by

Apa Kabar Khonghucu Hari Ini?

Kabar Damai I Jumat, 20 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I  Diskriminasi terhadap Khonghucu pernah terjadi pada banyak daerah. Hal tersebut bahkan dialami Lany Guito, Ketua Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah MATAKIN Pusat pada masa mudanya. Dalam forum refleksi kemerdekaan yang diselenggarakan oleh ICRP, Lany bercerita tentang diskriminasi tersebut dan bagaimana kondisi Khonghucu saat ini. Selasa, (17/8/2021).

Sebelum Khonghucu mendapatkan tempat di Indonesia,  Lany bercerita tentang diskriminasi yang dialami oleh Khonghucu, dalam ceritanya tersebut bahkan ia mengalami kesulitan dalam mencatatkan pernikahannya secara sipil dan malah diinstruksikan untuk mengakui agama yang lain.

Hal tersebut turut membuat prihatin sosok Gus Dur saat itu.  Hal tersebut terus berlanjut hingga pada Kepres No. 6/2000 Presiden Gus Dur mencabut Inpres No.14/1967. Dilanjutkan dengan diperbolehkannya perayaan Cap Go Meh yang juga turut dihadiri oleh Gus Dur dalam Imlek Nasional di Jakarta dan Surabaya hingga terbitnya keputusan Mahkamah Agung No. 178 K/TUN/1997 yang menjadi titik awal umat Khonghucu boleh beribadah secara terbuka.

“Hal tersebut kemudian membawa kemajuan dalam hal pelayanan yang dibuktikan dengan perlakuan Kemanterian Agama RI yang memfasilitasi KUB yang hingga saat ini menjadi Pusat Bimbingan dan Pendidikan Konghucu,” ungkap Lany.

“Selain itu, secara administrasi juga umat Khonghucu kemudian dapat mengakses KTP, Kartu Keluarga, Akta Perkawinan, Ijazah Sekolah, Sumpah Jabatan Profesi, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Selain mendapatkan perhatian dan pelayanan, umat Khonghucu semakin mengalami kemajuan dan pengakuan lainnya lewat dibangunnya rumah ibadah. Serta diizinkannya menulis dan mendistribusikan buku-buku tentang Khonghucu.

Baca Juga: Tokoh Muda Sikh: Kebebasan Beragama di Indonesia Belum Sepenuhnya Terwujud

“Pelayanan tempat ibadah Konghucu juga telah tersedia dan difasilitasi negara, selain itu dalam hal penulisan buku juga turut difasilitasi dan menjadi acuan dalam hal pendidikan dan sebagainya,” tuturnya.

Dalam hal penyebaran informasi, umat Konghucu kini diberi ruang publik melalui radio dan juga tayangan televisi pemerintah.

“Konghucu juga diberi sarana di Radio Republik Indonesia dan juga TVRI di provinsi masing-masing,” tambahnya lagi.

Lany juga menuturkan, dalam segi organisasi Khonghucu juga diikutsertakan dalam FKUB dan diberi keleluasaan dalam pendampingan melalui Penyuluh Konghucu Non-PNS.

“Dengan pengakuan-pengakuan itu kamipun diikutsertakan dalam forum internasional. Saya mewakili perwakilan perempuan Konghucu pada tahun 2018 ke Australia Award sejak 2018 hingga saat ini,” ceritanya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan konsep damai dalam Konghucu. “Kita selalu ditekankan untuk membina diri kita. Rumah  tangga kita beres tidak hanya yang di rumah namun juga rumah tangga agama supaya negeri dapat teratur,” bebernya.

“Nabi bersabada ‘Kalau berlainan jalan suci jangan berdebat’. Saya sangat sedih melihat ujaran-ujaran kebencian di medsos yang sangat banyak sekali. Kita memang bukan saudara secara rasa tahu keturunan, tapi kami adalah saudara dalam kemanusiaan,” ungkapnya lagi.

Terakhir, sebagai pendidik, ia memanfaatkan pandemi untuk melakukan pendidikan dari rumah kepada anak-anak untuk menghormati agama-agama yang lain tanpa membandingkan dan harus selalu tumbuh. Menurutnya, toleransi harus dimulai dari rumah, tempat ibadah dan sekolah.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed