by

Asal Datangnya Ekstrimisme dan Radikalisme

Kabar Damai | Minggu, 01 Mei 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia melalui kanal Suara Setara menyebutkan bahwa gerakan-gerakan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme berbasis agama pasti memiliki tujuan politik. Ekstrimisme-radikalisme berbasis agama menggunakan narasi agama sebagai penghantar konduktor perjuangan politik tersebut.

Ia menjelaskan bahwa terorisme adalah kejahatan pemikiran yang terjadi bukan saja saat ini. Hal ini secara historic dalam tipologi Islam sudah terjadi sejak zaman Muhammad. Secara tipologi dapat berbeda namun semuanya berbasis pada kebencian.

Jika berbicara tentang sejarah Islam menjadi suatu hal yang sangat pahit dan ketir. Dari rujukan manapun tidak pernah ada pertentangan bahwa kelompok berbasis kekerasan ini yang sifatnya ideologis, jihadis maupun pemikiran ekstrimis memang sudah terbentuk.

Kekerasan ini juga terjadi dalam Islam, getirnya ialah ketika orang Islam berperang dengan Islam untuk memperebutkan kekuasaan politik. Darisana dapat disimpulkan bahwa ketika agama ataupun apapun ketika berkenalan dengan politik kekuasaan maka berkenalan dengan politik kekuasaan maka ia akan berkenalan pula dengan kejahatan-kejahatan.

Baca Juga: Toleransi Kunci Keberagaman Indonesia

“Islam mengenal pembunuhan dan pertentangan ketika Islam mengenal kepentingan-kepentingan dan kekuasaan politik,” ungkapnya.

Jika semua orang tahu bahwa ginealogi kekerasan dalam Islam ditriger oleh kepentingan politik, maka orang akan sadar bahwa gerakan radikal, ekstrim dan teror diseluruh dunia ini tujuan atau basisnya adalah politik.

Islam dan Sejarah Kelam

Dalam sejarah Islam terdapat sejarah yang tidak mengenakkan ketika Nabi Muhammad wafat, jenazahnya belum dimakamkan saat itu namun saat itu orang-orang Madinah sudah berperang khususnya terjadi antara Kaum Muhajirin dan Ansor dengan alasan pengganti nabi setelah beliau wafat. Ini sangat terlihat politis dan kemudian dijemputlah Abu Bakar guna mendamaikan dua kelompok yang bertarung tadi, dan ditetapkanlah Abu Bakar sebagai pengganti Muhammad.

Ini adalah sejarah dan konflik paling awal di Madinah pasca nabi wafat, lalu setelahnya Abu Bakar lengser karena meninggal akibat diracun, naiklah Umar menggantikan Abu Bakar dan juga dibunuh oleh non Islam. Selain itu, terjadi pula perang-perang besar lainnya setelahnya.

Dari sesi yang lebih dalam, Islah menegaskan bahwa apabila ada yang menyatakan bahwa ideologi khilafah adalah ideologi yang turun dari Nabi Muhammad dan dianggap paling baik, maka ia menentangnya secara keras. Ideologi politik apapun pasti buatan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Nabi Muhammad tidak pernah mewariskan ideologi politik, bahwa suksesi saja tak pernah ia wariskan kepada umatnya.

Perihal mengapa orang-orang yang mengimpikan kekuasaan menghubungkannya pada politik. Menurut Islah ini karena agama sangat menarik, agama memiliki konsep yang sangat menarik bagi kelompok ekstrim, teror dan radikal yaitu kemartiran dan keluguan akhir zaman.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed