Bandara Bersejarah Frans Kaisiepo dan Papua Trasportation Forum dalam Koferensi APS

Kabar Utama199 Views

Kabar Damai | Rabu, 27 April 2022

Jakara | kabardamai.id | Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) tiba di Biak Papua untuk menghadiri Konferensi Analisis I Papua Strategis, Rabu (27/04). Kedatangan kami disambut dengan baik dan penuh antusiasis oleh Laus Deo Calvin Rumayaom, Ketua Analisis Papua Strategis dan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Cenderawasih, Jayapura Papua.

Pulau Biak, pulau yg terletak di Teluk Cenderawasih, di sebelah utara pesisir Provinsi Papua memiliki sejuta pesonanya yang tak henti membuat kami berdecak kagum sedari awal. Segala keindahan itu sudah terlihat dari atas awan, ketika kami masih memandangnya di balik jendela pesawat.

Kekaguman itu membawa perbincangan antara kami dan juga Laus tentang sejarah Pulau Biak. Biak dahulu, pernah menjadi tempat medan pertempuran Perang Dunia II antara kubu Jepang dengan Sekutu. Pulau ini menjadi saksi bisu konflik terbesar dan paling destruktif sepanjang sejarah.

Tempat pertama yang kami pijak di Bumi Cendrawasih adalah Bandara Frans Kaisiepo. Bandara ini sangat menarik karena sejarah perkembangan kota Biak menyatu dengan sejarah pendirian Bandara Frans Kaisiepo.

Didirikan Oleh Jepang

Bandara Frans Kaisiepo sendiri didirikan oleh Jepang karena posisi Pulau Biak yang dekat dengan Samudra Pasifik. Letak yang sangat strategis itu  menjadi strategi penting bagi Jepang dalam memenuhi ambisinya untuk mengobarkan perang di Pasifik.

Tak berselang lama, ternyata pangkalan udara militer Jepang ini harus jatuh kepada pasukan Sekutu. Jepang pada akhirnya berhasil terusir dari Biak oleh Sekutu. Pangkalan udara militer itu kemudian disebut dengan Bandara Ambroben, yang masih menjadi salah satu pangkalan terbang terpenting untuk memenangkan perang di Pasifik.

Baca Juga: Mengenal 7 Wilayah Adat di Papua yang Menjadi Pembahasan dalam Konferensi APS

Seiring dengan berakhirnya perang dan kedatangan Belada, Bandara Ambroben yang dikendalikan oleh Belanda dikenal sebagai Bandara Mokmer. Belanda kemudian mengalihkan fungsi dari bandar aini utuk kebutuhan komersial bukan militer.

Dengan difungsikan untuk kepentingan komersial,  Belanda kemudian menjadikan Biak sebagai rute penerbangan internasional keliling dunia. Sebagai rute penerbangan Internasional, Belanda juga membangun hotel   mewah Bernama RIF hotel yang memiliki lobby di bawah laut.

Penerbangan Internasional

Pada Tahun 1984, Bandara Mokmer kemudian berubah nama lagi menjadi Bandara Frans Kaisiepo hingga saat ini. Meski begitu setelah penguasaan Bandara diberikan kepada Indonesia, Bandara Frans Kaisiepo tetap menjadi bandara yang sangat strategis untuk penerbangan internasional.

Posisi yang sangat strategis dan berada dekat Samudra Pasifik juga berkolasi di ekuator. Sejak tahun 1996 maskapai Garuda Indonesia sudah memasukkan Biak dalam penerbangan internasional ke Amerika Serikat. Pada periode 1996-1998, Garuda Indonesia membuat rute Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Itu artinya perjalanan dari Biak langsung bisa mendarat ke Honolulu-Hawaii.

Selain itu, Bandara Frans Kaisiepo juga pernah punya rute penerbangan internasional lainnya yaitu Jakarta-Denpasar-Biak-Seattle.

Namun semenjak tahun 1998 rute internasional yang melintasi Samudra Pasifik ini terpaksa terhenti. Hingga kini belum ada lagi rute penerbangan internasional dari Bandara Frans Kaisiepo.

Isu Papua Tranportation Forum dalam Konferensi APS

Biak dan segala potesi keindahan serta komersialnya, seharusnya bisa menjadi pusat transportasi dan pariwisata yang kokoh di Indonesia. Namun, potensi tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Karena itu melalui Konferensi I Analisis Papua Strategi yang membahas Papua Transportasi Forum sebagai salah satu dari tiga isu strategis yang dibahas.

Laus Deo Calvin Rumayom, berharap Kementerian Perhubungan, dapat memetakan transportasi di Papua dalam 20 tahun ke depan.  Sebab, hingga saat ini, wilayah Pegunugan Tengah dalam segi  harga barang masih mahal dan belum sejahtera, bahkan harga semen bisa mencapai diatas Rp 1 juta. Sungguh miris mengingat betapa strategisnya posisi Papua.

Untuk itu, diharapkan ke depan masalah transportasi di Papua bisa direvitalisasi, termasuk kemungkinan rencana pembangunan kereta api di Papua sebagai solusi percepatan pembangunan transportasi di Papua dalam upaya meningkatkan konektivitas.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *