by

Beauty Privilege, Media dan Insecurity

Oleh: Ai Siti Rahayu

 

Sudah menjadi hal lumrah bagi seorang perempuan untuk merawat tubuhnya agar sehat dan tampil cantik dengan menggunakan berbagai produk kecantikan. Bahkan saat ini kegiatan tersebut sudah banyak dilakukan oleh laki-laki.

Banyak faktor mengapa orang-orang mulai menggunakan berbagai macam produk kecantikan. Baik itu untuk menyehatkan kulit, merawat wajah, memperbaiki penampilan atau  bahkan untuk mencapai standar kecantikan yang diinginkan. Serangkaian produk-produk yang digunakan untuk menunjang perawatan tubuh inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan skincare.

“Percayalah, jika kamu cantik, setengah dari masalah hidupmu kelar!” – mungkin pembaca sering mendengar kalimat-kalimat seperti ini. Nah adanya anggapan terhadap si Rupawan yang memiliki suatu keistimewaan dan kemudahan dalam menjalankan kehidupan, memunculkan perspektif: “Jika seseorang yang memiliki paras rupawan, ia akan dengan mudah mendapatkan segalanya,”

Dilansir dari idntimes.com, beauty privilege pada dasarnya merupakan istilah untuk menggambarkan betapa beruntungnya hidup seseorang yang terkesan lebih lancar dibandingkan orang lain kebanyakan, karena terlahir dengan rupa yang menawan. Istilah ini dapat dimaknai dengan pemisahan dua kata yang berbeda, yakni beauty yang artinya cantik secara fisik, seperti rupawan, dan privilege lebih kepada hak istimewanya.

Selain itu, media punya pengaruh yang luar biasa, karena ketika masyarakat membahas tentang kecantikan, media juga ikut membahas bagaimana dan seperti apa mereka menampilkan sisi “cantik” itu.  Kemudian mendapatkan hak-hak istimewa, itupun kembali lagi bagaimana media menempatkan sosok yang berbeda secara fisik seperti apa. Akhirnya dari media berpengaruh ke bagian-bagian yang lain di dalam masyarakat.

Media sebagai Pembentuk Beauty Privilege

Istilah “cantik itu relatif, wanita cantik dengan apa adanya mereka”  saat ini terdengar seperti omong kosong. Karena kata-kata itu belum terlalu tampak dalam kehidupan nyata. Lho, apa sih penyebabnya? Endah Prawira, dalam papernya yang berjudul Standar Kecantikan Media Massa, menganalisis betapa besarnya kekuatan media massa pada standar kecantikan.

Media massa ikut andil dalam menyebarkan ‘budaya populer’ yakni bergesernya persepsi suatu generasi, dari yang berpegang teguh pada budaya tradisional menjadi persepsi homogen yang diterapkan media. Persepsi yang dibacarakan di sini adalah standar kecantikan orang Indonesia yang semakin ke sini semakin terpengaruh oleh budaya luar.

Baca Juga: Zahrotun Nafisah: Keindahan dan Kecantikan Sesungguhnya adalah Keindahan dari Hati

Salah satu faktor pendukung terjadinya perubahan sosial adalah kontak dengan dunia luar. Bila dikaitkan dengan beauty privilege, saat ini kita semua tidak asing dengan media sosial seperti WhatsAppFacebookInstagramYoutube dan yang lainnya. Sehingga informasi dari berbagai penjuru dunia sangat terbuka.

Sebagai contoh, sekarang definisi cantik menurut kalangan muda rata-rata merujuk pada wanita atau pria Korea yang memiliki kulit putih, hidung mancung, wajah tirus, mata sedikit sipit, rambut hitam. Nah hal ini terjadi karena media sekarang sering menggambarkan seperti itu.

Pengaruh adanya beauty privilege bisa dilihat dari bagaimana menjamurnya produk-produk kecantikan yang diciptakan para kapitalis agar konsep cantik itu terwujud. Dan media sosial kembali menggambarkan adanya beauty privilege dengan lebih mudah. Padahal, hakikatnya kulit alami orang Indonesia berwarna kuning langsat, sawo matang dan berkulit gelap. Seberagam itu, kan?

Tapi, karena dampak media, masyarakat cenderung tidak puas dengan warna kulitnya yang menurut mereka terlalu gelap. Akhirnya mereka mencari suatu produk yang dapat membantu mencerahkan kulit mereka. Inilah yang mendorong banyak brand skincare yang saat ini berlomba-lomba mengedepankan produk whitening dan memasang iklan dengan model berkulit putih.

Faktor Penentu Standar Kecantikan

Ada beberapa tujuan seseorang dalam menggunakan skincare. Seperti ingin terlihat lebih cantik dan tampan, atau sekedar ingin merawat tubuh agar sehat dan mensyukurinya.

Selain itu, setiap orang memiliki standar kecantikannya masing-masing dan itu bisa berubah berdasarkan waktu, tempat atau mengikuti trend lingkungan. Berdasarkan standar waktu misalnya dulu yang kurus, kecil, kelihatan tulang itu cantik untuk kriteria model. Tapi sekarang sudah bergeser sehingga akhirnya yang lebih berisi yang terlihat cantik, jadi lebih kooperasional berat badannya.

Dua faktor  tentang faktor penggunaan skincare dan terbentuknya beauty privilege  permintaan skincare cenderung mengikuti keinginan  masyarakat. Kebutuhan masyarakat diikuti faktor media sosial memperkuat keinginan mencapai beauty privilege.

Beauty Privilege Picu Timbulnya Insecurity

Nah, meski bagi sebagian orang adanya privilege berdampak posistif sehingga setiap orang berlomba untuk mencapainya, justru pada seseorang yang lain bisa berdampak sebaliknya, termasuk dalam  privilege kecantikan  ini.  Dampak negatif dari privilege seperti ini bisa berimbas pada kondisi mental seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh pandangan masyarakat yang memandang kecantikan sebagai suatu aspek yang sangat dominan dari satu sosok manusia atau dari seorang individu.

Sisi buruk  dari standar kecantikan ini membawa ketimpangan keadilan pada kehidupan bermasyarakat. Selain itu juga standar kecantikan ini membawa perasaan insecure dan perundungan kepada korbannya.

Namun, tingkat perundungan ini dipengaruhi oleh tingkat edukasi dan kedewasaan dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat edukasinya dan kedewasaan semakin sedikit pula resiko terjadinya perundungan yang mengakibatkan insecure.

Insecurity juga bisa muncul saat kita membandingkan diri dengan orang lain. Rasa insecure ini muncul saat melihat orang lain dan mulai berpikir bahwa orang lain lebih baik daripada kita. Dengan adanya si ‘standar kecantikan’ ini, mereka yang berbeda secara fisik dari mayoritas selain dirundung berkemungkinan juga merasa kurang percaya diri.

Fokus pada Potensi Diri dan Inner Beauty

Walaupun beauty privilege tak bisa dipungkiri keberadaannya, dan bisa membawa dampak yang buruk, semua itu tetap bisa diubah ke arah yang lebih positif. Budaya-budaya merendahkan manusia dari segi fisik adalah salah satu hal dasar yang harus kita hindari.

Ada sebuah kutipan dari tokoh bernama Tokyo dari serial Netflix berjudul “La Casa De Papel” atau yang biasa disebut “Money Heist”, “People find a lot of things sexy. Do you know what I find sexy? Intelligence,” maksud dari Tokyo yaitu Kecerdasan yang merupakan benda non-wujud milik pribadi.

Keharusan kita untuk memperhatikan aspek lain yang mungkin sebetulnya menjadi aspek yang lebih menonjol dari pada hanya sekedar kecantikan saja. Padahal, aspek kecantikan manusia selain rupa juga mengacu pada potensi diri pribadi, juga inner beauty.

Inner beauty adalah aspek kecantikan yang muncul dari kepribadian itu sendiri, seperti sesuatu yang baru bisa kita rasa setelah berinteraksi. Misal dari hanya mengobrol bisa tahu bagaimana kepribadiannya, kecerdasannya, cara dia berpikir sistematis atau tidak, dan lain sebagainya.

Jadi selain adanya beauty yang terlihat dari luar ada juga inner beauty yang sama pentingnya bahkan lebih penting. Bukan sekedar kecantikan yang terlihat dari casin saja.

Untuk hal potensi pribadi pun bisa berupa apa saja, contoh kecilnya adalah skill make up. Hal-hal kecil seperti skill make up dapat menghilangkan perasaan insecure pada wanita. Dengan ber-make up, wanita bisa tampil lebih percaya  diri di depan umum.

Di sisi lain, make up bukan patokan untuk mencapai beauty privilege akan tetapi cara untuk mensyukuri dan memoles kecantikan diri. Jadi,masih banyak cara lain yang bisa lakukan untuk  bisa percaya diri dan terhindar dari perasaan insecure.

Terlepas dari banyaknya pandangan negatif, ternyata ada juga yang menganggap hal ini dapat memberikan dampak positif bagi mereka. Kita bisa liat dari sisi baiknya yakni membuat kita lebih memperhatikan diri sendiri. Bukan berarti kita harus cantik seperti orang lain, atau putih seperti model, tapi lebih ke memotivasi diri agar bisa menampilkan sisi terbaik kepada orang lain.

Seseorang yang mempunyai beauty privilege tidak harus menolak apa yang dia miliki, karena itu adalah hadiah dari Tuhan. Kita tidak bisa milih mau dilahirkan dengan wajah seperti apa. Asalkan tidak membuat orang tersebut sombong, merasa lebih baik dari orang lain karena kecantikan atau ketampanannya, dan bahkan merasa superior bisa melakukan apapun.

Nah, setelah dilihat lebih lanjut, kecantikan itu ada dalam pribadi masing-masing loh. Semua standar ini hanya soal waktu dan tempat, yang artinya semua ini adalah hal-hal yang tidak baku. Semua privilege ini  asalnya adalah dari cara pola pikir kita dan lingkungan sosial yang membentuk. Cara mengubahnya pun tentu dengan merubah pola pikir kita untuk menghargai perbedaan dan bangga atas apa yang kita punya.

“Love Your Self. It is important to stay positive because beauty comes from the inside out” – Jenn  Proske, Aktor

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed