by

Alumni Peace Train Indonesia #12 Berbagi Kisah Belajar Menyemai Toleransi di Kota Paling Toleran (Bagian III)

-Peacetrain-52 views

Kabar Damai I Jumat, 21 Mei 2021

Jakarta I kabardamai.id I Ujaran kebencian dan intoleransi masih menjadi masalah di masyarakat Indonesia. Perselisihan yang terjadi akibat perbedaan suku, agama, ras atau pilihan politik kerap kita temui, baik secara langsung atau dari pemberitaan media.

Berbagai macam upaya dilakukan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah lewat kegiatan Peace Train. Misi Peace Train atau Kereta Perdamaian adalah untuk menyuarakan pesan-pesan toleransi bagi generasi muda Indonesia.

Caranya dengan melakukan perjalanan ke suatu daerah menggunakan kereta api, seraya belajar tentang keberagaman dan menyebarluaskan pesan-pesan toleransi di tengah masyarakat. Di daerah tujuan, rombongan akan mengunjungi berbagai rumah ibadah dan juga tempat yang erat kaitannya dengan kebhinekaan.

Dihelat untuk kali ke-12, pada tanggal 23-25 april 2021  beberapa peserta Peace Train Indonesia 12 (PTI-12) , lantas berbagi mengenai pengalaman mereka selama mengikuti Peace Train.

Richard Riroema dari Fakfak Papua Barat

Selamat pagi – bahasa Iha, Fakfak, papua barat

Perjalanan kali ini memang memberikan saya pengalaman baru dan yang paling membekas, adalah bagaimana mendapat perubahan pandangan yang sangat membuat diri saya bermegah dan bersyukur. “Agama & Keluarga” menjadi tema tersendiri saya saat menempuh perjalanan spiritual lewat peace train 12.

Ada perjumpaan dengan teman yang berbeda latar belakang agama, sudah menjadi kiprah saya dalam menghidupi semangat toleransi. dari semangat historis. semagat budaya “satu tungku tiga batu” yang saya bawa dari kota kelahiran tempat saya tumbuh menjadi seorang yang sangat bersyukur karenanya.

Lebih menarik lagi, bisa mengalami pengalaman perjumpaan dengan kakak, rekan2 dari PERWARIS, yaitu komunitas kaum waria dari semarang. saya menyadari, selama ini saya berjalan dalam sunyi. berjalan dengan pemahaman dan wawasan yang saya miliki rasanya masih belum lengkap, dan dengan kehadiran mereka, bisa berbagi cerita, pengalaman, memberikan saya refleksi kehidupan untuk lebih menerima segala perbedaan dan menghidupinya.

Saya juga bertemu dengan mama Ribi, seorang muslim dan beliau adalah seorang disabilitas. Sayansering menemani beliau dan teman2 kemanapun, apalagi kalau mengangkat kursi roda dan menggotong beliau kentempat yang tidak ada akses jalan kursi roda, dan sementara menggotong saya menyanyikan bunyi suara musik keraton , hahahaha . Semua tertawa namun dari situ ada ikatan yang kami buat dan dari musik itu sebagai lambang bukti kita semua dieratkan sebagai keluarga.

Baca Juga: Alumni Peace Train Indonesia #12 Berbagi Kisah Belajar Menyemai Toleransi di Kota Paling Toleran (Bagian I)

Kedekatan, kebersamaan, berbagi cerita, sampai duduk makan sama-sama, adalah hal kecil yang memiliki kekuatan menumbuhkan nuansa hidup kekeluargaan sntara saya dan mereka.

Bahkan yang lebih menarik lagi, ketika mengunjungi masjid tertua di kota salatiga, pura Adya Dharma, saya tidak lagi menanyakan bagaimana tata ibadah dari tiap-tiap agama, akan tetapi malah meminta wejangan spiritual dari pemuka agama, untuk menguatkan iman dalam berkehidupan plural di masyarakat.

ini yang menjadi motivasi spiritualitas agama kekelurgaan yang saya imani. dimana semua agama adalah bagian dari keluarga. ketika “satu tungku tiga batu” merupakan filosofi dalam 1 keluarga ada 3 anak yang menganut agama berbeda, ini malahan meliputi saya dan memunculkan persepsi yang bagi saya bahwa agama2 di indonesia, semua itu agama keluarga.

Dari spiritualitas ini, menghadirkan kesadaran untuk mengenal dan yang terpenting bagaimana menerima dan mengakui sebagai suati bagian dalam struktur kekeluargaan. Jadi, ketika mengunjungi pura, vihara, masjid, chapel, saya pasti meminta wejangan hikmat dari sana. sebagai penguatan atas spiritualitas kekeluargaan, toleransi, dan kekeluargaan.

Tulisan ini saya buat dengan harapan ada anak muda diluar sana bisa terinspirasi dan menjadi acuan dalam menghidupi semangat toleransi. Keluarga itu bukan hanya soal darah atau genetik siapa yang kita bawa atau punya. tetapi keluarga itu juga bisa berarti siapa yang kita kasihi dan siapa yang mengasihi kita. siapa yang kita akui dan siapa yang mengakui kita. dan bahagia itu nyata kalau kita berbagi. bukankah ini konsep keluarga?

Itulah sebabnya, tidak peduli kamu dari agama kepercayaan apa? karena agama itu keluarga, tidak peduli kamu dari orientasi seksual yang mana, selama kita bisa berbagi cerita, kritik dan saran yang membangun. serta memberi motivasi, kita keluarga. Nusantara, indonesia, papua, agama dan kepercayaan. landasan historis keluarga. Ini cerita spiritualitas saya dalam menghidupi,  dan berbagi cerita yang hidup ini.

 

Marsya Lovers Transpuan dari Semaranng

Sebelumnya perkenalkan saya Marsya dari Semarang

Dsini saya mau share pengalaman saya selama beberapa hari ini ikut kegiatan peace train 2021ato yg ke 12 di kota sala tiga. Pertama kali tau apa itu peace train ,saya lansung tertarik buat daftar dan ikut. Nah setalah aku terpilih dan ikut kegiatan selama 3 hari dari tanggal 23 – 25 April 2021.

Saya sangat takjub dan salut dengan kerukunan antra umat beragama. Apa lagi hari pertama kita ke suatu desa, tepatnya desa thekelan. Saya sangat terpesona dengan kerukunan antra umat disana,  bahkan di desa tersebut ada tiga rumah ibadah yaitu  masjid, gereja dan wihara. Orang-orang pada saling bergotong royong membangun tempat ibadah tersebut.

Dan hari ke selanjutnya kita mendatangi bbrp rmh ibadah, seperti masjid, gereja, vihara dan pura. Kalau buat yang satu ini, saya tidak terlalu kaget karna prosfesi aku yg sebagai makeup artis atau mua yang sering kerja ke tempat ibadah tersebut.

Dan yang membuat saya sangat senang,saya bertemu banyak kawan dr berbagai daerah, ada Papua,NTT, Pontianak,Madura,Jakarta da lai-lan. Pastinya kita berbeda-beda agama dan adat istiadat Tapi dalam 3 hari tersebut kita langsung bisa menyatu.. berbaur.. becanda.. bermain bersama.. sungguh indah perbedaan itu.

Saya sangat bersyukur dan seneng bukan main bisa ikut peace train yg ke 12 ini,  dan buat teman-teman se-nusantara lainnya, smoga bisa merasakan pengalaman luar biasa . Terimakasih demikian pengalaman saya selama mengikuti pelatihan peace train ini,  Sekian dan terima kasih.

 

Yessy Ariesta, Transpuan dari Semarang

Selamat siang….Saat awal saya direkomndasikan mengikuti pelatihan PTI oleh PERWARIS awalnya saya tdk mengetahui ap itu PTI,tp stlh berproses selama 3hari ini akhirnya saya tahu apa itu arti PEACE TRAIN INDONESIA, dimana keberagaman beragama itu sangat indah kalo kita bs saling menghargai sesama agama laen,hal yg paleng mengesankan bg aq pribadi adalah waktu kunjungan ke desa TEKHELAN dmn di satu desa terdapat 5keyakinan yg berbeda-beda.

Bahkan semua nya saling menghargai satu sama lain.Pelatihan ini yg saya dapatkan adalah bs lbh mengenal beragam agama dan keyakinan dr berbagai wilayah di Indonesia,yg memiliki karakter masing2.

Ternyata bertoleransi itu sangat indah karena bs menyamakan dr perbedaan yg ada sehingga kita bs saling menghargai,Hal yg plg mengesankan selama kunjungan ke berbagai tmpt ibadah ada 1yg plg mengesankan yaitu di pura adyia darma, dimana ada 1 pertanyaan yg ditanyakan dr peserta ttg ap pandangan romo ttg seorg waria, dan jawaban nya sangat mulia sekali.

 

Zulkifli Patipi, dari Fakfak Papua Barat

Saya Zulkifli Patipi Asal fakfak papua barat Organisasi: Ikmafak ikatan mahasiwa fakfak papua barat. PTI12 Salatiga adalah salah satu kegiatan yang toleransi antar kota. Kegiatan ini salah satu kegiatan yang membuat saya terinofasi kenapa saya menagatakan seperti Karna Dari kegiatan ini saya belajar apa itu arti perbedan.apa itu arti kebersaman dalam perbedan.

Dan saya Dapat beriteraksi lansung dengn teman-teman berbagai Daerah mulai dari papua dan jawa.saya begitu senang bisa kenal mereka apalagi. Saat berbuka puasa bersama syaur bersama.pokonya begitu indah masa-masa saat kegiatan berjalan .

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed