by

Asep Sukmayadi: Keterbatasan Fisik Tidak Menjadi Batasan

Kabar Damai I Rabu, 1 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Prestasi besar bisa dicapai oleh semua orang termasuk bagi mereka yang memiliki keterbasan fisik dengan syarat punya tekad kuat, niat tulus, dan latihan secara terus-menerus. Untuk itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) memberikan wadah kepada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) untuk terus mengaktualisasikan talenta-talenta mereka dalam melejitkan prestasi.

“Keterbatasan fisik tidak menjadi batasan untuk mengukir prestasi. Dengan semangat pantang menyerah untuk terus maju, kita yakin bahwa kalian bisa berprestasi. Prestasi tidak akan datang begitu saja tetapi perlu perjuangan dan pengorbanan yang tiada henti-hentinya,” disampaikan Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Puspresnas Kemendikbudristek, Asep Sukmayadi dalam sambutannya pada acara Bincang Hangat dengan topik Prestasi Disabilitas untuk Indonesia Tangguh secara virtual, pada Sabtu (28/8/2021).

Asep mengatakan, Pusprenas akan terus mengembangkan prestasi talenta PDBK ke tingkat yang lebih tinggi. “Banyak kompetisi pada Pupresnas yang bisa diikuti oleh PDBK yang bertalenta. Misalnya saja, kompetisi bidang seni, bidang vokasi, dan bidang olah raga,” ujar Asep.

Pada tahun 2021, para pelajar yang memiliki talenta di bidang vokasi akan mengikuti lomba pada tingkat internasional, di antaranya Lomba Melukis Lingkungan Internasional pada KAO ke 12, Sayembara Cerita Bergambar pada ENNIKI 2021/2022, dan Lomba Kecantikan Cidesco Internasional Tahun 2021. “Semoga mereka dapat memberikan hasil yang maksimal dan dapat mengharumkan nama sekolah dan bangsa,” harapnya.

Baca Juga: Perempuan Inspiratif Ni Nengah Widiasih, Atlet Perempuan Powerlifting Disabilitas Indonesia

Di samping itu, pada tahun 2021, Kemendikbudristek juga telah memberikan beasiswa kepada enam orang PDBK yang memiliki talenta dan berprestasi. Mereka saat ini telah terdaftar di enam perguruan tinggi yakni Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Malang, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Jember, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, serta Universitas Brawijaya Malang. “Semoga beasiswa ini dapat menjadi motivasi dan menginspirasi talenta-talenta lain untuk berprestasi,” ungkap Asep Sukmayadi.

Salah satunya adalah Nova Aurora Bawono, seorang penulis novel dengan judul ‘Aku Anak Istimewa’, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya Malang. Beragam prestasi pun telah raihnya, yaitu menjadi peserta lomba olimpiade IPA tahun 2014 saat di SDLB Negeri Malang, Juara I Lomba Cipta dan Baca Puisi tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2017, Juara Harapan I Lomba Bercerita Kisah Kepahlawan tingkat nasional Ajang Kreasi dan Apresiasi (AKA-PDBK) tahun 2020, penampilan terbaik tunadaksa tingkat nasional, serta menjadi peserta 10 besar PSLD Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Asia tahun 2020.

“Untuk sobat-sobat prestasi semua, jangan menyerah, tetap semangat, dan selalu berlatih. Apa pun yang kamu hadapi harus tetap selalu belajar dan tetap semangat,” ajak Nova kepada para PDBK.

Sementara itu, kepada peserta PDBK yang memiliki talenta, Nova mengajak untuk aktif mengikuti kompetisi-kompetisi baik itu yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. “Bagaimanapun mengikuti perlombaan adalah sebuah tantangan untuk kita supaya berprestasi serta lomba itu menjadi wadah bagi kita untuk semakin berprestasi,” ungkapnya.

Nova pun bercerita mengenai awal mula ia menulis novel yang saat ini best seller. Awalnya, ia menulis cerita pendek untuk mengikuti lomba namun gagal. “Meskipun saya gagal dalam lomba, namun saya coba perbaiki tulisan saya dan akhirnya dikembangkan jadi novel,” ungkapnya.

Ia pun menceritakan ulasan karyanya dari novel yang berjudul ‘Aku Anak Istimewa’. “Ada dua orang tua yang ingin mempunyai anak. Tetapi ketika anaknya lahir dengan kondisi memiliki keterbatasan tunadaksa membuat orang tuanya tidak menerima dan akhirnya dititipkan anaknya tersebut kepada neneknya. Sampai akhirnya, anak tersebut dirawat oleh neneknya sejak kecil hingga sekolah di jenjang SMA,” tuturnya.

Sementara itu, seorang seniman sekaligus praktisi pendidikan, E. Sumadiningrat yang juga rutin sebagai juri AKA-PDBK menuturkan ada tiga hal yang menjadi perhatiannya kepada para peserta lomba, pertama yaitu potensi, bakat, dan talenta.

“Ketika saya menjadi juri cipta baca puisi, bagaimana puisi itu dibangun dari konstruksi kesehariannya. Ketika peserta AKA-PDBK membaca fenomena sosial yang terjadi dan mengangkat kearifan lokal. Potensi-potensi itu mereka gali dengan kemampuan bakat tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan bawaan peserta didik sejak lahir ini perlu dikembangkan dan terus dilatih tidak hanya pada ajang lomba.

“Talenta-talenta sebagai kemampuan terpendam yang ada dalam diri PBDK seharunya tergali secara optimal. Kuncinya adalah giat berlatih, jangan cuma mengharapkan ajang lomba yang kemudian baru berbuat sesuatu,” ujar pria yang pernah menjadi Aktor Terbaik Festival Teater Jakarta tahun 1986 dan 2000.

Hal lain yang menarik adalah semangat peserta AKA-PDBK. Menurutnya, semangat peserta AKA-PDBK muncul ketika mereka mengekspresikan penampilannya. “Ketika penampilannya dibarengi dengan semangat, auranya muncul. Aura inilah yang akan menghilangkan keterbatasan mereka,” ujarnya.

Kemudian, penampilan peserta AKA-PDBK yang penuh dengan penghayatan. “Ketika dia memiliki penghayatan yang kuat, auranya muncul, keterbatasan itu hilang. Yang muncul adalah penampilan mereka yang memberikan sensasi dengan pesan yang tersampaikan,” ungkapnya.

Kepada para peserta AKA-PDBK, Sumadiningrat berpesan agar potensi, bakat, dan talenta yang ada dalam diri peserta agar terus dilatih dan diaplikasikan kepada kehidupan sehari-hari.

“Teruslah berlatih, teruslah berkarya walaupun tidak ada lomba, karena disitulah sebetulnya cara untuk menggali bakat yang lebih efektif. Sehingga ketika memasuki ajang, lomba hanya sebagai tolak ukur saja dan jangan sampai lomba itu dijadikan patokan. Lomba yang sebenarnya adalah dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed