by

Alumni Peace Train Indonesia #12 Berbagi Kisah Belajar Menyemai Toleransi di Kota Paling Toleran (Bagian I)

-Peacetrain-122 views

Kabar Damai I Rabu, 19 Mei 2021

Jakarta I kabardamai.id I Ujaran kebencian dan intoleransi masih menjadi masalah di masyarakat Indonesia. Perselisihan yang terjadi akibat perbedaan suku, agama, ras atau pilihan politik kerap kita temui, baik secara langsung atau dari pemberitaan media.

Berbagai macam upaya dilakukan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah lewat kegiatan Peace Train. Misi Peace Train atau Kereta Perdamaian adalah untuk menyuarakan pesan-pesan toleransi bagi generasi muda Indonesia.

Caranya dengan melakukan perjalanan ke suatu daerah menggunakan kereta api, seraya belajar tentang keberagaman dan menyebarluaskan pesan-pesan toleransi di tengah masyarakat. Di daerah tujuan, rombongan akan mengunjungi berbagai rumah ibadah dan juga tempat yang erat kaitannya dengan kebhinekaan.

Dihelat untuk kali ke-12, pada tanggal 23-25 april 2021  beberapa peserta Peace Train Indonesia 12 (PTI-12) , lantas berbagi mengenai pengalaman mereka selama mengikuti Peace Train.

Vikram Velja Belajar Toleransi untuk Padang

Saya berasal dari kota padang dimana kota itu banyak hal yang menarik yang harus dipelajari, kota padang itu terletak di sumatera barat kota terbesar di pantai barat sumatera dan sekaligus pintu gerbang barat dari Indonesia dari samudra hindia, Padang lebih dikenal dengan kuliner khasnya rendang dan nasinya.

Perkenalkan saya vikram velja surya saya seorang rakyat biasa yang ingin sebuah keadilan di negri ini, alkisah saya mengikuti perjalanan volunter yang memberikan ilmu toleransi dalam hal apapun dan khususnya agama baik saya menceritakan perjalanan saya selama mengikuti peace train ini.

Baca Juga: Peserta PTI-12, Belajar Menyemai Kemanusiaan di Kampoeng Percik

Mungkin ini kisah yang sangat berpengalaman ya dan pastinya gk saya lupakan sampe seumur hidup saya pada tanggal 20 april 2021 sebelum melakukan kegiatan pada tanggal 23-25 april 2021 sebelum berangkat ke jakarta saya kepikiran terus menerus ini tanggung jawab yang besar bagaimana tidak disini selepas melakukan kegiatan akan mengaplikasikan, mendistribusikan ini kedaerah saya ini.

Kegiatan bukan main main menurut saya, saya yakin gerakan ini akan terus bergulir dan indonesia bisa menjadi bhineka tunggal ika yang semestinya tidak ada yang terdekriminasi antar suku ras dan budaya terutama daerah timur dan indonesia terkhususnya.

Setelah menjadi bahan renungan saya dan yang saya tunggu hampir datang tanggal 21 april 2021 hari rabu saya melakukan penerbangan ke jakarta pada pukul 19.25 wib dan saya sampai dijakarta pukul 21.16 wib saya bermalam di kantor salah satu lembaga haripun berganti dan hari yang saya tunggu terjadi pukul 15.00 wib saya sampai ke stastiun pasar senen pertama saya melakukan salam kenal kepada teman teman yang sebelumnya belum saya kenal yaiyalah namanya juga salam kenal hahah emg agak sedikit garing.

Saya diam diam mengamati teman teman baru saya dan saya mengetahui daerah teman teman ada yang dari Depok,Cilacap,Solo,Semarang,Madura,Surabaya,Kalimantan,Flores dan bahkan sampe dari Papua ketika itu beberapa daerah itu melakukan pertemuan diruang PT KAI dan sekaligus melepas peace train 12 yang bertemakan belajar merawat kebhinekan dan perdamaian di kota toleran

Setelah melewati perjalanan sekitar 7 jam dari jakarta ke semarang kami disambut oleh team dari percik, mereka sangat ramah sebelum ke percik kami berswafoto dulu di tulisan semarang pancol sesi foto pun berakhir saatnya kami ke percik setiba dipercik sekira pukul 02.20 wib kami istirahat sejenak tapi saya langsung gk sahur sekalian mau niat baik membangunin orang lagi sahur hari kedua pun berlanjut pertama kami disantapan di kantin dengan sahur bersama semua ikut sahur walaupun yang tidak menjalankan itu serasa rata semua setara mereka sangat menghargai kami yang muslim.

Keesokkan harinya kami pergi kerumah ibadah dan sebuah desa di kab semarang, namanya desa thekelan desa itu terletak di bawah kaki gunung merbabu gk kebayang kan dinginnya penduduk disana mayoritas berkebun dan berternak dan desa itu adalah desa tertoleransi diindonesia bagaimana tidak 4 kepercayaan dalam satu rumh itu satu keluarga , banyak yang dapat saya ambil dari desa ini untuk kampung halaman saya, mereka menanamkan jiwa gotong royong mereka hebat dalam mengelola apapun.

Sungguh ketika hari terakhir pertama dalam hidup saya merasa sedih, hanya kenapa padahal 3 hari bertemu seakan akan berpuluh puluhan tahun kenal, saya sangat tidak pernah melupakan itu kita harus berpisah bukan karna apa apa tapi kita berpisah untuk berproses demi indonesia yang maju.

Saya berharap indonesia bisa jadi negara tertoleran didunia aamiin, begitu kisah saya yang sebenarnya masih panjang kalau didetailkan, salam dari saya kepala suku kalian dari Padang Sumatera Barat.

Putri Ari dari Solo Belajar Menyemai Kebersamaan

Sendiri mewakili Kota Solo dalam kegiatan Peace Train Indonesia 12 (PTI12). Motor matic hitam menemani menuju Kampung Percik (Persemaian Cinta Kemanusiaan) Salatiga. Disambut dengan suara khas di pegunungan dan udara yang sejuk.  Sendiri dan yang pertama datang dari peserta lain. Sembari menunggu peserta yang lain menikmati damai nya tinggal di pegunungan.

Peace Train 12 yang diikuti 20 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Papua, Surabaya, Madura, Semarang, Cilacap, Solo, Jakarta, Bandung, Padang, Kalbar, Salatiga, NTT. Berbagai keyakinan Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu.

Keberagaman yang ada dalam satu tujuan membuat pertemuan ini membaur dengan cepat. Saling bercerita pengalaman, maupun keyakinan yang dianut. Selain itu berkunjung ke beberapa tempat ibadah dari vihara, masjid, gereja, Pura. Belajar bagaimana keyakinan itu, keunikan, tradisi yang diajarkan.

Kunjungan dimulai menuju desa Tekelan kab . Semarang. Keunikan desa ini dengan toleransi yang cukup baik dalam kebebedaan agama. Dimana dalam satu atap rumah ada 2 bahkan 3 agama berbeda yang dianutnya.

Di Tekelan kami berkunjung dari Vihara, Gereja dan Masjid. Saling bertanya tentang keyakinan yang dikunjungi.  Kunjungan berlanjut ke Masjid Damar Jati masjid tertua di Salatiga. Dilanjutkan menuju Rumah Dinas Walikota Salatiga. Bincang bareng dan buka bersama dengan walikota.Malam minggu sunyi sejuk di pegunungan disambut kami dengan malam inagurasi yang sangat seru, _gayeng_(bahasa Jawa).

Hari kedua di lanjut menuju Pura satu satunya di Salatiga. Mengikuti tata cara ibadah dan dilanjut bincang bareng. Dan yang paling mengena adalah bersamaan kami yang sangat sangat seru dalam setiap waktu di Peace Train Indonesia 12 .

Melati dari Papua, PTI12 Mengasihi Satu Sama Lain

Halo , Perkenalkan nama saya melati saya mengikuti peace train ini karena diajak oleh abang Richard yang Dimana semua adalah kebetulan baru bertemu juga dan langsung diajak untuk mengikuti kegiatan ini. Dan setelah kita disuruh kumpul untuk berangkat ke Semarang poncol kita semua berkumpul distasiun pasar Senen Jakarta.

Dimana saya juga  baru bertemu orang-orang yang baru semua disana dan disitu saya hanya mengenal Chiko karena sebelumnya itu saya pernah bermain bersama sama di asrama dia dan disitu saya bertemu ada yang dari Padang,Depok,dan Jakarta juga dengan latar belakang yang berbeda mulai dari suku,agama,dan dialeg yang berbeda.

Disitu kami belum Tau satu sama lain mulai perlahan lahan kami mulai berkenalan dan cuss kita menaiki kereta yang sudah disiapkan dengan acara pelepasan Dimana dari pengurusan dan angkatan kaka”senior sebelumnya yang mengikuti kegiatan ini.kami masuk didalam kereta dan mulai mencari No seat kami masing masing dan saya berseblahan dengan Chiko pastinya karena saya mengenal dia,

Saya berkenalan dengan Vikram anak Padang dengan logat lucunya seperti ditarik Tarik alunan gaya bahasa dia kami mulai bertambah personel bercerita abang Richard dan juga koko Alvin kami mulai bercerita mulai dari latar belakang yg berbeda beda disitu mulai ramai dan seruh semakin larut kami menunggu dan tertidur lagi lalu sampailah dengan mata terbuka “sudah sampai” ,”iya , mo lanjut lagi” hehe lalu kami semua bersiap siap untuk turun

Kemudian datanglah teman teman kami Perwaris dari Semarang semakin heboh dan memanas saya exited untuk berkenalan satu sama lain lalu trip kami dimulai yang saya rasakan di setiap momennya itu adalah kebersamaan dan mengasihi satu sama lain dengan pengalaman berkenalan di semua teman teman dengan berbagai bagai macam ras dan suku agama dan dihari ini hari terakhir ini saya sangat senang dan pastinya ada sedihnya juga karena kami akan berpisah Dan Ini tidak bisa dijelaskan karena sesuatu sekali.

Alvin Septian Pemuda Konghucu, Siap Terapkan Toleransi Ala Peace Train

Pada awalnya kami semua berasal dari tempat daerah yang berbeda beda, ada yang dari Jakarta, Bandung, Depok, Padang, Madura, Kalimantan barat,  Surabaya, Semarang, Papua, NTT dipertemukan di kota salatiga tempatnya di kampung percik. Disini kami berbeda dari suku, bahasa, agama, adat istiadat tetapi dapat saling mengerti satu sama lain dan saling menghargai antar sesama.

Ketika saya pertama kali sampai di kampung percik, saya merasa terkejut dengan suasana lingkungan yang sejuk dan pelestarian alam yang sangat baik serta tempat tidur berupa tenda seperti orang-orang camping di gunung. Hal tersebut membuat kami semua dapat saling mengenal dan akrab satu sama lain yang menjadikan seperti sebuah keluarga baru dalam pertemuan singkat ini.

Walaupun kegiatan  peace train ini dilakukan pada bulan puasa tetapi sikap saling bertoleransinya sangatlah luar biasa dimana Agama yang Islam menghargai orang yang bukan islam dan sebaliknya. Ketika sahur maka orang yang bukan islam membantu teman- yang Islam untuk bangun sahur dan ketika yang bukan islam sedang makan siang, umat Islampun tidak tersinggung dan bisa saling menghargai.

Banyak juga kegiatan peace train yang mengunjungi rumah ibadah seperti rumah ibadah Islam (mesjid), kristen (gereja), Budha (vihara), Hindu (Pura). Pada kegiatan tersebut kami bisa saling mengerti dan paham tentang perbedaan-perbedaan  yang seharusnya bukan untuk didebatkan melaikan di mengerti dan di pahami karena setiap agama itu adalah baik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed