by

Anak Muda Tionghoa dalam Isu Kebhinekaan

Kabar Damai I Kamis, 15 April 2021

 Jakarta I Kabardamai.id I Toleransi dan kebhinekaan menjadi hal penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini karena luasnya wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang dihuni oleh berbagai suku, ras, agama dan kekompok kecil lainnya sehingga rasa saling menghormati harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, kasus intoleransi marak terjadi sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi dan kebhinekaan. Namun, yang patut disayangkan ialah hal ini lebih banyak dilakukan oleh golongan tua sehingga keterlibatan anak muda masih dapat dikatakan minim.

Pemuda sebagai tonggak negara sudah sepantasnya dekat dengan isu-isu kebhinekaan. Selain dapat menyesuaikan dengan kemajuan zaman, pemuda juga punya pemikiran yang lebih terbuka sehingga tidak terkungkung pada pandangan lama yang kurang fleksibel.

Dua pemuda melalui organisais kebhinekaannya yaitu Dharmapala Nusatara dan Roemah Bhinneka menceritakan bagaimana upaya yang mereka lakukan dalam menyikapi kasus intoleransi saat ini. Hal ini lebih menarik karena keduanya ialah anak muda dari etnis Tionghoa.

 

Jessylin Metta, Aktivis Dharmapala Nusantara

Diawal perbincangan bersama Katolikana, Jessylin Metta, seorang aktivis dari Dharmapala Nusantara menjelaskan latar belakang dari organisasi yang diikutinya tersebut.

“Kita ini organisasi Buddhis tapi berlandaskan nusantara, jadi visi utama kita untuk membuat masyarakat Indonesia terlihat setara atau sejajar, walaupun berasal dari berbagai latar belakang,” ujarnya.

Berkaitan dengan masih banyaknya pandangan keliru tentang etnis Tionghoa, Jeje biasa ia disapa, mengungkapkan agar masyarakat luas lebih memahami konteks etnis.

“Sehubungan dengan masih banyaknya pandangan keliru tentang etnis Tionghoa, masih banyak misskonsepsi mengenai ras Tionghoa di Indonesia. Ini berkaitan dengan anggapan ketika dikatakan keturunan China itu dari China langsung. Padahal hanya keturunan saja. Mungkin itu yang harus dilihat bahwa orang China yang dikatakan itu (Tionghoa-red) juga orang Indonesia juga,” tuturnya.

 

Baca Juga : Cara Unik Memupuk Toleransi Siswa: Pengalaman dari Teen Religion Camp Sekolah Global Mandiri Jakarta

Sebagai organisasi kemanusiaan, Jeje mengungkapkan bahwa Dharmapala memiliki empat fokus kerja yang senantiasa dilakukan. Hal ini dilakukan guna mencapai keadilan dalam konteks yang luas yaitu negara.

“Kalau diorganisasi Dharmapala Nusantara memang fokus pada empat hal, yaitu advokasi  dan mediasi, media masa, keumatan dan sumber daya manusia. Jika berbicara dalam konteks negara, untuk menjadikan negara yang adil seadil-adilnya itu perlu partisipasi dari komunitas itu sendiri. Misalnya dalam agama Budha berarti harus berperan aktif juga membuat Indonesia yang adil kedepannya. Kalau kita hanya menunggu kesempatan untuk bersuara ya kesempatan itu susah datang. Lebih baik kita buat kesempatan itu sendiri,” jelasnya.

Dharmapala Nusantara sejauh ini juga kerap melakukan aksi agar permasalahan bernada kesukuan dan etnis maupun agama tidak berkembang.

“Beberapa kali kita buat advokasi tentang permasalahan-permasalahan hukum, misalnya yang terjadi di Sumatera tentang seorang ibu yang keberatan dengan suara TOA masjid yang keras. Hal seperti ini yang di kritisi Dharmapala Nusantara, bagaimana sikap komunitas Budhies menanggapi hal tersebut dan bagaimana kita bisa meng-up berita ini ke masyarakat luas agar tidak dipelintir menjadi masalah yang berdampak pada isu ras, agama dan sebagainya,” jelasnya.

Guna lebih dekat dengan masyarakat sekaligus mengkampanyekan isu-isu baiknya, Dharmapala Nusantara juga kini turut merambah media sosial, hal ini juga tidak terlepas dari anggotanya yang mayoritas ialah anak-anak muda.

“Di media sosial, kita di Dharmapala baru saja buat Youtue channel. Karena isinya anak-anak muda jadi idenya masih liar banget. Membahas tentang Budhiesme, politik, bahkan tentang kesetaraan. Jadi ini cara untuk lebih show up kepada masyarakat Budhies dan masyarakat umum,” paparnya.

Sehubungan dengan tantangan bagaimana mengajak anak muda agar terlibat dalam isu-isu kebhinekaan, Jeje menjawabnya dengan cara meningkatkan kepercayaan dalam diri individunya.

“Mengajak yang muda berpartisipasi menjaga kebhiekaan itu dimulai dari meningkatkan kepercayaan diri mereka terlebih dahulu. Ini karena kebanyakan anak muda zaman sekarang mikir buat apa ngurus Indonesia, pemikiran seperti ini yang harus diubah. Kita harus mulai menanamkan ke teman-teman, ke anak atau saudara, jika ingin negara itu berubah  ya kamu harus menjadi bagian dari perubahan itu.

Jangan hanya bisanya komentar, seperti saat ini banyak yang seperti itu mencecar pemerintah tapi tidak memberi solusi. Jadilah orang yang bisa mengkritisi keadaan, tapi juga bisa memberi solusi,” pungkasnya.

 

Michael Andrew, Aktivis Roemah Bhinneka

Peranan anak muda Tionghoa dalam isu kebhinekaan turut diungkapkan oleh Michael Andrew seorang aktivis Roemah Bhinneka. Michael menuturkan, Roemah Bhinneka ialah komunitas ngopi yang ada di Jawa Timur.

“Roemah Bhineka ini adalah sebuah komunitas ngopi karena ngopi ini budaya orang Jawa Timur, kemudian orang Surabaya suka ngopi. Kebetulan markas kami ada di Sidoarjo sehingga teman-teman yang ada di Gresik, Kriyan itu yang memiliki egaliterianisme atau kesetaraan. Nah, kesetaran itu bagaimana diakomodir, tidak lain dan tidak bukan dari budaya ngopi,” ungkapnya.

Dari ngopi itulah, kata Michael,  lima tahunan yang lalu, Roemah Bhineka itu berdiri. Tidak lain dan tidak bukan untuk menanggapi isu-isu politik identitas, isu keberagaman yang kemudian Roemah Bhineka itu hadir  dan berkontribusi pada masyarakat

Ia juga menambahkan bahwa dalam prosesnya, Roemah Bhinneka berawal dari jumlah yang kecil namun konsisten.

“Memang masih ada yang perlu disayangkan, keterlibatan anak-anak muda  itu juga masih sangat minim. Baik di Surabaya dan Jawa Timur kalau tidak di stimulus tertentu mereka mungkin tidak akan bergerak. Tetapi saya juga bersyukur, jika kita melihat jumlah kecil itu saja kita tidak akan bergerak, tetapi dari jumlah yang kecil itu kita bergerak bersama. Sembari bergerak, kita berkarya mengajak yang lain,” paparnya.

Berhubungan dengan isu kebhinekaan yang masih kurang menarik minat anak muda, Michael menyatakan bahwa peranan tokoh masih sangat dominan.

“Kami menyoroti, ketika ada atau membawa pada isu kebhinekaan ini mungkin terkadang ketokohan dari pemuka agama masih sanga diperlukan. Jika ketokohan ini tidak mengajak anak-anak mudanya itu kadang-kadang yang masih menjadi kesulitan. Apa kata Romo, apa kata Pendeta dan lain sebagainya masih berlaku. Maka perlu anak-anak muda untuk diajak. Lalu jika ada kegiatan lintas agama, sayapun awalnya mungkin tidak ada minat, tapi berkat ajakan dan kemudian saya menemukan ketertarikan tersebut,” tandasnya.

Bagi Michael, anak muda tidak boleh hanya sekedar diajak untuk terjun dalam isu kebhinekaan. Lebih dari itu, perlu adanya bimbingan agar gerak dan jalannya sesuai seperti apa yang diharapkan bersama.

“Maka itulah tantangan-tantangannya dan ini perlu diakui bahwa keterlibatan pemuda itu masih jalan sempit, sehingga generasi milenial harus diajak. Karena jika mereka mencari tahu sendiri tidak ada yang membimbing, bisa jadi google menjadi sumber kebenaran satu-satunya. Perlu adanya pengarahan dari pemuka agama,” tandasnya.

Sehubungan dengan terjadinya bom di Surabaya yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, Michael menjelaskan bahwa dukungan dan penguatan sangat berpengaruh. Terlebih karena dilakukan oleh semua golongan masyarakat.

“Jika kita flashback hampir tiga tahun yang lalu sungguh memang 13 Mei menjadi peristiwa yang memilukan dan menyedihkan. Itu makanya kami bisa merasakan bagaimana teman-teman kita di Makassar juga merasakan. Kalau di Surabaya mungkin kita ingat daya ledaknya lebih besar dan ada minimal tiga tempat ibadah dan satu kepolisian yang di bom waktu itu dan apa yang kamu lakukan, sebenarnya anak-anak  muda punya keprihatinan yang sama,” terang Michael.

“Ketika ada peristiwa seperti ada suara-suara penyemangat yang menggugah Kota Surabaya tidak mudah dipermainkan. Saya bersyukur saat itu, ada teman-teman muda darimana saja berkumpul untuk melakukan penguatan dan memberikan simpati. Disitu ada teman-teman kita yang Jawa, Batak  dan apapun ada semua termasuk teman-teman dari Papua dan NTT juga datang untuk menguatkan kami,” pungkasnya. [ ]

 

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed