

 

Doel Rohim, mahasiswa yang belajar memahami sejarah, terjerembab dalam jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) UIN Suka.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed