by

Apakah Menikah Muda Akan Selalu Berakhir dengan Perpisahan?

-Kabar Puan-27 views

Kabar Damai I Kamis, 05 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Nikah muda semakin trending saat ini terutama setelah ramainya romantiasasi kisah rumah tangga di media sosial. Padahal, menikah tidak hanya dan tidak semata berkisah tentang hal-hal yang manis semata. Ada beberapa persoalan yang mesti dihadapi.

Apabila dalam menikah tidak dibarengi dengan kedewasaan yang cukup  dewasa dan juga matang secara emosional, pernikahan tentu bukan menjadi ladang pahala  tapi malah sebaliknya. Walaupun demikian, menikah juga tidak semenyeramkan itu karena semua tergantung pada pasangan masing-masing.

Menjawab kekhawatiran tentang apakah menikah muda hanya akan berakhir pada perpisahan, Ustadzah Zahrotun Nafisah kemudian memberikan pemaparannya.

Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 batas usia minimal yang diizinkan bagi wanita dan laki-laki untuk bisa menikah adalah 19 tahun. Ketetapan ini merupakan hasil revisi pada tahun  2019 yang sebelumnya mengizinkan perempuan untuk menikah dengan minimal usia 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan tentang perbedaan pernikahan kini dan dahulu.  “Berbeda hal dengan sekarang, zaman dahulu kebanyakan pernikahan dini atau pernikahan dibawah umur karena pernikahan paksa. Biasanya karena keluarga pihak perempuan ingin melepas belenggu kesulitan ekonomi sehingga menikahkan putrinya. Tentu dalam kasus ini yang menjadi korban adalah perempuan,” ungkapnya.

Baca Juga: Media di Indonesia Dinilai Krisis Pemberitaan Ramah Gender

Seiring dengan antusias dan tren menikah muda, terlebih pandangan untuk tujuan zinah. Zahrotun kemudian memberikan pandangannya.

“Namun sekarang, justru nikah muda menjadi tren meskipun sebenarnya ada yang sudah melewati batasan usia minimal. Tapi kemudian kita tahu karena muda dan tua itu tidak hanya soal angka tapi soal kepribadian dan cara berfikir,”.

“Saat ini, beberapa tahun belakangan dan utamanya ketika kita masuk era distruksi saat semua dapat kita share dimedia sosial, tren menikah muda mencuat dengan visi menjauhi zinah. Ibadah tidak sebatas menikah, ada puasa sunah, sibuk belajar dan sibuk berkarya juga masuk dalam ibadah,” jelasnya.

Baginya, dalam menikah bukan hanya sebatas melihat faktor penting pada aspek usia. Namun juga kepribadian dari individu itu sendiri.

“Publik vigur atau pasangan influencer yang memutuskan bercerai memang pada mulanya menikah diusia muda, ada yang menikah diatas batas usia pernikahan dan ada sebenarnya dibawah umur tapi minta kompensasi,”.

“Sebenarnya masalah bukan soal nikah mudanya, ada orang yang usianya 20 tapi cara berfikirnya sudah matang baik dalam mengelola emosi dan banyak pengalaman. Saat memang sudah siap lahir dan batin untuk menikah silahkan, tapi begitupun sebaliknya. Secara angka kuantitatif, orang dikatakan dewasa tapi cara berfikir dan pengelolaan emosinya belum baik dan pengalaman juga minim,” jelasnya lagi.

Menurutnya pula, menikah bukan solusi dalam masalah kesepian karena cuma bisa melihat konten-konten di media sosial. Menikah juga bukan solusi dari masalah dari pusing mengerjakan skripsi, bukan solusi dari capek bekerja di ibu kota. Justru, menikah isinya masalah kalau belum siap memikul tanggung jawab sebagai pasangan maka lebih baik fikir matang dulu.

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam pernikahan, termasuk didalamnya tentang resiko yang akan terjadi. Misalnya dengan perpisahan.

“Resiko perpisahan dalam ikatan suami istri apalagi kalau sudah memiliki keturunan tentu bebannya lebih berat terutama bagi perempuan. Dalam UU Perkawinan memang tidak ditentukan siapa yang paling berhak menerima hak asuh dari perceraian yang terjadi,”.

“Dua orang tua tetap diwajibkan memberikan kasih sayang kepada anak dan bertanggung jawab. Sering kita lihat pasangan yang berpisah juga tetap punya jadwal dalam mengasuh anaknya,” tuturnya.

Terakhir, ia menegaskan kembali bahwa pernikahan memang tidak hanya berisi hal manis namun juga resiko. Walaupun demikian, menikah juga tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Menjadi diri sendiri dan tidak melihat orang lain sebagai sumber mutlak haruslah dilakukan.

“Kehidupan pernikahan itu tidak selalu yang seindah kita bayangkan, jadi jangan jadikan para influencer sebagai standar kehidupan. Ambil baiknya dan buang buruknya,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed