by

Asuh Anak Dengan Cinta, Pasti Bahagia: Refleksi Hari Anak Nasional dalam Masa Pandemi dan PPKM

-Opini-36 views

Oleh: Dr. Anil Dawan M.Th

Harapan untuk mewujudkan anak Indonesia yang sejahtera dan maju mengalami berbagai tantangan dan kendala. Kekerasan terhadap anak terjadi berulang kali dengan intensitas dan kualitas yang terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun Indonesia sudah meratifikasi KHA (Konvensi Hak Anak) dan merevisi Undang-undang Perlindungan Anak.

Menurut informasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa dari tahun 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan jumlah kasus yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus, artinya tiap tahun ada kenaikan signifikan jumlah kasus kekerasan terhadap anak.

Baca Juga: Refleksi HAN 2021: Kedepankan Kepentingan dan Perlindungan Anak

Dalam masa pandemi, upaya perlindungan anak makin menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dengan bekerja dari rumah dan anak-anak belajar dari rumah ternyata semakin banyak anak beresiko mengalami tekanan psikososial dan kekerasan. Jenis kekerasan yang paling serig terjadi adalah kekerasan verbal dan fisik.

Didaerah-daerah remote atau rural, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ternyata justru dijadikan kesempatan orang tua mengajak anak-anaknya bekerja di ladang.  Dari hasil survei WVI ditemukan bahwa 64% orang tua merasa sudah melakukan praktik pengasuhan positif tanpa kekerasan, 11% anak masih mengalami kekerasan fisik.

Dalam masa pandemi 34% anak merasa takut terrtular virus covid 19. Sedangkan 35% anak kwatir ketinggalan pelajaran. 15% anak tidak merasa aman dengan Covid 19 dan 10% anak kwatir tentang penghasilan orang tua dan kekurangan makanan.

 

Memahami Pengasuhan

Kerinduan setiap anak pastilah diasuh oleh orang tuanya ataupun orang dewasa disekelilingnya dengan cinta. Namun sebagaiamana kita ketahui tak banyak orang tua yang cakap mengasuh anak. Darimanakah referensi model pengasuhan? Jika dipetakan model pengasuhan ada 3 (tiga) yaitu model pengasuhan permisif yaitu orang tua, orang dewasa mengiyakan semuanya, tanpa disiplin dan tanpa aturan.

Semua diperbolehkan, sehingga anak tak bisa memahami etika, disiplin dan merasa dimiliki dan dikasihi oleh orang tuannya. Berikutnya adalah pengasuhan otoriter yaitu model pengasuhan yang melarang semuanya, tanpa diskusi dan pemahaman pengertian kenapa hal tersebut dilarang dsb.

Dan yang terakhir adalah model pengasuhan demokratis, yaitu model pengasuhan yang menjelaskan dan mendampingi anak dengan kesepakatan dan diskusi untuk membangun kebiasaan hidup dan tumbuh kembangnya. Model pengasuhan inilah yang ideal dan perlu dikembangkan oleh orang tua masa kini, apalagi di masa pandemic.

Dalam hukum kausalitas, anak yang dibesarkan dengan pengasuhan demokratis dan cinta orang tuanya, maka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kelak akan jadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Referensi pengasuhan kebanyakan diambil dari referensi pengasuhan orang tua kita masing-masing.

Menjadi persoalan jika seorang anak dibesarkan di masa lalunya dengan kekerasan dan perlakuan-perlakuan pengabaian dan eksploitasi maupun perlakuan salah. Saat tumbuh disadari atau tidak luka-luka batin masa lalu yang belum ataupun tidak diselesaikan, sangat potensial akan muncul berulang menjadi pengasuhan yang salah tatkala sudah menjadi orang tua. Dalam banyak kasus, orang yang tidak mampu menyelesaikan masa lalunya akhirnya akan bermutasi dari korban menjadi pelaku kekerasan.

Menumbuhkan Bahasa Cinta

Setiap keluarga diyakini memiliki kerinduan untuk mengapresiasi keluarga yang mewujudkan pembentukan spiritualitas anak dan mengusahakan kesejahteraan anak. Setiap anggota keluarga juga perlu dibekali keterampilan sehingga mampu memperluas pengertian dan membukakan realita dan konteks dalam keluarga.

Tujuan akirnya adalah bahwa setiap anggota keluarga mampu memahami hal-hal yang diperlukan untuk memahami kerangka pikir dan proses yang dibutuhkan untuk mendukung perjalanan sebagai sebuah keluarga yang utuh dan penuh cinta. Dan gol akhirnya adalah kemampuan untuk mengidentifikasi cara-cara praktis untuk mewujudkan mimpi sebuah keluarga.

Dan memperoleh pengetahuan dan memiliki ketrampilan tentang pengasuhan anak di dalam keluarga. Salah satu cara memutus mata rantai pengasuhan yang salah adalah menyelesaikan masa lalu termasuk orang-orang pernah melukai kita waktu diasuh pada masa kanak-kanak, selanjutnya mencoba mengampuni mereka dan mencoba menemukan benih kebaikan pada diri orang-orang yang pernah melukai.

Berikutnya perlu terus  mengembangkan keterampilan 5 (lima) bahasa cinta sebagai sarana untuk menabur benih kebaikan, melalui kata-kata yang mengafirmasi, pemberian hadiah, waktu yang berkualitas, pelayanan praktis dan sentuhan fisik. Setiap orang tua perlu memahami cinta masing-masing pasangannya supaya kekompakan dalam pengasuhan dapat dibangun antara suami dan isteri.

Kekompakan suami dan isteri dalam mengasuh anak akan menjadi role model yang baik untuk anak tentang peran orang tua dalam pengasuhan mereka. Terlebih di masa pandemi, rumah saat ini menjadi pusat pembelajaran anak, serta tempat dimana keluarga sehari-hari berkumpul dan berinteraksi. Itulah sebabnya keterampilan berkomunikasi antar anggota keluarga, khususnya komunikasi orang tua dan anak, akan menumbuh kembangkan pola pengasuhan yang penuh dengan cinta yang akan membuat anak akan tumbuh bahagia dan sejahtera.

Dr. Anil Dawan M.Th Dosen Prodi Manajemen UPJ dan Aktivitas Sosial Kemanusiaan WVI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed