by

Australia Berhenti Gunakan “Ekstremisme Islam” dan “Ekstremisme Sayap Kanan”

Kabar Damai I Rabu, 24 Maret 2021

 

Canberra | kabardamai.id | Organisasi Intelijen Keamanan Australia (The Australian Security Inteligence Organisation/ASIO), mulai Rabu (17/3), berhenti menggunakana istilah “ekstremisme sayap kanan” dan “ekstremisme Islam” saat berbicara tentang ancaman kekerasan.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jendral ASIO Mike Burgess laporan Threat Assessment tahun keduanya di Canberra pada tanggal tersebut.

Sebelumnya, mitra intelejen Australia: keempat negara (Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, Kanada) dalam Five Eyes (Australia, Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, Kanada), sudah lebih dahulu mengubah istilah yang digunakan terkait ancaman kekerasan saat ini.

Ia mengatakan bahwa organisasinya sadar bahwa nama dan label yang digunakan dalam menunjuk sesuatu itu penting. Karena itu, sebagai gantinya, ASIO akan menggunakan istilah yang lebih luas, yaitu “ekstremisme kekerasan yang dimotivasi secara ideologis (ideologically motivated extremism)” dan “ekstremisme kekerasan yang dimotivasi oleh agama (religiously motivated violent extremism).”

Menurut Burgess, kedua istilah pengganti itu lebih tepat dalam menggambarkan fenomena ancaman kekerasan dan keamanan.

“Kata-kata itu penting. Kata-kata bisa sangat kuat dalam cara mereka membingkai suatu masalah dan cara membuat orang berpikir tentang suatu masalah,” jelas Burgess.

ASIO tidak menyelidiki orang semata-mata karena pandangan politik dan agama mereka sehingga label seperti ‘kiri’ dan ‘kanan’ sering mengalihkan perhatian dari sifat ancaman yang sebenarnya. “Fokus ASIO adalah ancaman kekerasan,” tegasnya.

Istilah “ekstrimisme Islam” dinilai oleh kelompok-kelompok Muslim sebagai representasi Islam yang keliru dan merusak. Istilah tersebut juga menstigmatisasi Islam dengan stereotip yang cenderung memicu perpecahan.

Dia menambahkan bahasa yang digunakan ASIO “perlu berevolusi agar sesuai dengan konteks ancaman yang terus berkembang.”

Baca juga: Sri Lanka akan Larang Pemakaian Burka secara Permanen

Selama setahun terakhir, penyelidikan ASIO terkait ekstremisme ideologis meningkat dari 30 menjadi 40 persen. Wajah ancaman itu juga berkembang dan melebar.

Badan-badan keamanan melihat semakin banyak individu (pelaku) yang sama sekali tidak cocok dengan spektrum kiri-kanan. Mereka justru dimotivasi oleh masalah sosial atau ekonomi.

Usia rata-rata pelaku adalah 25 tahun. Selain itu, ironisnya, ada juga remaja berusia 15-16 tahun yang diradikalisasi.

Dia mengatakan penyelidikan ini telah terjadi di semua negara bagian dan teritori Australia, bahkan hingga ke pedesaan. Hal ini memberikan peringatan bahwa ancaman ekstremisme semakin berkembang dengan subur.

Selama pandemi korona, kelompok ekstremis dan mata-mata asing menggunakan internet untuk memperluas penyebaran ekstremismenya dan hal ini menimbulkan tantangan baru bagi badan keamanan.

Bagi mereka yang khususnya berniat melakukan kekerasan, lebih banyak waktu di rumah secara online berarti lebih banyak waktu dengan internet yang mengarahkan pada radikalisasi. Mereka dapat mengakses manifesto penuh kebencian dan instruksi penyerangan secara langsung tanpa halangan.

“Propaganda sayap kanan ekstrem menggunakan Covid19 untuk menggambarkan pemerintah sebagai penindas, dan globalisasi, multikulturalisme, dan demokrasi sebagai cacat dan gagal. Narasi ekstremis Islam menggambarkan pandemi sebagai pembalasan Ilahi terhadap Barat karena dianggap telah menganiaya umat Muslim,” tambah Burgess.

Mata-mata asing meningkatkan aktivitas online dan mengubah pendekatan mereka untuk merekrut target selama pandemi.

 

Penulis: Hana Hanifah

Sumber: Sbs.com I Smh.com.au I Kompas.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed