by

Apresiasi Kepada Alquran

Kabar Damai I Sabtu, 20 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Setiap tiba hari Jumat, ada tradisi yang berkembang di tengah masyarakat kita, orang-orang membaca surah al-Kahfi atau surah Yasin bersama-sama. Saat pandemi, hampir setahun penuh tidak tampak orang berkumpul menjalankan tradisi ini karena harus menaati Protokol Kesehatan. Meskipun demikian mereka yang telah terbiasa membaca surah al-Kahfi bersama menyiasatinya dengan menggunakan teknologi.

Ada sebuah keluarga yang para anggotanya tinggal tersebar di berbagai kota menggunakan tradisi membaca surah al-Kahfi sebagai ajang bertemu. Mereka menggunaan sarana eknologi teleconference,sehingga suasana kebersamaan keluarga tetap terasa walau secara virtual. Masing-masing anggota keluarga membaca lima ayat secara bergantian, kemudian dianjutkan dengan penyampaian kultum secara bergilir.

Menurut Abduh Hisyam,Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen, beberapa tahun terakhir gairah belajar al-Qur`an sangat tinggi di masyarakat kita. Sekolah-sekolah dengan tambahan tahfizh al-Qur`an tumbuh di mana-mana. Menghafal al-Qur`an telah menjadi brand tersendiri. Kini hampir tidak ada anak sekolah yang tidak lancar membaca al-Quran. Sudah menjadi kelaziman bagi anak-anak usia sekolah untuk datang ke mushola atau madrasah TPQ setiap sore untuk belajar membaca al-Qur`an. Sebuah perkembanganyang sangat menggembirakan.

Dalam sebuah ceramahnya Prof. Nurcholish Madjid pernah menyampaikan bahwa di dalam mengapresiasi al-Qur`an, umat Muslim terbagi menjadi tiga, yaitu: apresiasi secara spiritual, apresiasi secara intelektual, dan apresiasi secara magis. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “apresiasi” diartikan sebagai “penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu”. Apresiasi kepada al-Qur`an berarti “perlakuan seseorang kepada al-Qur`an sebagai bentuk penghormatan kepadanya”.

“Pertama, apresiasi kepada al-Qur`an secara spiritual. Maksudnya adalah “merasakan kehadiran Tuhan”. Orang membaca al-Qur`an untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan. Maka banyak orang yang membaca al-Qur`an sambil meneteskan airmata. Mereka merasakan kesejukan dan ketenangan jiwa saat membaca al-Qur`an, sekalipun tidak memahami kandungan ayat-ayat yang dibaca,” papar Abduh dalam khutbah salat jumat virtual yang diselenggarakan Public Virtue, Jumat, 18 November 2021.

Baca Juga: Hidayat Nur Wahid: Pancasila Mengandung Terminologi Alquran, Sunah dan Bahasa Arab

Ada orang yang tiba-tiba ingin bersedekah setelah mendengar bacaan ayat-ayat al-Qur`an, sekalipun ayat-ayat yang ia dengar itu tidak ada hubungannya dengan perintah untuk bersedekah.

Kedua, apresiasi secara intelektual. Orang membaca al-Qur`an karena ingin mengetahui pesan-pesan Tuhan. Apresiasi jenis ini di masyarakat kita dikenal dengan istilah tadarrus al-Qur`an atau tadris al-Qur`an. Inilah arti tadarrusyang sesungguhnya.

Bukan hanya membaca namun mempelajari arti dan kandungan al-Qur`an. Tadarrus berasal dari kata “darasa”, yang artinya adalah belajar. Dari kata itu muncul kata ʻmadrasahʼ yang berarti sekolah.

Di antara cara orang dalam mengapresiasi al-Qur`an secara intelektual adalah membaca terjemahannya. Lebih dalam dari sekedar mengerti terjemahannya, seseorang mempelajari tafsir atas ayat-ayat al-Qur`an, mengaitkannya dengan disiplin ilmu tertentu semisal sejarah, bahasa, fisika, dan sebagainya. Ada yang mempelajari al-Qur`an sebagai sumber disiplin ilmu, ada pula yang ingin memahami al-Qur`an sebagai sebuah petunjuk hidup. Dari apresiasi intelektual ini lahir ilmu-ilmu terkait al-Qur`an semisal ilmu tajwid, ilmu faraidh, serta ilmu-ilmu terkait al-Qur`an (ulumul Qur`an).

Munculnya beraneka ragam karya di bidang tafsir dan seni baca al-Qur`an adalah salah satu bentuk apresiasi secara intelektual. Di Indonesia ada buku “Ayat-ayat Semesta” yang merupakan upaya memahami al-Qur`an dari perspektif fisika.

Abduh kemudia menambah kan lagi poin ketiga, apresiasi yang benar-benar terlarang, tetapi banyak dilakukan oleh umat Muslim, yaitu apresiasi kepada al-Qur`an secara magis.

“Menganggap al-Qur`an memiliki kekuatan magis. Dua dasawarsa lalu beberapa orang di kampung saya menggantungkan secarik kertas yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur`an di atas pintu rumahnya dengan tujuan agar tidak ada pencuri masuk ke rumah mereka,” tambah Abduh.

Banyak orang beranggapan ayat tertentu dari al-Qur`an dapat digunakan untuk mencegah masuknya pencuri ke dalam rumah, mengusir setan, untuk mencari jodoh, atau penglaris dagangan. Ada orang membaca surah tertentu dari al-Qur`an agar menjadi kaya. Pasangan suami istri yang sedang menunggu kelahiran anak memutar bacaan murattal surahYusuf di ponselnya agar anak yang kelak lahir berwajah tampan seperti Nabi Yusuf. Tentu saja ini adalah sebuah penyimpangan karena al-Qur`an tidak diturunkan untuk itu. Membaca atau mendengarkan bacaan al-Qur`an adalah baik dan bernilai ibadah, namun jika diniatkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat material maka itu tidak tepat.

Di masa pandemi Covid-19 ada berita hoax yang beredar di media sosial bahwa ada pasien yang terkena virus ini dapat sembuh karena selalu diperdengarkan bacaan al-Qur`an. al-Qur`an memang mengatakan bahwa dirinya adalah obat bagi orang yang beriman. Namun yang dimaksud dengan obat di sini adalah obat bagi rohani manusia agar ia terbuka terhadap kebenaran ajaran Tuhan. Bukan obat untuk penyakit-penyakit yang fisikal.

“Al-Qur`an diturunkan untuk menjadi petunjuk (hudan) bagi manusia agar manusia dapat membedakan (furqân) antara yang benar dan yang salah,” pungkasnya.

“Ramadhan adalah [bulan] yang di dalamnya diturunkan al-Qur`an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang benar dan yang batil],” [QS. al-Baqarah: 185].

 

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed