by

Bagaimana Keluarga Beda Agama Mengenalkan Agama pada Anak

-Opini-71 views

Oleh: Trully Lam

Pertanyaan yang sering disampaikan pada kami sebagai pasangan beda agama dan sudah memiliki anak adalah bagaimana kami mendidik agama anak kami dalam keluarga yang tidak 1 agama. Namun lebih tepatnya bagi kami adalah bagaimana Mengenalkan Agama pada anak-anak kami. Karena harapan kami pada anak-anak adalah bagaimana mereka memahami peran Agama untuk hal yang lebih utama bagi kami yaitu mengenal Tuhan dan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kami adalah pasangan Katolik dan Islam. Dan kami bertemu dalam pernikahan kedua kami. Dengan masing-masing memiliki 2 anak dari pernikahan sebelumnya yang seagama, lalu kami memiliki 1 anak bersama, bisa saja kami memiliki bonus konflik tentang agama pada anak-anak kami. Tapi mungkin karena mereka bertemu saat masih usia awal SD dan ada yang masih TK, sepertinya justru bagi mereka agama tidak menjadi salah satu beban dalam proses adaptasi mereka, melainkan pengenalan karakter antara satu dengan lainnya.

Pada akhirnya sama dengan pasangan-pasangan lainnya yang membesarkan anak sejak lahir, walau anak-anak kami pernah menjalani hidup berkeluarga seagama dengan segala ritual dan pendidikan agamanya. Yang Katolik mengikuti pendidikan katolik, yang muslim ikut belajar mengaji di Taman Pendidikan Alquran, namun mereka tetaplah kertas putih yang masih banyak ruang kosong untuk diisi oleh Orang tuanya. Dan bagaimana kami mengisi, yaitu dengan memberi visualisasi nilai-nilai yang kami ajarkan melalui perilaku dan karakter kami sehari-hari.

Menjalankan agama  tanpa konflik

Saat mereka masih SD kami tidak secara khusus mengajarkan agama pada anak-anak. Saya yang muslim menjalankan shalat, mengaji dan puasa, juga mengikuti pengajian oleh Kyai yang menurut kami ajarannya cukup moderat dan bisa menerima keluarga kami yang bhinneka. Suami yang Katolik setiap minggu ke gereja dan sehari-hari menjalankan doa di jam-jam tertentu dan berpuasa di masa pra paskah.

Baca Juga: Menikah Beda Agama, Begini Toleransi Amara dan Frans Mohede saat Ramadan

Semua itu dilihat langsung oleh anak-anak dan mereka ikut serta saat kami ke pengajian dan gereja bersama-sama, juga perayaan agama kami masing-masing bersama keluarga besar. Kami memang tidak menjadikan Agama sebagai suatu kewajiban tapi kebutuhan kami pada semua ritual yang dijalani. Sehingga kami tidak menyibukkan diri untuk memaksa anak-anak menjalaninya selain karena kesadarannya sendiri.

Salah satu anak kami yang muslim sekolah di sekolah Islam, dan yang Katolik sekolah di sekolah Katolik. Dan yang lain sekolah negeri. Tentunya mereka juga tetap mendapatkan pendidikan formal agama di sekolahnya. Di masa pendidikan dasar ini, kami lebih banyak memberi contoh dari diri kami sendiri agar anak-anak mengenal agama tidak dalam tekanan melainkan dari secara visual sehari-hari. Kami tak ingin anak-anak frustasi dengan agama sebelum waktu mereka tiba mengenal Tuhan.

Bukan hanya teori, kami merasakan sendiri bahwa apa yang menjadi kegusaran anak berkaitan dengan apa yang menjadi konflik orang tua. Salah satu yang membuat anak-anak  secara mulus menerima perbedaan agama di keluarga mereka karena kami memang tidak pernah ada konflik tentang itu. Sejak awal kami tidak merasa berbeda keyakinan walau beda agama. Karenanya kami tidak pernah mempermasalahkan apakah itu perbedaan ritual, larangan, masa perayaan, maupun pandangan-pandangan dalam agama kami masing-masing.

Kami justru merasa sukacita jika saat membaca atau mendengar apakah di medsos, dari buku, pengajian atau di gereja yang merupakan sebuah penerimaan atas agama lain, atau persamaan dalam ajarannya. Namun jika ada yang mempertentangkan apalagi ujaran kebencian, pasti kami tinggalkan atau abaikan.

Kami mengamati, apa yang paling diharapkan anak dari orang tua adalah Kedamaian. Apapun konflik orang tua, itulah yang membuat mereka gusar dan menjadi luka batin. Jika agama yang menjadi konfliknya, maka itupula yang akan membawa kegusaran pada agama dan akhirnya konflik tak hanya pada orang tua tapi pasti pada anak dan orang tua, anak pada saudaranya, pada keluarga besarnya dan berikutnya pada lingkungannya.

Demikian pula Kelenturan kami dalam beragama juga berdampak pada anak-anak kami. Mereka juga lentur dalam perbedaan saudaranya, keluarga besarnya juga ke teman-temannya. Bahkan tak sedikit temannya yang iri dan curhat ke anak-anak kami tentang kegelisahan mereka pada agamanya sendiri. Menganggap kebebasan beragama anak-anak kami adalah privilege dari keluarga beda agamanya.

Namun kami bukan pasangan yang sempurna. Kami juga memiliki banyak masalah dan konflik yang terjadi tapi yang pasti bukan karena agama. Dan itu berpengaruh pada anak-anak juga. Tampak sekali mereka paling tidak suka saat kami bertengkar walau tanpa teriakan hanya saling diam. Disanalah kami sadar, kami berdua harus berdamai dengan segala urusan dalam diri kami, dengan pasangan, dengan anak-anak dan seterusnya. Semakin berkurang frekwensi kami berkonflik, pengaruhnya sangat besar pada anak. Mereka juga lebih mudah untuk menerima pelajaran hidup mereka baik apakah itu bersama keluarga kami atau di lingkungan luar kami.

 

Bagaimana kami menjalankan 1 Keyakinan dalam Perbedaan Agama

            Kami berdua sama-sama yakin bahwa Tuhan kami dan seluruh semesta ini sama. Kami juga sama-sama yakin bahwa semua yang terjadi di dunia ini setiap saat adalah KuasaNya dan RancanganNya. Karena itu kami percaya walau bahasa doa kami bisa berbeda namun tetap tujuan dan inti yang sama. Itu mengapa kami bersepakat sejak anak kami terkecil usia 3 tahun, sudah bisa berinteraksi penuh, kita berdoa bersama setiap malam sebelum tidur. Semaksimal mungkin kita lakukan selama tidak ada halangan lainnya.

Dan ini kami rasakan memiliki dampak yang baik bagi kami pada seringnya hal luar biasa yang terjadi di keluarga kami. Seperti saat anak kami dibully temannya yang anak seorang pembesar, diperas uang jajannya sampai dipukul perutnya di tempat sepi sekolah,  hingga gurunya pun tak mampu mengatasi saat anak kami mengadu. Sebelum kami sebagai orangtua membawa masalah ini menjadi keputusan emosional, kami bawa masalah anak ini dalam doa bersama kami dan memohon pada Tuhan jalan keluar terbaik dari masalah ini.

Dan keesokan harinya, saat kami memutuskan datang ke sekolah untuk menindak lanjuti masalah ini, ternyata anak kami sudah bermain bersama dengan yang membully dan bercerita Ibu Pembully menyuruh anak itu datang padanya meminta maaf setelah ada anak lain yang mengadu pada Ibu si Pembully. Selesai masalah itu hingga seterusnya tanpa campur tangan kami berdua secara langsung.

Demikian juga saat Mama kami sakit dan kami rawat di rumah, setiap malam kami bersama-sama mendoakan obat yang harus diminum Mama supaya Tuhan memberi kesembuhan pada Mama. Dan itu sangat berdampak pada psikis Mama sehingga beliau cepat pulih dan sehat kembali padahal dokter memvonis Mama akan dalam kondisi melemah seterusnya.

Sampai saat ini dimana kedua anak kami yang dewasa sudah bekerja, 1 anak kami kuliah dan adiknya masih sekolah, kami sempatkan untuk doa bersama bagi yang tidak berhalangan. Dan moment doa bersama ini sekaligus juga waktu bagi kita sharing, baik kami sebagai orang tua berbagi pengetahuan tentang agama, atau anak-anak berbagi cerita keseharian dan masalah-masalahnya.

Selain doa bersama, mendatangi pengajian dan ibadat gereja bersama, kami juga mendorong anak-anak kami untuk ikut di kegiatan perdamaian anak muda. Seperti Peace Train Indonesia yang diadakan ICRP dan beberapa kegiatan lainnya dari berbagai penyelenggara. Disana mereka mengenal teman dari berbagai agama bahkan yang tidak diakui Negara, dan disampaikan pula tentang ajaran-ajaran berbagai agama itu.

Selain itu juga mereka diajak mengunjungi rumah-rumah ibadah berbagai agama dan kegiatan-kegiatan kebhinnekaan di daerah. Kami tidak memaksa anak-anak kami untuk menjadi aktivis atau penggiat yang aktif di medsos. Kami bebaskan mereka menjadi dirinya sendiri dan yakin mengikutsertakan mereka di kegiatan seperti itu pasti berdampak positif bagi mereka karena tidak semua yang disampaikan disana mampu kami sampaikan dan mereka merasakan secara langsung pengalaman kebhinnekaan itu dari yang lebih berkompeten.

Dan hasilnya mereka memiliki pandangan yang luas terhadap temannya dan dalam dunia yang sedang mereka hadapi. Kita tahu dalam sehari-hari mereka pasti menjalani realita seperti dunia sekolah, kuliah, kerja, percintaan, dimana tingginya nilai toleransi yang mereka miliki pasti akan berdampak pada bagaimana menghadapi semua itu. Pada bagaimana mereka menghadapi perbedaan, mengatasi konflik dan menyikapi semua dengan cara yang damai.

Dari kegiatan-kegiatan mereka akhirnya kami juga menjadikan jalan-jalan bersama kami dengan mengunjungi rumah-rumah ibadah yang ada di kota kami atau jika sedang diluar kota. Kadang kami juga bersama duduk berdoa dan merasakan kesakralan tempat tersebut dan merasakan kehadiran Tuhan disana. Dengan mengalami perjalanan spiritual kami bersama, memberikan efek yang berbeda pada anak-anak seperti jika belajar agama secara formal. Karena mereka merasakan langsung bahwa agama-agama yang berbeda itu bukanlah sebuah kesesatan dan harus dihargai keberadaannya.

Kesadaran Bahwa Hidup Anak-anak adalah Milik mereka

            Segala upaya kami dalam mengenalkan agama dengan niatan memberi kebebasan pada mereka kelak jika dewasa dengan se-moderat mungkin, pada suatu ketika membuat kami benar-benar tersadar anak-anak bukan dalam kuasa kami. Hidup mereka adalah benar-benar milik mereka, kita hanya penulis kertas kosong di awal hidup mereka dan berbagai penulis lainnya juga turut menjadi bagian keragaman cerita hidup mereka.

Bayangan kami mereka baru akan memilih agama sesuai nurani mereka di usia dewasa ternyata tidak semua bisa demikian. Dan salah satu anak kami saat SMP kelas 1 sudah berproses pada panggilan hatinya untuk memilih agama yang bukan agamanya dari kecil. Berbagai sebab yang menjadi bagian proses perjalanan imannya, dari ketidaksukaannya pada guru agama di sekolah yang suka menjelek-jelekkan agama lain, dari preferensi di hati pada ajaran dan ritualnya, dan proses batin yang dia simpan di ruang pribadi antara dia dan Tuhan.

Saat kami mendengar anak kami ingin pindah agama, kami memintanya untuk tidak terburu-buru agar tidak menjadi penyesalan kelak karena keputusan sesaat saja. Tapi ternyata dia menjalani proses ini dengan mengambil kelas agama lain di sekolahnya yang baru kami ketahui kemudian. Pada akhirnya kami melihat kesungguhan pada dirinya dan kami rasakan langsung niatnya kuat sekali untuk masuk ke agama yang ditujunya.

Dan kami sadar tugas kami adalah mendampinginya melalui semua proses itu, menemaninya saat banyak teman yang meninggalkannya karena menganggap murtad, dan membantu semua urusannya baik ritual perpindahan agamanya maupun administrasi negara dan sekolah. Teori tentang Ikhlas jika anak memilih agama lain otomatis tidak lagi hanya teori kecuali jika ego kita terlalu besar untuk itu. Karena bila kita benar-benar melihat ke anak kita, sungguh berat proses yang dia lalui sendirian apalagi jikaharus berhadapan dan berkonflik pada kita orang tuanya yang pasti sangat dia cintai.

Sejak itu kamipun tak menunggu anak-anak yang lain hingga dewasa, di usia remaja ini masing-masing kami tanyakan apakah agama yang mereka pilih saat ini. Dan merekapun masih memilih agama yang selama ini dipeluk. Namun kami bersyukur pilihan saudaranya untuk berpindah juga tanpa pertentangan dari mereka, bahkan ikut mendukung dan turut hadir di ritual masuk ke agama yang dituju.

Terlihat bagi mereka semua itu biasa saja bukan sesuatu yang big deal bagi anak-anak kami. Justru saya yang menangis melihat dia menjalani ritual itu. Bukan karena sedih, tapi keharuan yang besar, karena banyak orang tua bersusah payah menunjukkan jalan Tuhan pada anaknya dan saya melihat anak saya telah menemukan jalanNya dengan caranya sendiri. Saya sangat bersyukur pada Tuhan atas karunia ini.

Demikian juga saat remaja mereka mengenal jatuh cinta, seperti dugaan kami tidak akan bisa di negeri se-bhinneka Indonesia menghalangi seseorang jatuh cinta pada yang berbeda dengannya. Salah satu dari anak kami jatuh cinta dengan yang beda agamanya. Tapi lalu putus. Sebabnya bukan karena agama, tapi karena tidak cocok dengan sifatnya. Berbeda dengan anak kami yang lain, memang sejak SMA dia selalu jatuh cinta dengan agama yang berbeda dengan dia.

Hingga saat bekerja, dia jatuh cinta pada teman sekantor yang lain agama. Dan lucunya justru atasan dan teman kantornya yang menentang hingga memanggil khusus agar dia segera meninggalkan hubungan yang demikian. Kami sebagai orang tua memutuskan membiarkan anak kami menjalani prosesnya.

Penting baginya untuk punya ruang yang lega untuk menemukan titik penting dalam hidupnya yaitu yakin bahwa pacarnya ini adalah yang dipilih Tuhan untuk menjadi jodohnya kelak. Dan menemukan titik penting itu lebih baik bagi kami dia yang menemukannya sendiri. Bahkan jika dalam prosesnya dia memilih untuk seagama dengan jodohnya itu, kami hanya bisa mengingatkan, apa yang jadi keputusannya benar-benar sebuah panggilan dari-Nya, bukan karena tekanan dari siapapun.

Begitulah, pada akhirnya kita tidak akan bisa memastikan apa yang jadi jalan cerita anak kita kelak, sedangkan apa yang terjadi diri kita sendiri besok saja kita tidak bisa memastikan. Yang harus kami lakukan adalah menemani mereka berjalan sejak mereka belum tahu apa-apa dan menunjukkan jalan yang baik. Saat mereka sudah fasih berjalan dan memulai perjalanannya sendiri, kami hanyalah pendamping bagi mereka.

Hal Penting dari Agama      

Seperti cerita kami sebelumnya, di usia pendidikan dasar anak, kami sendiri tidak banyak bicara soal agama selain menjalani ritual kami, mengajak ke rumah ibadah dan perayaan bersama-sama. Karena usia mereka masih tahap melihat dan mendengar, di samping mereka mendapat pengetahuan agama secara formal di sekolah masing-masing. Sekali lagi, jangan sampai mereka frustasi karena beban kontradiksi yang mereka terima di sekolah dan di rumah. Yang terpenting bagi kami saat itu adalah anak-anak berdamai dengan perbedaan kami, akan memudahkan mereka menerima ajaran agama dari esensinya, tanpa ada unsur kebencian.

Namun saat mereka beranjak remaja, kami mulai merasa perlu menyampaikan cerita-cerita yang menggambarkan sisi indahnya agama. Apakah itu Islam, Kristiani, Hindu, Budha, Tao, Khong Hu Cu. Kami menyampaikan apa yang kami baca dan lihat lalu mendiskusikan pada anak-anak. Kami juga bersama-sama mempelajari meditasi, karena saat doa bersama, meditasi adalah momen keheningan yang universal bagi kami yang berbeda identitas agamanya, untuk bersama memusatkan diri pada Tuhan.

Kami juga mengenalkan tokoh-tokoh yang menyampaikan ajaran cinta kasih lintas iman seperti Gus Dur, Rumi, Osho (The Book of Secrets – Vigyan Bhairav Tantra), Guruji Gede Prama, dan ceramah atau khotbah seperti Romo Eko, Gus Baha, Gus Nizam (pencipta dan pelantun Syi’ir Tanpo Waton) dan banyak lainnya yang membuat kami semua untuk melihat agama tidak hanya dari ritual fisik namun makna dibaliknya.

Dari universalitas agama dalam identitas yang berbeda, kami menemukan konsep yang lebih kami sepakati berdua untuk menyatukan kami dengan anak-anak dan seluruh lingkungan dimana kami berada, yaitu Agama Cinta yang pertama kali kami kenal dari buku Agama Cinta ditulis oleh Ahmad Nurcholish. Disana kami mulai mengenal dan meyakini konsep ketuhanan dalam perspektif Cinta, keikhlasan dan penyerahan diri. Tidak lagi mengkotakkan yang benar dan salah, dosa pahala atau tujuan mendapat surga atau neraka.

Pada akhirnya semua ritual bagi kami adalah proses untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Kerendahan hati. Penundukan diri pada Sang Pencipta. Sedikit contoh saja seperti ritual ibadah gereja atau shalat bagi yang muslim, kami mengajak anak-anak melihatnya sebagai gerakan atau aktifitas penyembahan, ketekunan dan keteguhan dalam menyembah pada Tuhan. Dan karena itu tak penting terlihat ibadah di hadapan orang, tapi kekhusukan dalam ruang ibadah yang sedang dijalani untuk bisa berkomunikasi dan merasakan kehadiranNya.

Contoh lainnya tentang puasa. Kami tidak membiasakan buka puasa dengan hidangan khusus dan bermacam-macam, atau jajan tambahan untuk kami berbuka. Anak-anak kami tak hanya yang muslim yang berpuasa, si kecil yang Katolikpun ikut berpuasa menemani kakaknya dan saya. Kami sahur bersama dan siang hari yang tidak berpuasapun bebas untuk seperti hari-hari biasa makan dan minum di depan yang berpuasa. Karena yang kami ajarkan bukan yang tidak berpuasa untuk bertoleransi pada yang puasa.

Tapi mengenalkan dasar puasa adalah melatih menahan diri dari hawa nafsu apapun. Maka menu makanan buka, menahan lapar dan haus saat siang, bukan yang terpenting dari berpuasa. Bagaimana mereka berlatih dan harus terus berlatih untuk tidak memaksakan keinginannya terpenuhi apalagi sampai berlebihan. Efeknya kami bawa termasuk jika mereka bermain game, mereka tidak boleh memaksakan harus boleh kapan saja, tanpa batas waktu, apalagi sampai menghabiskan uang.

Puasa makan dan minum secara fisik melatih untuk makan seperlunya. Tapi efek dari seperlunya ini berdampak pada keseharian untuk melakukan apa saja cukup seperlunya jangan berlebihan. Seperti ajaran Kyai kami di pengajian, untuk selalu di tengah-tengah. Hal ini membuat kami dan anak-anak dalam merespon masalah atau sesuatu untuk tidak berlebihan. Senangpun tidak terlalu senang, sedih atau marah tidak terlalu diluapkan.

Juga bagaimana makna dzikir atau doa rosario bagi kami, bukan hanya terus menerus menyebut nama Tuhan di bibir tapi tentang terus mengingat Tuhan di hati pada setiap kegiatan dan masalah yang mereka hadapi. Saat susah atau senang. Walau begitu, kami juga menyampaikan pentingnya bersyukur dan tak banyak meminta dalam berdoa. Karena sesungguhnya semua hidup dalam rahmat Tuhan dan cepat atau lambat mereka harus belajar Menerima (nrimo) apa yang telah menjadi Ketetapan Tuhan, Percaya bahwa yang ditetapkanNya itu pasti membawa kebaikan dan yang terbaik bagi kita.

Tentu masih banyak yang tidak bisa kami sampaikan semua disini. Tapi pentingnya ajaran agama bagi kami tak hanya tentang menjalankan ritual-ritual melainkan bagaimana anak-anak bisa benar-benar mengenal Tuhan bukan hanya mengenal agama sebagai identitas. Menjalani ritual bukan untuk dianggap alim atau karena ketakutan. Apalagi karena Surga Neraka atau Pahala dan Dosa.

Namun memaknai setiap ajaran sebagai proses kesadaran penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan sebagaimana orang beriman yang seharusnya. Meniadakan tuhan-tuhan terlihat maupun yang tak terlihat dengan menghilangkan ketakutan-ketakutan selain pada Tuhan Allah seperti yang kami imani.

Belajar untuk memahami bahwa apapun yang kita terima adalah pemberian dari Tuhan, jika dipuji bukan karena hebatnya kita, jika jatuh bukan salah siapapun, melainkan semua diberiNya untuk kita bisa semakin menguatkan iman dan cinta kita padaNya. Dan belajar menemukan rasa syukur pada semua hal kecil sehari-hari agar tidak meratapi yang tidak dimiliki dan menjauhi rasa kecewa pada Tuhan, hingga muncul rasa percaya pada anak-anak untuk hidup bersandar pada Rahmat dan Berkat-NYA.

Memang semua ini sebuah proses panjang, yang tidak bisa hanya kami berdua ajarkan ke anak-anak namun harus semua dimulai dari kami sendiri. Dan proses itupun bagi kami berdua adalah proses belajar tanpa henti. Namun hikmah demi hikmah sudah kami terima sehingga kita semakin yakin dengan perjalanan iman melalui keluarga beda agama yang ditetapkan Tuhan untuk kami.

Yang juga tak kalah penting bagi kami adalah, mengenalkan nilai-nilai budi pekerti pada anak-anak. Bagaimana terhadap yang berbeda, yang lebih tua, yang berkebutuhan khusus, atau bagaimana melihat masalah-masalah hidup. Agar mereka benar-benar jadi wajah yang baik dari ajaran agamanya.

Pendidikan agama keluarga beda agama

Pada suatu pertemuan di ruang zoom Komunitas Keluarga Bhinneka dengan tema Pendidikan Agama Anak di Keluarga Beda Agama, 2 anak kami menyampaikan pendapatnya ketika partisipan yang hadir menanyakan bagaimana rasanya berada di keluarga beda agama. Salah satunya usia 21 tahun menjawab, adalah biasa untuk dia, dan terasa santai atau asyik-asyik saja baginya. Orang tua tidak secara khusus mengajarkan agama namun lebih banyak mencontohkan dari kesehariannya, santai dan tidak berlebihan dalam menghadapi masalah.

Banyak orang yang sering menggodanya untuk jadi mualaf, tapi dia tidak merasa terganggu. Karena di rumah, sudah terbiasa dengan hidup bersama keluarga yang muslim dan candaan agamapun sering terlontar hingga berbagai omongan negatif tentang agama dirasakan biasa saja bagi dia. Yang adiknya, usia 19 tahun, menceritakan proses kepindahan agamanya yang membuka matanya pada siapa teman sejati dalam hidupnya ketika dia sedang berganti identitas agamanya.

Tentang temannya, dan orang tuanya. Sama dengan kakaknya dia juga menyampaikan bahwa orangtua tidak terlalu fokus pada ajaran-ajaran secara kaku tapi pada contoh hidup dan keseharian perilaku orang tuanya. Dan keduanya sama-sama sepakat tidak pernah ada konflik tentang agama karena orang tuanyapun tidak pernah ada keributan tentang itu. Sehingga mereka mengikuti bagaimana keluarga bersama-sama bertumbuh dan berelasi.

Selain kami di pertemuan zoom ini juga beberapa pasangan yang telah memiliki anak juga berbagi pengalaman dan pilihan mereka dalam mendidik anak. Rata-rata sama bahwa dengan memutuskan berkeluarga beda agama dengan pasangan, mereka memutuskan untuk bersama-sama mengajarkan kedua agama mereka pada anak, dan membebaskan anak mereka untuk memilih agamanya sendiri kelak saat dewasa. Lebih spesifik beberapa dari mereka telah membuat kesepakatan bersama, ada anak yang ikut suami ada anak yang ikut istri. Ada juga yang berbesar hati seorang pemeluk Hindu, belajar mengaji agar bisa ikut mengajari anaknya di rumah.

Kami sangat apresiasi kebesaran hati pasangan-pasangan yang mau mengecilkan ego tentang identitas agama yang dipeluknya sebagai agama yang terbaik. Kebesaran hati ini pasti akan berdampak pada se-damai apa suasana keluarga yang dirasakan anak mereka. Pasangan yang toleran melahirkan anak yang toleran dan meleburkan keluarga yang toleran pada lingkungannya.

Keluarga Beda Agama bukan ancaman atau kesesatan. Tidak ada yang bisa memastikan jika anak kita jatuh cinta pada yang beda agamanya akan sesat, pemurtadan dan jadi perilaku menyimpang di masyarakat. Bagaimanapun pilihan menjadi Orang Baik tetap bisa menjadi penilaian utama. Dan jika kita benar orang yang beriman, tentu kita harus punya kesadaran bahwa semua terjadi atas Kuasa Tuhan semata.

Bagaimanapun, kami dan anak-anak jauh dari sempurna. Namun rasa percaya kami untuk menjalani warna-warninya hidup dengan cara yang tepat dalam beragama, membuat kami yang tidak sempurna ini bisa belajar menerima setiap kejadian sebagai bagian dari perjalanan iman kami pada Tuhan Penguasa Semesta.

 

Trully Lam, 2021

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed