by

Apa Itu Pekan Harmoni Antaragama Sedunia?

Tiap tahun sejumlah Lembaga lintasagama menghelat Pekan Harmoni Antaragama Sedunia (World Interfaith Harmony Week) yang jatuh pada 1 – 7 Februari tiap tahunnya.  Di Indonesia momen tersebut selalu disambut baik dengan menggelar beragam diskusi, pentas seni, dialog antarumat beragama maupun pagelaran budaya yang mencerminkan keragaman dan perdamaian.

Apa sebetulnya Pekan Harmoni Antaragama Sedua itu? Bagaimana sejarahnya?

Dalam laman Wikipedia, Pekan Harmoni Antaragama Dunia disebut sebagai resolusi PBB untuk pekan kerukunan antaragama sedunia yang diusulkan pada 2010 oleh Raja Abdullah II dan Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Yordania. Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia jatuh pada minggu pertama bulan Februari setiap tahun. Tujuannya tak lain untuk mempromosikan keharmonisan antara semua orang terlepas dari keyakinan mereka.

Berawal pada 23 September 2010, Raja Abdullah II dari Yordania mengusulkan Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia pada Sidang Paripurna Sidang Umum PBB ke-65 di New York City. Dalam pidatonya Raja Abdullah berkata:

“Hal ini [juga] penting untuk melawan kekuatan perpecahan yang menyebarkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan terutama di antara orang-orang yang berbeda agama. Faktanya adalah, umat manusia di mana-mana terikat bersama, tidak hanya oleh kepentingan bersama, tetapi oleh perintah bersama untuk mencintai Tuhan dan sesama; untuk mencintai yang baik dan sesama. Minggu ini, delegasi saya, dengan dukungan teman-teman kita di setiap benua, akan memperkenalkan rancangan resolusi untuk Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia. Yang kami usulkan adalah minggu khusus, di mana orang-orang di dunia, di tempat ibadah mereka sendiri, dapat mengekspresikan ajaran agama mereka sendiri tentang toleransi, menghormati orang lain dan perdamaian. Saya harap resolusi ini mendapat dukungan Anda”

Pada tanggal 20 Oktober 2010, Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Yordania , Penasihat Khusus dan Utusan Pribadi Raja Abdullah II dan penulis resolusi, mempresentasikan proposal untuk Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia di hadapan Sidang Umum PBB di New York di mana hal itu diadopsi secara penuh.

Dasar Pekan Harmoni Antaragama Sedunia adalah Prakarsa Kata Bersama yang ditulis oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan dirilis pada tahun 2007. Prakarsa Kata Bersama dan Pekan Harmoni Antar Agama Sedunia berasal dari gagasan bahwa umat manusia terikat bersama oleh keduanya. Berbagi ajaran ‘Cinta Tuhan dan Cinta Sesama’ atau ‘Cinta yang Baik dan Cinta Sesama’.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Pangeran Ghazi dari Yordania menyatakan bahwa tujuan Pekan Harmoni Antaragama akan tercapai dengan:

“Secara permanen dan teratur mendorong mayoritas pengkhotbah untuk menyatakan diri mereka sendiri untuk perdamaian dan harmoni dan menyediakan sarana siap pakai bagi mereka untuk melakukannya …”

Draf resolusi A/65/L5 berjudul Pekan Harmoni Antaragama Dunia yang diajukan oleh Yordania disponsori oleh 29 sponsor bersama – Albania, Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Kosta Rika, Republik Dominika, Mesir, El Salvador, Georgia, Guatemala, Guyana, Honduras, Kazakhstan, Kuwait, Liberia, Libya, Mauritius, Maroko, Oman, Paraguay, Qatar, Federasi Rusia, Arab Saudi, Tanzania, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Uruguay dan Yaman.

 

Indonesia Juara ke-2 pada tahun 2018

Pada tahun 2018 lalu Indonesia menempati juara ke-2 pada Pekan Harmoni Antaragama Sedunia (World Interfaith Harmony Week/WIHW). Adapun WIHW 2018 merupakan ajang perlombaan dunia yang diselenggarakan di Yordania atas inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Duta Besar RI untuk Kerajaan Yordania dan Negara Palestina saat itu, sebagaimana dilansir kumparan.com (25/4/2018), Andy Rachmianto, menyampaikan bahwa peran Indonesia dalam membina kerukunan antar umat beragama di Indonesia sudah menjadi sorotan dunia. Penghargaan menjadi juara ke-2 merupakan bentuk apresiasi dunia atas capaian Indonesia.

Dilansir laman World Interfaith Harmony Week, disebutkan bahwa juri WIHW menerima 88 aplikasi dari 1.232 program kerukunan antarumat beragama yang diselenggarakan oleh berbagai negara.

Dari 88 aplikasi yang diterima, juri kemudian memutuskan untuk menetapkan tiga pemenang. Juara pertama ditempati oleh Australia melalui kegiatan berjudul “Who and Where Are We in a Changing World?”.yang diselenggarakan oleh Interfaith Center of Melbourne.

Sementara juara kedua ditempati Indonesia melalui kegiatan berjudul “Commitment of Religious Leader on National Unity” yang diselenggarakan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP).

sedangkan juara ketiga diraih oleh Inggris melalui kegiatan berjudul “Friendship, Dialogue, Cooperation: Exploring Crucial Elements of Interfaith Harmony” yang diselenggarakan oleh Interfaith Glasgow. [AN/berbagai sumber]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed