by

Batik Indonesia: Faktor Politik, Ekonomi dan Seni Budaya dalam Batik sebagai Ikon Kebangsaan Indonesia

-Opini-69 views

William Kwan Hwie Liong

Sampai saat ini dalam sejarah perkembangan batik Indonesia, istilah ‘Batik Indonesia’ mengacu pada hasil karya Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan), seorang budayawan besar, empu sekaligus desainer batik yang hebat dari Surakarta.

‘Batik Indonesia’ diartikan sebagai batik yang bebas dari pakem batik yang bersifat kedaerahan. Ia mencitrakan desain batik yang mampu memadukan aneka pakem batik dari berbagai daerah tersebut. Dengan kata lain, sebagai contoh, ‘Batik Indonesia’ harus mampu memadukan gaya batik Pedalaman (a la Surakarta dan Yogyakarta) dan gaya batik Pesisiran (Pekalongan, Cirebon, Lasem dan sebagainya).

Berbekal kriteria di atas, kita dapat memeriksa aneka desain batik klasik Hindia Belanda dan Indonesia untuk mencari jejak ‘Batik Indonesia’.

Sebagai hasilnya, kami pribadi berkesimpulan bahwa ‘Batik Indonesia’ sudah ada sejak akhir abad 19, Mereka muncul sebagai hasil pengaruh dari 3 (tiga) faktor sebagai berikut:

a) ‘Batik Indonesia’ hasil POLITIK KEBANGSAAN.
Visi politik dari seorang pemimpin level nasional Republik Indonesia yang ingin melihat batik dengan desain kombinasi pakem batik berbagai daerah.
Contoh: Batik Sawung Galing karya Go Tik Swan atas instruksi Presiden Soekarno sekitar tahun 1955 – 1960an.

b) ‘Batik Indonesia’ hasil JARINGAN EKONOMI ANTAR DAERAH.
Intuisi bisnis dari seorang pengusaha batik yang mampu melihat peningkatan nilai tambah produk batik yang dihasilkannya dengan cara membangun kerjasama produksi antar pengusaha berbagai daerah sentra batik untuk mengkombinasikan aneka desain batik berbasis kedaerahan yang saling berbeda menjadi sebuah kesatuan desain yang baru, baik dari sisi kombinasi warna maupun motif.

Contoh: Batik Tiga Negeri dari berbagai daerah (Solo, Lasem, Batang Pekalongan) yang semula dirintis oleh batik Tiga Negeri Solo yang diciptakan desain, produksi dan pemasarannya oleh keluarga Ny. Tjoa Giok Tjiam, Solo sejak tahun 1910. Batik Tiga Negeri Solo ini dibuat melalui kerjasama produksi antara perusahaan batik ‘Tiga Negeri’ milik keluarga Tjoa Giok Tjiam dengan beberapa perusahaan di Lasem. Popularitas batik Tiga Negeri Solo ini berimbas pada pengembangan batik Tiga Negeri di Lasem dan batik Tiga Negeri di Batang-Pekalongan dengan ciri khas masing-masing.

c) ‘Batik Indonesia’ hasil EKSPRESI SENI BUDAYA.
Cita rasa seni budaya dari seorang desainer atau pengusaha-desainer batik yang mencoba meramu aneka motif dan warna yang dijumpainya, baik berasal dari desain daerah tempat tinggalnya maupun desain batik daerah lain, sehingga akhirnya tanpa sengaja menghasilkan kombinasi batik pedalaman dan pesisiran sedemikian rupa sehingga cukup layak disebut sebagai ‘batik Indonesia’.

Contoh: Batik-batik yang memiliki warna tiga negeri (merah, biru, soga) dengan elemen ornamen dari batik klasik Pesisiran (parang, kawung, isen ukel, dll) dan batik klasik pesisiran (buket bunga, burung hong/ phoenix, bunga seruni, dll). Sebagian batik dari sanggar batik milik pengusaha Peranakan Belanda dan Peranakan Tionghoa di Pekalongan, sebagai contoh, memperlihatkan ciri ‘Batik Indonesia’ ini. MIsal: karya batik Lien Metzelaar, +/- tahun 1900.

Catatan:
1. Berdasarkan ciri kombinasi desain Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran, terdapat 3 (tiga) macam ‘Batik Indonesia’ seperti tersebut di atas.

2. Mengingat Republik Indonesia baru merdeka sejak 17 Agustus 1945, tentu hanya ‘Batik Indonesia’ yang dibuat berdasarkan visi politik kebangsaan Indonesia dari seorang pemimpin nasional dapat disebut sebagai Batik Indonesia. Dengan demikian, desain batik karya Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan) atas permintaan Presiden Soekarno adalah sesungguhnya sebuah Batik Indonesia (batik dengan jiwa kebangsaan Indonesia secara utuh bersatu dalam ke-bhineka tunggal ika-an.).

Salam ke-Indonesia-an dalam batik..

William Kwan Hwie Liong, pendiri Institute Pluralisme Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed