by

Bagaimana Khalifah Ahmadiyah Dipilih?

Kabar Damai I Minggu, 29 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Hingga saat ini, praktik diskriminasi dan intoleransi terhadap Ahmadiyah diseluruh dunia masih terus terdengar. Selain dianggap sebagai agama sempalan, pernyataan dari sebagian besar orang juga menyatakan bahwa para ahmadi tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi dan justru memiliki nabi yang lain.

Selain itu, pola khalifah yang ada dalam Ahmadiyah juga kerap kali menyebabkan salahnya persepsi dan dianggap radikal.

Melalui kanal Ahmadi Talk, Mln. Lutfhi Julian Putra menjelaskan tentang khalifah dalam Ahmadiyah dan bagaimana khalifah tersebut dipilih.

Diawal pemaparannya, ia menyebutkan bahwa khalifah merupakan sosok pengganti atau penerus misi dari seorang nabi.

“Sejatinya klalifah adalah sosok pengganti atau penerus misi dari seorang Nabi, seorang nabi mendakwahkan diri bahwa ia adalah utusan Tuhan kemudian akan ada banyak orang yang mengukutinya dan seiring dengan menjalankan misi kenabian tersebut,”.

“Karena Nabi merupakan manusia juga dan akan wafat, setelah kewafatan Nabi dipilihlah atau ditunjuklah seorang pengganti atau penerus untuk melanjutkan misi dari Nabi atau utusan Tuhan yang wafat itu,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa sistim pemilihan dan penentuan khalifah bahkan sudah ada sejak masa Rasulullah. Menurutnya, dizaman yang mulia Rasulullah SAW, ketika beliau wafat maka para sahabat berkumpul dan memilih seorang khalifah yang bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq (ra). Begitu juga dimasa khalifah kedua, hadrat Umar bin Khathhab (ra) menjelang kewafatan beliau membentuk sebuah komite pemilihan khalifah dan menunjuk beberapa sahabat untuk menjadi bagian dari komiter tersebut. Diantaranya ada Usman bin Affan (ra), Ali bin Abi Thalib (ra). Kemudian terpilihkan hadrat Usman dan seterusnya sampai hadrat Ali.

Oleh karenanya, hal tersebut juga sama seperti yang dilakukan oleh para Ahmadi.

Baca Juga: Penyegelan Masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang, Bukti Pemda Tunduk Pada Kelompok Intoleran

“Begitu juga dengan khalifah Ahmadiyah, ketika Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang mendakwahkan diri sebagai Isa Al-Masih  yang dijanjikan dikalangan muslim wafat, maka para Ahmadi berkumpul dan menghasilkan satu keputusan yang bulat pemilihan yang satu yakni kepada Hazrat Hakeem Nooruddin yang menjadi khalifah yang pertama,” tambahnya.

Lebih jauh, menurutnya dimasa khalifah yang kedua Hazrat Mirza Basniruddin Mahmud Ahmad beliau membentuk suatu komite yang didalamnya terdiri dari beberapa orang pilihan yang didalamnya juga dapat dipilih sebagai seorang khalifah dan kita saksikan sampai saat ini pemilihan khalifah berlangsung.

Dalam sistim pemilihan khalifah, menurutnya itu semua adalah termasuk dalam kehendak Allah.

“Satu hal yang penting dan harus kita garis bawahi adalah kita yakin bahwa sejatinya Allah SWT yang memilih atau menunjuk khalifah. Memang lahiriyahnya pada Ahmadi berkumpul untuk sama-sama berdoa pada Allah dan untuk diberi petunjuk yang mana pilihan Allah,”.

“Pada hakikatnya Allah SWT yang menunjuk khalifah itu, membimbing para ahmadi yang hadir untuk memilih pilihan Allah SWT,” jelasnya.

Selain itu, ada pula fenomena atau pemberian firasat dari Allah melalui mimpi.

“Ada juga fenomena melalui mimpi, dimana para ahmadi bermimpi bahwa khalifah yang selanjutnya adalah seseorang yang tidak disebutkan, hanya disimpan didalam hati dan setelah terpilih sosok tersebut benar saja seperti apa yang dilihatnya didalam mimpi,” tuturnya.

Luthfi membeberkan, yang tidak kalah pentingnya dari fenomena khalifah Ahmadiyah ini ialah yakin sebagaimana semua yakin khalifah adalah pilihan Allah SWT,

“Kita saksikan dalam sejarah jemaat Ahmadiyah dari khalifah yang pertama sampai sekarang yang kelima kita lihat bagaimana penindasan, penganiayaan yang dilontarkan dari para penentang Ahmadiyah, bagaimana mereka membenci dan menumpahkan darah para ahmadi,” bebernya.

Walaupun kerap dimusuhi dan mendapatkan diskriminasi, ahmadi dimanapun berada selalu senantiasa bersabar.

“Para ahmadi diseluruh dunia tetap sabar, tidak keluar satu langkahpun dari ajaran Islam dan terbukti sampai saat ini dengan karunia Allah para ahmadi dengan khalifahnya terjaga dari tindakan-tindakan atau respon-respon balasan yang tentunya bertentangan dengan ajaran Islam,” jelasnya.

Terakhir, ia menyatakan bahwa sampai  saat ini, ahmadiyah semakin berkembang diseluruh pelosok dunia walaupun seiring dengan perkembangannya selalu ada saja penentangan tetapi sekali lagi Ahmadiyah selalu berkembang.

“Ini menjadi bukti tentang kebenaran dari khalifah Ahmadiyah dimana Allah SWT senantiasa membimbing khalifah dalam setiap langkah yang menghasilkan banyak sekali kebaikan dan keberkahan bagi Ahmadiyah khususnya dan umat manusia secara umum,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed