Belajar dari Pengalaman Nyata, Mengenai Pemimpin dan Kepemimpinan

Kabar Utama589 Views

Kabar Damai I Senin, 20 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Realita akan problematika terkait dengan regenerasi dan kaderisasi bukan hanya terjadi di level organisasi kampus saja, namun juga terjadi di organisasi-organisasi lainnya. Untuk itu lah Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama (SKPLA) yang diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)  hadir, dengan didukung oleh Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri. SKPLA bertujuan sebagai wadah untuk melatih dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru yang dibutuhkan oleh Indonesia di masa depan.

Memasuki Pertemuan kedua, SKPLA menghadirkan Vincent Jaya Saputra yang merupakan Bendahara ICRP dan Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan Hubungan Internasional di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai teman belajar. Dilaksanakan melalui zoom meeting pada Jumat  3 Desember 2021.

Pengalaman panjang Vincent Jaya Saputra  memimpin perusahaan-perusahaan berbeda menurutnya layak untuk dijadikan studi kasus bagaimana menjadi pemimpin yang baik seharusnya.

Ia pun memulai ceritanya dengan membagikan keresahannya, “agama ini jika hanya berkutat pada ritual saja kok sepertinya justru malah menjauhkan diri kita dari Tuhan,” ungkapnya.

Pada masa itu, Vincent yang berasal dari kelompok minoritas, karena latar belakangnya yang merupakan keturunan Tionghoa dan agamanya yang Kristen membuatnya mendapatkan perundungan. Ini mengakibatkan, Vincent menjadi pendiam dan tertutup.

Baca Juga: Tommy Wong: 5 Poin Penting untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan

Namun, kemudian berkat dorongan dari orang tuanya ia pun bisa membuka diri. Orang tuanya meminta Vincent untuk melakukan magang di tempat-tempat berbeda dan membuatnya bisa beradaptasi dengan situasi dan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda sekaligus mengembangkan kemampuan toleransi. Pada tahun 1994, ia diminta untuk magang di Viet Nam. Kemudian, pada tahun 1995 terjadi krisis pangan sehingga Indonesia kesulitan memperoleh beras.

Ia diminta untuk mencari beras dan mendapatkannya di Karachi, Pakistan. Maka pada hari Jumat, ia berangkat ke Karachi. Namun, ternyata disana Jumat adalah hari libur sehingga tidak ada aktivitas. Sambil menunggu pasar buka, ia pun berniat untuk jalan-jalan, namun ini pun harus dibatalkan karena terjadi insiden letusan bom di dekat kedutaan besar Amerika di Karachi. Maka, ia harus puas di dalam hotel saja, semua transaksi jual-beli beras pun dilakukan di hotel. Setahun kemudian, pada 1996, ia diminta untuk belajar ke China.

Pengalamannya yang unik ini membuatnya sadar masing-masing situasi itu unik dan orang-orangnya juga  berbeda. “Jadi yang penting itu bagaimana mengembangkan jaringan. Bagi saya 1000 teman itu kurang dan 1 musuh sudah terlalu banyak,” tuturnya.

Tidak Ada Model Pemimpin yang Paling Baik

Bekerja dengan banyak orang dengan banyak situasi berbeda juga mengajarinya bahwa, tidak ada satu model pemimpin atau gaya kepemimpinan yang paling baik. “Bagaimana pemimpin yang baik dan gaya kepemimpinan seperti apa itu tergantung dari situasinya pada saat itu,” jelasnya.

Kepemimpinan yang otoriter pun diperlukan dalam situasi-situasi tertentu, misalnya saat darurat. Seorang pemimpin harus tahu situasi seperti apa memerlukan gaya kepempinan yang seperti apa.

Selain itu, menurutnya, pemimpin juga perlu menciptakan tujuan bersama. Gunanya adalah agar semua orang merasa memiliki. Seorang pemimpin yang baik menurutnya adalah mereka yang bisa dihargai orang lain bukan karena skill-nya tetapi karena bisa menyatukan atau merangkul orang lain.

Pemimpin juga harus bisa mengambil keputusan dan merupakan orang yang mau untuk terus menerus belajar. Ia mencontohkan Jokowi sebagai pemimpin yang baik. Bagaimana Jokowi dalam suatu kesempatan meminta untuk menjadi pembicara di urutan kelima, karena ia ingin belajar dari empat pembicara lainnya mengenai kerukunan umat beragama. Menurut Vincent ini juga yang membedakan antara pemimpin dan pengikut,

“Pemimpin harus bisa memberikan warna, solusi, visi misi yang jelas dan mau memberikan solusi.”

Pengalaman hidup Vincent menarik banyak peserta untuk menceritakan pengalaman mereka dan mengulik lebih dalam mengenai apa yang ia sampaikan. Ada setidaknya 7 peserta yang menanggapi apa yang Vincent sampaikan. Willy Febrisela menceritakan pengalamannya dalam menjadi pemimpin sebuah organisasi. Ia merasa kebingungan karena ada satu anggota yang ia rasa berbakat namun sangat pasif.

Menanggapi ini, Vincent berkata, “setiap orang berbeda-beda. Kamu lebih baik fokus pada mereka yang benar-benar mau belajar dan berkembang. Kalau ada yang pasif, jadikan mereka tim pendukung saja.” Lebih lanjut, ia juga menyarankan agar Willy bisa mencari tahu tujuan masing-masing anggotanya bergabung. Jika ada tujuan bersama mereka mungkin akan lebih aktif.

Ali Fikri membagikan ceritanya juga. Saat ini ia sedang menjadi ketua sebuah badan otonom. Posisinya membuatnya terjepit karena ia harus bertanggungjawab pada lembaga diatasnya dan pada saat bersamaan harus menyampaikan aspirasi anggota-anggotanya.

Menjawab ini, Vincent mengatakan, “Tugas kita sebagai pemimpin ditengah adalah mengkomunikasikan dan memberikan resiko-resiko yang ada. Kalau pemimpin di atas tetap ngotot maka kembali pada hati nurani masing-masing, apakah bisa dan bersedia melakukan keputusan pemimpin atau mundur,” Menurutnya yang paling penting ketika menjadi pemimpin yang berada di tengah-tengah adalah untuk tetap memiliki batasan dan integritas.

Berikan Anggota Tanggung Jawab

Ebriska Sagala menghadapi persoalan berbeda. Ia adalah ketua divisi dimana anggota divisinya seringkali tidak aktif. Ini membuatnya mendapatkan teguran bahkan kemarahan dari ketua umum organisasinya. “Berikan mereka tanggungjawab,” kata Vincent setelah mendengarkan cerita Ebriska.

Menurutnya, sering kali anggota pasif itu karena mereka merasa tidak punya tanggungjawab di dalam organisasi tersebut. Mereka perlu struktur yang jelas dan tugas pemimpin adalah menempatkan orang yang sesuai dengan struktur yang ada.

Masalah yang dihadapi Sabatin Agnes Rumbiak berbeda lagi. Ia berasal dari komunitas minoritas Yahudi di Papua. Mamanya selalu memberikan pelayanan keagamaan bahkan sampai door to door. Namun, jemaat mamanya sangat pasif. Mereka baru aktif ketika sedang sakit atau perlu bantuan.

“Sudah tabiat manusia memang baru mau cepat ketika dia perlu,” jawab Vincent sembari tertawa. Ia menyarankan agar dibuatkan kelas pelatihan dasar keagamaan terlebih dahulu. Ini gunanya agar masing-masing jemaat memiliki pemahaman yang sama terkait dengan pelayanan umat sehingga kedepan mereka diharapkan bisa lebih aktif lagi.

Menjadikan Era Disrupsi Sebagai Peluang

Ulfah Fauziyah mengungkapkan keresahannya melihat bagaimana situasi Indonesia dimana hanya kelompok mayoritas saja yang bisa menjadi pemimpin. Vincent menanggapi dengan membagikan pelajaran yang didapatkannya dari Alisha Wahid. “Saya belajar dari Mbak Alisha Wahid, mayoritas harus bisa mengayomi yang minoritas, tetapi bukan kompromi ya. Kita harus tahu batas-batas kita sendiri,” jelasnya.

Junior Franata Ananda Tarigan mengalami hal lain yang meresahkannya. Ia merasa teman-temannya justru tidak suka ketika ia mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. “Bagaimana menghadapi lingkungan dan teman yang tidak suportif?” tanyanya. Vincent mengingatkan bahwa pertemanan itu proses yang terus berkembang.

“Kita tidak bisa memuaskan semua orang,” jelasnya. Tidak apa-apa jika ternyata teman kita saat ini sudah tidak cocok lagi, karena masing-masing orang terus berkembang. “Perkembanganmu dan temanmu mungkin sudah tidak seirama lagi. Tetap jaga dan hormati pertemanan yang sudah terbangun selama ini, tapi buka diri untuk hadirnya teman-teman baru yang lebih seirama,” jelasnya.

Pertanyaan Rendi Saragih disampaikan melalui kolom komentar. Ia bertanya, “bagaimana menghadapi era disrupsi?” Vincent mengatakan, “era disrupsi itu jangan ditakuti. Perubahan justru bisa menjadi peluang. Tapi jangan sampai juga kalian FOMO, fear of missing out,” pungkasnya.

Editor: Ai Siti Rahayu

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *