by

Amnesty International, PGI dan IDI Minta Kematian Nakes Papua Diusut

Kabar Damai | Senin, 20 September 2021

Jakarta | kabardamai.id | Amnesty International Indonesia meminta pemerintah segera mengusut kasus kematian tenaga kesehatan (nakes) di Kiwirok, Papua.

Deputi Direktur Amnesty International Indonesia Wirya Adiwena mengecam keras segala bentuk kekerasan di Papua. Salah satunya yang terjadi pada nakes di Papua yang diduga jatuh ke jurang karena berusaha menyelamatkan diri dari serangan kelompok bersenjata.

“Kami juga sangat menyesalkan dan mengecam keras terjadinya insiden yang membuat perawat Gabriella Meilani terpaksa lari dan menyelamatkan diri,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu, 19 September 2021.

Ditegaskan Wirya, segala bentuk penyerangan, penyiksaan, dan perbuatan yang merendahkan martabat manusia, apalagi sampai mengarah kepada pembunuhan di luar hukum sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Pasalnya, Wirya menyampaikan, hak untuk hidup adalah hak fundamental bagi seluruh masyarakat. Karenanya, ia mendesak agar negara dapat segera turun tangan mengusut tuntas peristiwa mengenaskan yang telah merenggut nyawa nakes tersebut.

“Semua pelaku pelanggaran HAM, baik aparat keamanan, kelompok bersenjata, maupun warga biasa yang terbukti melanggar HAM harus diadili secara terbuka, efektif, dan independen di pengadilan sipil,” tandasnya.

Di sisi lain, Wirya juga meminta Presiden Joko Widodo untuk menghentikan pendekatan militer di Papua karena telah banyak memakan korban jiwa.

Menurutnya, kasus kematian perawat Gabriela Meilani di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang oleh serangan Kelompok Kriminal Bersenjata seharusnya dapat menjadi pengingat bahwa konflik di Papua tak bisa diselesaikan dengan pendekatan militer.

Baca Juga: PGI: Bersikap Adil dan Bijaksana Terhadap Penghinaan Agama

Selain itu, untuk mencegah siklus kekerasan yang terus berulang di Papua, Wirya menilai negara harus segera mengakhiri impunitas yang selama ini terjadi di tanah cendrawasih tersebut.

“Tragedi ini seharusnya menjadi pengingat bagi Presiden Jokowi untuk mengevaluasi pendekatan keamanan yang selama ini dipraktekkan dalam menyelesaikan konflik di Papua,” pungkasnya.

 

Kecaman dari PGI

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia mengecam keras peristiwa kekerasan di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata pada tanggal 13 September 2021, dengan membakar puskesmas dan menyandera serta menyiksa beberapa perempuan petugas kesehatan di Puskesmas Kiwirok.

Penyiksaan dengan tindakan asusila terhadap tenaga kesehatan bahkan mengakibatkan 1 orang nakes  meninggal dunia adalah tindakan yang merusak karya ciptaan Allah.

“Kami sangat prihatin, sedih dan turut berbelarasa bersama semua nakes yang menjadi korban penyiksaan dan berdukacita dengan semua keluarga korban. Perilaku kejam ini sungguh mencederai rasa kemanusiaan serta melanggar ketentuan-ketentuan internasional maupun nasional terkait perlindungan tenaga kesehatan, hal mana tertuang dalam Konvesi Jenewa, Palang Merah Internasional, maupun ratifikasinya dalam tata perundangan Republik Indonesia,” tulis PGI dalam siaran persnya yang diunggah di laman pgi.or.id (18/9)

PGI tak henti-hentinya mendorong semua pihak menghentikan penggunaan kekerasan dan mengedepankan dialog yang berbudaya dan bermartabat dalam penyelesaian berbagai masalah sosial-politik di Papua.

“Menyikapi kasus penyiksaan dan pembunuhan nakes ini, PGI berharap pihak berwajib dapat segera mengungkapkan kasus ini dan menindak tegas para pelaku sesuai hukum yang berlaku,” tandas PGI.

 

Kesedihan Warga Roraja

Sejumlah korban teroris di Indonesia, di antaranya di Papua dan Poso tercatat adalah warga Toraja.

Karena itu, peristiwa terbunuhnya pimpinan teroris MIT di Poso, Ali Kalora membuat banyak warga Toraja bergembira.

Namun, warga Toraja juga bersedih atas meninggalnya seorang nakes asal Toraja di Papua, Gabriella Maelani, yang meninggal akibat serangan teroris KKB Papua.

Cerita tentang banyaknya warga Toraja perantau yang menjadi korban keganasan Teroris itu diungkap penulis dan mantan jurnalis Tempo  Tomi Lebang.

Berikut selengkapnya tulisan Tomi Lebang yang diposting melalui akun facebooknya, sebagaimana dikutip dari Makassar.terkini.id:

 

Tangisan Toraja

Ali Kalora tewas di Poso.

Pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur yang lama bersembunyi di hutan-hutan kawasan Poso ini tewas dalam kontak senjata dengan pasukan TNI dan Polri dari Satgas Madago Raya.

Bertahun-tahun lamanya tentara dan polisi mengejar mereka yang jumlahnya hanya belasan orang, bersenjata, tapi pandai menyaru dengan pohon, pakis, dan lumut hutan.

Kali ini, Ali Kalora tak bisa mengelak dari maut.

Adakah ia bertemu bidadari atau malah tengah digebuk dengan palu godam para malaikat?

Saya bergembira menyambut kabar kematian Ali Kalora. Bukan bergembira sebagai warga Indonesia semata-mata, tapi sebagai seorang Toraja perantau.

Ya, entah berapa orang Toraja yang sudah menjadi korban teroris ini.

Terakhir adalah empat perantau Toraja yang dibantai di kebun mereka di Lembah Napu, Poso, pada Selasa siang 11 Mei 2021.

Marthen Solo dan Simson Susah atau Ne’ Uban, disembelih dengan sadis.

Dua lainnya, Paulus Papa dan Kukas Lese’ dibacok.

Tim Satgas Madago Raya yang tiba di lokasi beberapa saat selepas peristiwa ini hanya menemukan jejak para teroris yang menghilang ke balik rimbun belantara.

Hari-hari ini, orang-orang Toraja juga tengah meratapi kepergian saudara-saudara mereka yang tewas di pegunungan Papua.

Baru beberapa hari lalu, teroris bersenjata Papua menyerbu satu permukiman sepi di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua.

Dengan senjata lengkap, yang mereka serang justru Puskesmas.

Mereka membunuh dan menghinakan suster muda 22 tahun, Gabriella Maelani. Kemarin, jenazah gadis asal Toraja ini diangkat dari jurang sedalam 300 meter oleh pasukan TNI dan Polri di bawah hujan tembakan teroris KKB Papua dari hutan di seberangnya.

Dua perawat lain, juga dari Toraja, dikabarkan selamat tapi terluka.

Kristina Sampe Tonapa dan Katrianti Tandila kini masih dirawat di RSUD Marthen Indey Jayapura.

Beberapa bulan lalu, April 2021, dua orang guru dari Toraja juga jadi korban penembakan teroris Papua di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak.

Oktovianus Rayo, guru SD Jambul dan Yonathan Randen, guru SMP Negeri 1 Beoga, tewas di tengah mimpi-mimpi mereka mencerdaskan anak-anak Papua.

Dan berbagai kejadian sebelumnya…

Dua medan panas di negeri ini, Poso dan Papua, hari-hari ini menyita perhatian media dan publik karena aksi-aksi terorisme.

Keduanya berjarak ribuan kilometer. Modus terorisnya serupa: bergerilya di hutan-hutan, keluar membunuh warga tak berdosa, korban-korbannya (di antaranya) orang Toraja.

Kesedihan tentu menyeruak dan dalam di kampung saya yang permai itu.

Kendati begitu, kejadian demi kejadian ini tentu tak membuat orang-orang Toraja enggan merantau lagi.

Lagipula, mereka umumnya perantau dengan predikat pengabdi: guru, perawat, dokter, atau pelaut.

Mereka pergi bermodalkan tekad dan semangat semata.

Ma’bulo sanglampa ma’ao’ tang kelesoan — seperti seruas bambu tanpa buku, mereka adalah orang-orang yang pergi dengan hati yang lurus.

Sebelumnya, dua orang nakes dikabarkan hilang dalam penyerangan KKB di Distrik Kiwirok. Keduanya kemudian ditemukan di jurang. Seorang nakes Gabriella Meilani ditemukan tewas. Adapun satu orang lainnya, Kristina Sampe, masih dalam keadaan hidup

Aparat telah mengevakuasi sedikitnya sembilan nakes di Distrik Kiwirok usai insiden penyerangan tersebut. Mereka akan mendapatkan perawatan lebih lanjut di ibu kota Jayapura.

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed