by

Belajar dari Sultan Pertama Pontianak, Terbuka Kepada Semua Suku dan Agama

Kabar Damai, Selasa 13 Juli 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Kota Pontianak merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Kota ini dibelah oleh sungai terbesar di Indonesia yaitu Kapuas. Kota yang juga dikenal dengan Seribu Parit dan Seribu Warung Kopi ini terus mengalami kemajuan dari mulai berdirinya dahulu yaitu pada tahun 1771.

Pontianak kini tidak terlepas dari sejarah yang melampauinya, setidaknya jika berbicara tentang sejarah Pontianak dua hal yang selalu diingat adalah Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri sang pendiri kota serta Keraton Kadriyah yang merupakan bangunan yang dulu digunakan sebagai pusat tinggal dan sang sultan serta keluarga tinggal. Bahkan, keberadaan keraton tersebut kini masih terjaga dengan baik dan menjadi pusat wisata sejarah serta religi di Pontianak.

Baca Juga: Pdt. Gomar Gultom Sang Pelayan Gereja dan Perawat Kemajemukan Bangsa

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Tanjungpura, Dana Listiana yang merupakan seorang peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kalimantan Barat serta berlaku sebagai pembicara menyampaikan bahwa diawal berdirinya dahulu, Sultan Pontianak sangat terbuka dan menerima semua golongan untuk datang ke Pontianak. Semua disambut baik di singgasana kebesarannya, Keraton Kadriyah.

Tentang Keraton Kadriyah

Kesultanan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang putra ulama keturunan Arab Hadramaut dari Kerajaan Mempawah, pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami Pontianak (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariyah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam BugisKecamatan Pontianak TimurKota Pontianak.

Penobatan Abdurrahman Alqadrie sebagai Sultan Kadriah Pontianak pada tahun 1778 M dilakukan oleh Sultan Raja Haji, penguasa Kesultanan Riau, dan dihadiri oleh para pemimpin dari sejumlah kerajaan,  termasuk dari Kerajaan Matan, Sukadana, Kubu, Simpang, Landak, Mempawah, Sambas, dan Banjar.

Abdurrahman Alqadrie memang memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga Kesultanan Riau. Abdurrahman Alqadrie adalah menantu Opu Daeng Manambon (Sultan Mempawah), sedangkan Sultan Raja Haji adalah putra Daeng Celak yang tidak lain adalah saudara sekandung Opu Daeng Manambon (M.S. Suwardi, 1983, dalam Alqadrie, 2005, http://syarif-untan.tripod.com). Pada masa itu, Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie) yang dibentuk sejak 20 Maret 1602, sudah menanamkan pengaruhnya di Kalimantan Barat. VOC rupanya khawatir melihat hubungan erat antara Kesultanan Kadriah Pontianak dengan beberapa kerajaan lain dan kemudian VOC berusaha menghancurkan persekutuan itu.

 

Pada akhir tahun 1778 M, dari Batavia, VOC mengutus Nicholas de Cloek ke Pontianak untuk merangkul Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie, tetapi usaha pertama ini gagal. Selanjutnya, pada bulan Juli 1779 M, VOC mengirim Willem Adriaan Palm (Komisaris VOC) ke Pontianak. Dengan alasan mendirikan perwakilan dagang, VOC berhasil menanamkan pengaruhnya di Kesultanan Kadriah Pontianak. Palm kemudian digantikan Wolter Markus Stuart yang bertindak sebagai Resident van Borneo􀎵s Wester Afdeling I (1779 – 1784 M) dengan kedudukan di Pontianak (Alqadrie, 2005, dalam http://syarif-untan.tripod.com).

 

Di bawah rezim Sultan Syarif Kasim Alqadrie (1808 – 1819), Kesultanan Kadriah Pontianak semakin tergantung kepada pihak-pihak asing, yakni Belanda dan kemudian Inggris yang berkuasa di Hindia (Indonesia) sejak tahun 1811. Ketika Belanda kembali menguasai nusantara, termasuk Pontianak, Sultan Syarif Kasim Alqadrie memperkenankan Gubernur Jenderal Hindia Belanda LPJ Burggraaf du Bus de Gisignies (1826-1830) mendirikan sebuah benteng Belanda di Pontianak yang diberi nama Marianne􀎵s Oord, yakni nama putri Raja Negeri Belanda, Raja Willem I. Inilah asal-muasal nama kampung Mariana yang terletak di depan pelabuhan Pontianak sekarang. Benteng Marianne􀎵s Oord kemudian menjadi markas tentara Belanda dan sering disebut sebagai Benteng du Bus (Rahman, 2000:113).

 

Pada tanggal 25 Februari 1819 Sultan Syarif Kasim Alqadrie wafat dan dikebumikan di Batu Layang. Terjadi ketegangan perihal siapa yang berhak menjadi Sultan Kadriah Pontianak selanjutnya. Di satu pihak, Syarif Usman Alqadrie dianggap paling layak menduduki tahta Kesultanan Kadriah Pontianak. Namun di sisi lain, putra Sultan Syarif Kasim Alqadrie yang bernama Syarif Abubakar Alqadrie juga menginginkan singgasana tersebut. Di sinilah campur tangan Belanda kembali berperan.

 

Sesuai kesepakatan sebelum Sultan Syarif Kasim Alqadrie dinobatkan, Belanda kemudian menunjuk Syarif Usman Alqadrie (1819 – 1855) sebagai Sultan Kadriah Pontianak ketiga. Untuk meminimalisir konflik, Belanda memberi gelar Syarif Abubakar Alqadrie sebagai Pangeran Muda dan kepadanya diberi tunjangan 6000 gulden setiap tahun (Rahman, 2000:118).

 

Minim Sumber Daya dan Terbuka Menerima Semua Golongan

Menurut Dana Listiana dalam pemaparannya menyatakan bahwa Pontianak adalah kota yang minim sumber daya, hal ini membuat sang pendiri, Syarif Abdurrahman berfikir keras agar kemudian menjadikan Pontianak sebagai kota dagang dan atau jasa.

Hal ini ia implementasikan dengan cara  sangat terbuka kepada para pendatang. Dari berbagai suku, agama dan golongan dipersilahkan untuk datang dan juga menetap di Pontianak. Bahkan, ia mengutus orang kepercayaannya untuk pergi ke Batavia dan menghadap ke pemerintahan kolonial agar mau datang ke Pontianak pula.

Keterbukaan sang sultan tidak hanya dilatarbelakangi oleh sektor ekonomi semata, lebih dari itu melalui keterbukaannya membuat Pontianak kini kaya akan keberagamannya. Lebih dari 22 suku dan etnis menempati Pontianak, selain itu agama-agama juga hidup rukun dan berdampingan hingga kini.

Oleh karenanya, hal baik harus terus dilakukan. Menjaga dan merawat yang sudah baik juga harus selalu dilaksanakan. Melalui belajar dari Syarif Abdurrahman, diharapkan Pontianak akan senantiasa damai dan tentram hingga kelak nanti.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed