by

Alquran dalam Visi Djohan Effendi

Review Buku: Djohan Effendi, Pesan-pesan Alqran: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci (2012), dan Djohan Effendi, Pesan Samawi: Terjemah Puitik Quran Suci (Manuskrip).

 

Oleh Budhy Munawar Rachman

Dalam pandangan Islam secara umum, dapat dikatakan bahwa kajian terhadap tafsir merupakan salah satu kajian yang paling mulia dan baik. Hal ini dapat dipahami dari perintah Allah SWT untuk merenungkan dan memikirkan kandungan makna-makna Alquran sebagai petunjuk keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Seiring dengan berkembangnya zaman yang bergejolak maupun semakin era kekinian, maka dalam melakukan penafsiran terhadap Alquran pun selalu mengalami pergeseran maupun perkembangan yang cukup signifikan dalam memahami isi dan ajaran yang terkandung di dalamnya, sehingga pemikiran terhadap suatu penafsiran pun selalu berkembang dari masa ke masa. Tidak hanya terjadi di kalangan umat Islam, melainkan juga di kalangan umat beragama lainnya.

Pada kehidupan era kekinian ini muncul berbagai upaya dalam memahami Alquran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang memahami Alquranitu secara tekstual sebagaimana dipahami dari awal terbentuknya alquran. Namun ada juga yang memahami Alquran itu dengan menyesuaikan pemahamannya pada konteks perubahan zaman yang mana bisa dilihat dari konteks sosial budaya, ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, mulai dari sejak turunnya Alquran hingga sekarang.

Sebagai teks, Alquran adalah satu. Namun, pemahaman kaum Muslimin berbeda-beda. Bahkan, tidak jarang berlawanan satu sama lain. Karena itu, jika Alquran mengatakan “begini atau begitu”, harus kita sadari yang mengatakan bukanlah Alquran sendiri. Itu adalah simpulan kita dari hasil pemahaman yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman diri masing-masing yang sangat terbatas. Terbatas dalam pemahaman karena pengetahuan kita tak pernah penuh, lengkap, dan mencakup segalanya sehingga mampu menangkap pesan Alquran secara utuh dan menyeluruh. Serta, terbatas pula kemampuan kita untuk mengungkapkannya karena kekurangan bahasa sebagai wadah penuangan apa yang ada dalam pikiran kita.

 

Alquran Bukan Sebuah Dikumen Ilmiah

Djohan Effendi melalui buku “Pesan Pesan Alquran Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci” ini, menegaskan, bahwa Alquran bukanlah sebuah dokumen ilmiah. Kisah tentang nabi-nabi bukan pula deskripsi historis, apalagi sebuah manifesto ideologis. Alquran adalah kitab petunjuk untuk berbuat, berkarya, bekerja, dan berjasa.

Alquran adalah sumber hidayah bagi siapa yang percaya untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia bertakwa yang mampu mengendalikan dan memelihara diri dari perbuatan noda dan dosa, bebas dari rasa takut dan dukacita, sehingga mampu menunaikan fungsi kekhalifahan di muka bumi, dan akhirnya berharap dipanggil pulang ke hadirat Tuhan dengan sapaan mesra dari Ilahi, “Wahai jiwa yang tenang tentram, kembalilah pulang kepada Tuhan Pemeliharamu dalam keadaan senang-menyenang”.

Namun demikian, Djohan menambahkan bahwa walaupun Alquran, menurut keyakinan kita bersifat qath’i (tidak diragukan kebenarannya), tapi pemahaman dan penafsiran pembacanya bersifat zhanni (jauh dari sempurna dan pasti mengandung kemungkinan salah dan keliru), yakni sangat relatif sifatnya. Maka tidak sepantasnya apabila pembaca menganggap pemahamannya pasti benar, dan pemahaman orang lain pasti salah. Djohan melanjutkan dengan memberikan contoh perbedaan pemahaman sehingga melahirkan tafsir yang berbeda.

Buku Djohan Effendi ini berisi tentang kandungan Alquran serta penafsiran Alquran dari perspektif penulisnya sendiri. Buku ini bisa dikatakan sebagai buku “tafsir mini” di mana penjelasan tentang ayat atau surat adalah hasil dari pemahaman penulis berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.

Djohan mengatakan, “Dari perspektif seorang muslim, kegiatan ini merupakan usaha menangkap pesan-pesan Alquran sebagai bagian proses pencarian yang tidak pernah sampai ke titik ujung, purna, dan selesai. Hubungan seseorang dengan Alquran, saya rasa, bagaikan hubungan subjek dan objek yang bergerak dan tak pernah berhenti. Bagian dari pergumulan seorang thalib dan salik, pencari dan pejalan, yang berharap pencarian dan perjalanan hidupnya ditutup oleh hembusan napas terakhir dengan ucapan: La Ilaha Illallah.”

Buku yang berisi 544 halaman ini secara umum, terbagi ke dalam tiga bagi besar, pertama adalah tafsir itu sendiri, kedua, kumpulan tulisan tentang tema-tema Alquran dan ketiga, tentang terjemah puitis juz ‘amma. Namun, buku ini tidak menuliskan ayat-ayat al-Qur’an—kecuali sejumlah kaligrafi sebagai penghias saja—seperti di halaman 42, 63, 73, 371, 394, 406, 426, dan 428, sehingga pembaca yang ingin mengetahui ayat-ayat yang ditafsirkan harus membuka al-Qur’an.

Djohan juga membuat masa penurunan wahyu ke dalam tiga fase berdasarkan tekanan perbedaan tema: Mekah Permulaan, Mekah Kemudian dan Periode Madinah. Tidak hanya membagi menjadi tiga bagian saja, Djohan juga memberikan ciri-ciri tema yang dibahas dalam tiga periode tersebut. Di sini Djohan sedari awal sudah sadar akan historitas al-Qur’an. Dan hal ini masih langka dilakukan oleh mufasir-mufasir Indonesia.

 

Dususun Berdasarkan Tartib Mushafi

Penafsiran Alquran dimulai dengan menafsirkan Basmalah, al-Fatihah hingga Surah an-Nas. Ada 114 surah. Jadi, lengkap 30 juz ditafsirkan oleh Djohan. Buku tafsir ini disusun berdasarkan tartib mushafi atau urutan mushaf (murattab). Setiap akhir penafsiran atas Basmalah dan setiap surah diberi penutup puisi. Sebagai contoh adalah puisi yang diangkatnya dari tema Adam sebagai prototipe manusia berikut ini:

ADAM

Menyimak kisah Adam

kita resapi makna kekhalifahan insan di bumi

nilai iman dan pengetahuan

menentang bisikan setan

 

melawan godaan kesenangan badani

mengejar kehidupan surgawi

tiada takut tiada duka

dalam lindungan Dia

 

Menyimak kisah Adam

kita resapi nilai manusia sebagai manusia

hadir bukan sekadar fenomena

bukan sekadar makhluk membudaya

 

membangun peradaban berbasis benda

manusia makhluk jasmani ruhani

tak cukup hanya dengan nasi

hadir dan kemudian hilang entah ke mana

 

Menyimak kisah Adam

kita resapi arti kejatuhan dan kebangkitan

kelemahan dan kekuatan, dosa dan pengampunan

hidup adalah harapan, perjuangan dan pengabdian

 

Menyimak kisah Adam

kita resapi makna eksistensi manusia

kehadirannya mengatasi dimensi ruang dan waktu

yang terbatas dan sementara

 

ia ada untuk mengada, bekerja dan berkarya

membangun dunia baru

 

Setiap surah diberi judul sesuai dengan nama surah tersebut, tanpa memberikan artinya. Dan setiap Surah yang ditafsirkan diberi keterangan apakah surah tersebut termasuk Makiyyah atau Madaniyah dan diberi keterangan jumlah ruku’ dan jumlah ayatnya. Misalnya, Surah al-Baqarah (Madaniyyah, 20 ruku’, 286 ayat). Di setiap surah yang ditafsirkan juga diberi pengantar satu paragraf hal-hal pokok terkait dengan tema utama (judul surah).

 

Memetakan Isi Alquran Jadi 3

Hal yang perlu diapresiasi dari buku ini adalah penulis dengan balutan bahasa yang mudah dipahami menyampaikan makna dan pesan dalam setiap surat dari Alquran yang dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam kajian penafsiran. Hal lain yang mengagumkan adalah penulis memetakan isi Alquran dari awal sampai akhir menjadi 3 yaitu pembuka, isi, penutup. Bagian isi terbagi menjadi 11, masing-masing berisi surat yang setema, dengan pemetaan Alquran secara garis besar, sangat memudahkan bagi pembaca untuk memahami pesan dalam al-Qur’an. Lalu dipetakan lagi masing-masing tema besar menjadi pembahasan per-surat, dan setiap surat dibuat menjadi beberapa bab dari segi munasabah ayat dan bukan dijelaskan per-ayat.

Pada tiap surah, Djohan memberikan judul-judul tematik yang berkaitan atau ada hubungannya dengan ayat-ayat yang ada dalam surah tersebut. Judul tematik tersebut dirasa tidak memberikan korelasi antar judul apabila dibaca sepintas dalam daftar isi bukunya saja. Namun, Djohan dalam menjelaskan isi tematis pada satu surah, misalkan saja surah Al Baqarah, ia menjelaskan juga hubungan antar judul-judulnya, walaupun cuma sedikit.

Judul-judulnya berbeda satu dengan yang lainnya berdasarkan pada urutan ayat dalam surah tersebut. Hal ini juga dijelaskan oleh Djohan, yakni ia sepakat bahwa urutan ayat-ayat dalam Alquran bersifat tawqifî, namun urutan surah-surah dalam Alquran bersifat ijtihadi. Sehingga Djohan memisahkan judul-judul tematiknya berdasarkan surah-surah.

Baca Juga : “Islam Alternatif”  dan “Islam Aktual”: Memberikan Pemikiran Alternatif yang Sangat Aktual

Buku ini dapat dijadikan sebagai batu loncatan bagi para “pencari hidayah” melalui al-Qur’an. Buku ini menyadarkan para pembaca bahwa Alquran secara hakekat adalah kitab hidayah dan harus dikembalikan pada fungsi asalnya yaitu memberi petunjuk bagi siapa saja yang membaca dan mencerna isi dari Alquran ini.

Djohan dalam melakukan sebuah penafsiran bersumber kepada bi al-ra’yi (rasional), dengan cenderung mengikuti corak sosial kemasyarakatan dan sesekali mengikuti corak tashawuf dan filsafat. Sebagai contoh untuk menjelaskan coraknya, pada surah Al Baqarah, ia membuat judul tema penafsirannya dengan judul “Kecaman terhadap Eksklusivisme”, ada pula “Membangun Umat Berkualitas”. Adapun penafsirannya yang bercorak tasawuf, seperti judul salah satu tema di surah Fathir, “Shalat: Sarana Peningkatan Ruhani”, dan corak filsafat, seperti salah satu tema di surah Al Hajj, “Ibadah Haji: Simbol Persatuan dan Persamaan”.

Metode tafsir Djohan Effendi dapat terlihat dalam caranya untuk menyampaikan pemahamannya terhadap Alquran. Sebagai contoh adalah tema-tema dalam surah Al Baqarah. Surah yang memiliki 286 ayat ini, Djohan bagi ke dalam sembilan tema, yakni 1) Alquran: Kitab Hidayah, 2) Muttaqin, Kafir, dan Munafik, 3) Adam: Prototipe Manusia, 4) Bani Israel: Sebuah Iktibar, 5) Kecaman terhadap Eksklusivisme, 6) Jangan Tiru Bani Israel, 7) Ka’bah: Kiblat Baru Umat Islam, 8. Membangun Umat Berkualitas, dan 9) Iman dan Doa.

Tema yang pertama, yaitu Alquran sebagai Kitab Hidayah adalah pemahaman Djohan terhadap pesan pertama pada ayat ke-2 surah Al Baqarah yang menegaskan bahwa Alquran adalah kitab yang tidak mengandung keraguan sedikitpun. Di dalamnya terkandung petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencapai derajat muttaqin, yakni orang-orang yang mampu memelihara diri dari perilaku yang menyebabkan noda dan dosa, mematuhi perintah dan larangan Tuhan.

Tema kedua, yaitu Muttaqin, Kafir, dan Munafik, adalah pemahaman Djohan terhadap ayat selanjutnya sampai ayat ke-11, akan definisi dari orang yang disebut sebagai muttaqin, kafir, dan munafik. Tema ketiga, yakni menceritakan Adam as sebagai manusia pertama di bumi. Bumi dengan segala kekayaan di dalamnya diciptaan dan disediakan Tuhan untuk kepentingan dan keperluan umat manusia. Penegasan ini dinyatakan dalam kisah penciptaan makhluk yang menjadi khalifah Tuhan di muka bumi, yaitu nabi Adam as. Ini adalah pemahaman Djohan terhadap ayat ke-29 sampai pada ayat ke-39.

Tema keempat, yakni Bani Israel sebagai Sebuah Iktibar, adalah pesan yang ditangkap Djohan dengan mengawalinya dengan pernyataan bahwa belajar dari sejarah adalah pesan yang berulang kali disampaikan dalam Alquran. Pada tema ini, Tuhan mengajarkan kepada bani Israel dengan menganjurkan agar mengingat nikmat dari Tuhan, memenuhi janji, beriman kepada Tuhan, tidak menjual iman dengan harga murah, tidak mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, beribadah kepada Tuhan, dan berbuat baik kepada sesama terutama kepada mereka yang membutuhkan dan menderita, dan seterusnya. Ayat yang menjadi inti pembahasan pada tema ini adalah ayat ke-40 sampai dengan ayat ke-48.

 

Kecaman Terhadap Eksklusifisme

Tema kelima adalah kecaman terhadap eksklusivisme, yakni sikap eksklusif Bani Israel. Sikap di digambarkan dengan pernyataan sebagai orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa hanya kelompok mereka masing-masing saja yang akan menikmati kehidupan surgawi. Djohan mengatakan bahwa Alquran dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang beriman, yakni kaum Muslim, orang Yahudi, orang Nasrani, orang Shâbi’în (penganut agama di Bahrain pada waktu itu), dan siapapun mereka, asalkan benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian, seraya melakukan amal kebajikan untuk kemashlahatan sesama, mereka pasti akan memperoleh ganjaran dari Tuhan, tiada rasa takut akan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. Tema ini terpusat pada ayat ke-62.

Tema keenam, yaitu Larangan meniru Bani Israel. Tema ini terpusat pada ayat 120. Kendati demikian, tema ini adalah tema dengan banyak ayat dalam surah ini. Cerita yang cukup banyak tentang kehidupan Bani Israel adalah peringatan dan pelajaran bagi Nabi Muhammad saw agar beliau dan umat Muslim tidak mengulangi perilaku mereka, tidak meniru sikap serakah mereka, dan tidak mengikuti pandangan sempit dan sikap eksklusif mereka.

Tema ketujuh, yaitu Ka’bah sebagai kiblat baru umat Islam, yakni dimulai dengan menyinggung tentang pembangunan Ka’bah sebagai bayt Allah dan kota Mekah yang diharapkan oleh nabi Ibrahim as kelak menjadi kota yang aman dan sejahtera, dan menjadi pusat keagamaan bagi generasi yang datang setelah beliau. Tema ini membahas ayat ke-125 sampai dengan ayat ke-152.

Tema kedelapan, yaitu Membangun Umat Berkualitas. Djohan mengatakan bahwa tujuan umat Islam adalah menegakkan kebenaran. Umat Islam diingatkan untuk selalu berdoa dengan penuh kesabaran dan menghayati hubungan dengan Tuhan dengan penuh kesadaran. Selanjutnya, berkenaan dengan kehidupan bersama, Tuhan juga mengingatkan akan bahaya pola transaksi menindas dalam bentuk praktek riba. Juga ditekankan agar umat Islam menjadi umat yang kuat dan tangguh sehingga mampu mempertahankan diri dari penindasan dan keteraniayaan, mampu menahan diri dari tindakan yang melampaui batas kewajaran dengan mengutamakan perdamaian.

 

Prinsip Kebebasan Beragama

Kemudian, hal terakhir pada tema ini, Djohan mengatakan bahwa prinsip yang harus dihayati umat Islam adalah prinsip kebebasan beragama. Ayat-ayat yang termasuk dalam tema ini adalah ayat ke-153 sampai dengan ayat ke-256. Walau demikian, penulis dapat menyimpulkan, bahwa pada tema ini, Djohan tidak memaparkan semua ayatnya secara menyeluruh, akan tetapi hanya memaparkan sebagian ayatnya saja dari ayat 153 tersebut sampai ayat 256.

Tema terakhir dari surah ini yang dipaparkan oleh Djohan, adalah Iman dan Doa. Djohan mengatakan bahwa bagian akhir surah Al Baqarah kembali menegaskan prinsip kepercayaan umat Islam, yakni keimanan kepada Allah, malaikat, wahyu, kenabian dengan penekanan bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan para nabi. Kemudian diingatkan pula bahwa Tuhan bersikap bijaksana, tidak membebani manusia di luar batas kemampuan mereka, dan mereka memperoleh pahala dari kebaikan yang mereka perbuat dan sebaliknya mendapat hukuman dari kejahatan yang mereka lakukan. Ayat yang dimaksud di tema ini adalah ayat ke-285 dan 286.

Begitulah. Berbekal pengalaman itu dan ditambah oleh tilikan singkat atas beberapa bacaan, Djohan Effendi mencoba merekam pemahamannya terhadap Alquran. Dari bacaan itu ia berharap dapat lebih banyak belajar bagaimana menangkap dan menerjemahkan pesan-pesan Alquran secara lebih tepat. Untuk melengkapi bukunya, ada dua lampiran yang ditambahkannya. Lampiran 1 memuat lima tulisan, yakni (1) Penyempurnaan Diri Insan dalam Perspektif Alquran, (2) Takdir dan Kebebasan dalam Perspektif Alquran, (3) Pluralisme dalam Perspektif Alquran, (4) Kaum Mustadh’afin dalam Perspektif Alquran, dan (5) Quranisme versus Qarunisme.

Adapun lampiran 2, adalah terjemahan puitik juz 30. Lampiran Juz ‘amma ini dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa Alquran tidak cukup didekati hanya dengan rasio tapi juga semestinya dengan rasa. Dengan menghayati aspek puitik Alquran, kedalaman keberagaman pembaca lebih tersentuh dan tergugah. Apa yang dikerjakan dalam buku ini yaitu membuat terjemah puitik juz 30 Alquran, akan dilanjutkan sehingga selesai semua 30 juz. Ini dikerjakan saat Djohan sakit dan dalam proses penyembuhan. Ketika Djohan wafat manuskrip itu ada pada murid-muridnya yang siap menerbitkannya dengan judul “Pesan Samawi: Terjemah Puitik Quran Suci”.

Kedua buku ini tergolong dalam buku tafsir. Melalui buku ini Djohan Effendi menuntun pembaca untuk mencerna makna firman Tuhan, dengan ulasan yang tak panjang lebar. Hal ini menjadi solusi bagi mereka yang sibuk dengan rutinitas harian namun ingin memahami kandungan Alquran. Mereka tak harus menyediakan banyak waktu untuk membaca berjilid buku-buku tafsir yang lain. Selain menggunakan kata-kata indah, Djohan juga melakukan pemuisian terjemah atau lebih tepat penafsiran Alquran. Djohan mampu menyusun karya tafsir yang biasanya berbentuk prosa ke dalam bentuk puisi yang indah. Bagi pembaca yang berminat menyelami Alquran, kedua buku ini ibarat gapura untuk memulai langkah dalam memahami Alquran.

 

Pesan Samawi: Terjemahan Puitik Quran Suci

Akhirnya, seperti sudah disebut di atas, setelah buku “Pesan-pesan Alquran: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci” ini terbit (2012), Djohan yang dalam proses penyembuhan sakit kanker leukimia sampai menjelang wafat, ia menyelesaikan terjemah puitik Alquran yang sekarang tersedia manuskripnya berjudul “Pesan Samawi: Terjemah Puitik Quran Suci.

Dalam masa sakitnya yang Panjang Djohan menyelesaikan terjemah puitik Alquran ini, yang sekarang menjadi warisan tak ternilai yang berada di tangan murid-muridnya dan siap diterbit pada masanya nanti. Semoga ini bisa terwujud segera. Lahu Al Fatihah untuk Allah-u yarham Djohan Effendi. [BMR]

 

Budhy Munawar Rachman, Pengajar STF Driyarkara Jakarta

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed