by

Artificial Intelligence Penumpas Aksi Pedofil di Dunia Maya

Oleh: Meisha Fidela Humaira

Di zaman modern ini, teknologi terus berkembang dengan sangat pesat. Saking pesatnya, perkembangan ini dapat kita lihat dengan jelas apabila kita membandingkan teknologi pada dekade lalu dengan teknologi yang ada sekarang. Seperti contohnya telepon genggam kita yang dulunya memiliki papan tombol dan hanya bisa mengoperasikan aplikasi sederhana, sekarang sudah memiliki layar sentuh dan dapat mengoperasikan banyak aplikasi sekaligus.

Di dalam telepon genggam kita saat ini juga marak kita temui “asisten” yang mampu menolong serta memudahkan kita melakukan berbagai hal. Entah itu membuat pengingat, membalas pesan, atau bahkan menelpon seseorang untuk kita. Lantas siapakah “asisten” ini? Mengapa ia sangat cerdas hingga mampu menggantikan dan membantu manusia? Mari berkenalan dengan Artificial Intelligence atau yang lebih dikenal dengan sebutan AI.

Sesuai dengan namanya sendiri, AI merupakan kecerdasan buatan yang diciptakan khusus oleh manusia untuk robot, sistem komputer, ataupun perangkat lunak agar mampu berpikir cerdas dan berperilaku layaknya manusia. Istilah Artificial Intelligence dicetuskan pada tahun 1956. Di awal perkembangannya pada tahun 1950-an, AI diuji coba untuk memecahkan masalah dan berhitung.

Di tahun 1960-an, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai tertarik dengan penelitian teknologi ini dan mulai melatih komputer untuk bisa meniru pola pikir manusia di tingkat sederhana. Hingga pada akhirnya di tahun 1970-an, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) sukses menyelesaikan uji coba pelatihan komputer ini yang pada akhirnya membuat mereka mampu memproduksi asisten pribadi cerdas di tahun 2003, jauh sebelum Siri dan Alexa menjadi asisten cerdas ternama.

Meskipun dalam film-film, serial televisi, ataupun di novel sains fiksi AI digambarkan sebagai teknologi menyeramkan yang jauh lebih cerdas dari manusia dan mampu menguasai dunia, AI yang ada saat ini tidaklah seperti itu. Justru AI dapat membantu manusia dalam berbagai macam bidang. Baik itu dalam bidang kesehatan, industri, edukasi, bahkan dalam bidang kepolisian untuk melacak tindak kriminal. Tindak kriminal yang AI lacak pada umumnya adalah kejahatan yang dilakukan di dunia maya atau yang lebih kita kenal dengan istilah cyber crime.

Tindak cyber crime sangatlah beragam, namun yang akan kita bahas kali ini adalah kekerasan seksual di dunia maya terhadap anak-anak di bawah umur. Data statistik menunjukkan bahwa 1 dari 9 anak perempuan dan 1 dari 53 anak laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual dari orang dewasa. Tidak sedikit dari mereka mendapatkan kekerasan tersebut lewat dunia maya yang dilakukan oleh kaum pedofil.

Umumnya kaum pedofil ini akan mencari korbannya melalui aplikasi percakapan dan memulai percakapan dengan korban dengan ramah. Hal ini ditujukan untuk membuat sang korban tertarik dan percaya dengan si pelaku kekerasan. Kemudian saat pelaku sudah memperoleh kepercayaan dari korbannya, ia lantas akan memanipulasi dan menyuruh korban untuk melakukan hal-hal sesuai perintah pelaku. Pelaku tak akan enggan untuk meminta korban agar mengirim gambar ataupun rekaman berbau seksual kepada pelaku yang kemudian akan menyebarnya kepada publik. Pada kasus terburuk, hal ini dapat berujung pada si pelaku bertemu langsung dengan korbannya dan melancarkan aksi kekerasan secara langsung.

Baca Juga: Penggunaan TIK dengan Bijak Guna Mencegah Konflik SARA di Indonesia

Tanpa kita sadari hal-hal seperti ini sering sekali terjadi di dunia maya dan bahkan mungkin sedang terjadi sekarang saat Anda membaca ini. Tentunya dengan munculnya banyak kasus serupa, polisi tidak akan diam dan pasti akan berupaya untuk mencegah serta menangkap para pedofil yang berkeliaran. Namun terdapat kesulitan dalam menangkap para pedofil di dunia maya, yaitu mereka umumnya berada di deep web atau area di internet yang tidak dapat diakses oleh khalayak umum. Sehingga bukan hanya harus mengumpulkan bukti tindakan, penyidik juga harus mendapati atau bertemu dengan para pedofil di dunia maya secara langsung. Pastinya untuk menarik perhatian mereka, polisi tidak mungkin akan menggunakan anak-anak asli untuk berinteraksi dengan para pedofil. Selain itu dengan menggunakan manusia sungguhan, pencarian tidak mungkin efektif karena akan membutuhkan banyak anak untuk menangkap banyak pedofil secara sekaligus.

Maka dari itu demi tetap melangsungkan pencarian dan penangkapan serta mencegah keterlibatan anak-anak, kelompok penyidik di Belanda dari Terre des hommes memanfaatkan Artificial Intelligence untuk menangkap kaum pedofil di dunia maya. Mereka menciptakan gadis kecil virtual bernama “Sweetie” yang digunakan untuk menarik perhatian para pedofil, mendapatkan bukti, serta membantu mempermudah penangkapan pelaku.

Sweetie diciptakan dengan penampilan layaknya anak kecil sungguhan dilengkapi dengan suara, gaya bicara, dan gerak gerik seperti anak kecil. Meskipun Sweetie diciptakan oleh manusia, kemiripannya dengan manusia asli membuat seluruh pedofil yang ia jumpai percaya bahwa dirinya adalah sungguhan. Sejak peluncurannya di seluruh dunia, Sweetie telah berinteraksi dengan lebih dari 20.000 pedofil dan ribuan diantaranya telah teridentifikasi. Seluruh detail dari interaksi dan identitas pelaku yang berinteraksi dengan Sweetie telah diserahkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Meskipun saat ini telah berhenti beroperasi, Sweetie telah menuntaskan pekerjaannya dan telah menunjukkan ke para pedofil bahwa mereka juga bisa dengan mudah menjadi mangsanya.

Dari hal ini dapat kita simpulkan bahwa meski tidak terlihat langsung, tak dapat kita pungkiri bahwa banyak tindak kekerasan yang terjadi di dunia maya. Sebagai pengguna media sosial, kita harus bisa memahami bahwa apapun yang telah diunggah di dunia maya akan menjadi jejak digital kita yang sulit untuk dihilangkan.

Maka dari itu kita sebaiknya berpikir dengan matang sebelum mengunggah sesuatu dan berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang-orang terutama orang asing agar diri kita terhindar dari tindak kekerasan. Tidak hanya mencegah, kita juga harus sigap dan berani melapor apabila ada oknum yang melakukan tindak kekerasan ke diri kita ataupun orang lain. Yang terpenting, jangan ragu untuk memanfaatkan teknologi modern demi menumpas kekerasan di dunia maya.

 

Oleh: Meisha Fidela Humaira, Siswi SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed